Penulis : Oka Aurora
 Penerbit: Noura Books
Cetakan: Pertama, Mei 2013
Jumlah hal. : 343 halaman

Untuk pertama kalinya sejak membuat blog ini saya memberi nilai di atas 8,5 untuk sebuah buku yang ditulis oleh penulis Indonesia. walau sejujurnya, cover buku ini menurut saya kurang
menarik. Warnanya terlalu gelap. Kurang cerah. Kurang merepresentasikan apa
yang disajikan dalam cerita ini. Hal ini sempat mempengaruhi minat saya untuk membaca buku ini.
Bahkan jujur di awal membaca novel ini pun saya sempat
merasa bosan. Membuat perhatian saya teralih ke novel lain. Dan kini setelah
berhasil menamatkannya dalam waktu 3 jam di sela perjalanan kembali ke Bandung
setelah mudik lebaran di Majene, maka saya harus mengakui bahwa kali ini saya
ditemani oleh salah satu teman seperjalanan terbaik yang pernah saya punya.
Novel ini dibuka dengan situasi latihan marching band
disertai berbagai istilah yang sangat asing bagi saya. Tapi ini salah satu
kesenangan yang saya temukan dalam membaca yaitu mendapat ilmu baru yang tidak
pernah saya kenal sebelumnya. Nah, setelah itu menyusul deskripsi beberapa
anggota marching band. Perlu diingat, dalam novel ini penulis menggunakan kata
ganti orang ketiga sehingga tokoh yang bisa dieksplorasi hidup, pikiran dan
sudut pandangnya menjadi lebih banyak. Hal ini jelas bisa menjadi keuntungan
sekaligus menjadi petaka jika penulis tidak mampu mengolahnya dengan baik.

Ada beberapa tokoh yang menjadi fokus dalam novel ini.
Ada Rene, pelatih baru Marching Band Bontang Pupuk Kaltim yang memiliki
karakter kuat dan dominan. Ia tegas, keras kepala, dan pantang menyerah. Ia
sudah sangat lama menghabiskan waktunya di dunia Marching Band, bahkan di
Amerika ia sempat bergabung dengan salah satu marching band profesional
berskala internasional. Namun, tantangan yang ia hadapi di Bontang tidak mudah.
Dengan karakter dan kebudayaan yang berbeda dari Jakarta, Bontang menghadirkan
kesulitan tersendiri bagi Rene untuk membuat semua orang punya percaya diri,
bahwa dari mana pun asal mereka, mereka bisa menang. Rene harus mampu
menyesuaikan diri dengan pribadi dan karakter yang berbeda yang dimiliki oleh
pemain dan staff Marching Band Bontang Pupuk Kaltim.
Ada pula Elaine, anak tunggal yang ikut pindah dari
Jakarta ke Bontang untuk mengikuti sang ayah yang dipindah tugaskan ke Bontang.
Ia meninggalkan zona nyamannya dan akhirnya menemukan Marching Band Bontang
Pupuk Kaltim sebagai dunianya yang baru.ia meninggalkan teman-temannya, klub
musik yang dicintainya. Syukurlah perhatian ibunya dapat membantunya menghadapi
semua tantangan dalam proses adaptasi yang dijalani Elaine. Namun, ketika ia
menemumakan mimpi baru bersama Marching Band Bontang Pupuk Kaltim, ia pun
menyadari  bahwa mimpi tidaklah mudah
untuk diraih.
Selain Rene dan Elaine ada pula Tara. Kehidupan Tara
mengajarkan kita tentang bahwa terkadang hidup kita yang tadinya baik-baik saja
bisa tiba-tiba terbalik dan menjadi sangat susah dijalani. Tara yang harus
kehilangan pendengaran sekaligus Ayahnya dalam sebuah kecelakaan. Setahun
kemudian dia harus rela berpisah dari ibunya yang berhasil memperoleh beasiswa
ke Inggris. Ia pun tinggal bersama Opa-Omanya di Bontang. Namun sejak
kecelakaan itu Tara bukan lagi Tara yang dulu. Ia yang pering menjadi tertutup
dan emosional. Namun ia akhirnya mencoba untuk menata kembali hidupnya dan
bergabung dengan Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. 
Lain Tere lain pula Lahang. Lahang adalah bagian dari
color guards tim Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Lahang, anak Dayak yang
hidup berdua dengan sang ayah sejak ibunya meninggal. Ia menyimpan sesal
terkait kematian ibunya. Dan kini sang ayah menderita sakit parah. Lantas
sanggupkah ia membagi dirinya di antara dunia tarian yang ia cintai dengan
keinginannya untuk selalu menjaga sang Ayah? 
Satu persatu masalah dalam kehidupan tokoh-tokoh ini
pun dikuak oleh penulis. diceritakan bahwa latihan yang keras membuat Tara
tertekan. Ia pun berfikir untuk menyerah. Dan di lain pihak dia masih menyimpan
rasa bersalah atas kematian sang ayah. Ia pun merasa bahwa latihan Marching
Band sangat berat terutama bagi dia yang pendengarannya sudah hilang. Dan ia
harus bertarung dengan dirinya sendiri. Bertarung melawan keterbatasannya dan
luka hatinya. Namun benarkah keputusannya untuk berhenti? Itukah yang terbaik
untuknya?
Elaine, hidupnya nyaris sempurna. Cerdas, cantik dan
berbakat. Namun apa semua kelebihan itu membuat mimpi serta merta menjadi mudah
di raih. Butuh keberanian untuk meraih impian. Dan ternyata tantangan itu
datang dari sang Ayah. Ayahnya tidak setuju jika Elaine aktif di Marching Band.
Ia ingin Elaine jadi ilmuwan. Maka kisah Elaine mungkin juga adalah kisah dari
kehidupan kita saat impian kita harus terbentur dengan impian orang tua,
harapan mereka, dan apa yang mereka pikir terbaik untuk kita.
Semua masalah ini pada akhirnya mempengaruhi
penampilan Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Mampukah mereka tampil di Grand
Prinx Marching Band (GPMB) yang diadakan setiap tahun? Siapkah mereka? Mampukah
Rene membawa timnya tampil memukau di Jakarta? Mampukah mereka mengejar mimpi
di bawah atap yang sama, di bawah naungan Marching Band Bontang Pupuk Kaltim?
Buku ini akan membawa emosi kita untuk memandang
masalah yang bisa muncul dalam sebuah kelompok. Sekelompok orang yang tengah
memperjuangkan mimpinya, membuktikan diri, dan berusaha membanggakan
orang-orang terkasih. Kita akan bisa meresapi beban yang ditanggung seorang
Lahang saat berjuang meraih impiannya. Dan saya pun menangis bersama Elaine
yang terjebak diantara baktinya pada sang Ayah dan mimpinya tampil bersama
Marching Band. Saya pun belajar memahami pikiran-pikiran seorang Tara yang
awalnya memiliki indra yang sempurna dan hidup yang normal namun kemudian harus
menerima hidup yang berbeda saat salah satu indranya tak lagi berfungsi dengan
baik.
Dari segi kekuatan cerita harus saya beri dua jempol.
Mungkin untuk cetakan berikutnya, sampulnya bisa didesain lebih menarik. Dengan
begitu novel ini akan semakin menarik perhatian dan akan semakin banyak orang
yang bisa terinspirasi oleh cerita ini.
Untuk setting tempat, maka membaca buku ini akan
menambah khasanah kita tentang satu lagi daerah di Indonesia beserta budaya dan
ke-bhineka-an yang melingkupinya. Ya, kota Bontang mungkin masih asing bagi
beberapa orang. Namun tidak begitu asing bagi saya yang pernah tinggal di
Kalimantan Timur. Dan kembali saya harus mengacungi jempol untuk dialog yang
dituliskan dalam buku ini. Dialognya menggunakan logat yang memang digunakan di
Kalimantan. Maka saya cukup yakin bahwa penulis tidak hanya melakukan riset
tentang Marching Band Pupuk Kaltim ini tapi juga melakukan riset tentang budaya
dan kondisi masyarakat di Bontang.
Ah, bangga saya pada penulis Indonesia yang bisa
menulis sebagus ini. 🙂 
Nah, jika harus memberi nilai untuk buku ini dalam
skala 1-10, maka saya memberinya nilai 8,75. Kelak mungkin bisa jadi 9 jika
sampulnya dibuat lebih menarik. He..he.. (^_^)v

Quote:

Keberuntungan adalah kesiapan dalam kesempatan. Kesempatan sebenarnya selalu ada, tetapi hanya orang2 yg siap jasmani dan rohani yg bisa cpat mendeteksi kesempatan.

Betapa musik bisa lebih halus berkata, sekaligus lantang bermaksud.