“That’s why gue nggak percaya
bakat. My talent is the passion. Bakat
itu kita yang ciptakan, bukan anugerah semerta-merta dari langit” ( Hal. 33)


Penulis:
Ifa Inziati
Penyunting:
Dila Maretihaqsari
Perancang
sampul: Belinda C.H
Pemeriksa
Aksara: Nunung Wiyati & Sheraynardia
Penata
aksara: Gabriel
Penerbit:
Bentang Belia
Cetakan:
Pertama, 2014
Jumlah
hal.: vi + 230 halaman
ISBN:
978-602-1383-03-2
Kamu
itu cewek paling aneh yang pernah kutemui.

Nyebelin, tapi bikin penasaran.
Cantik, tapi belagu.
Ngeselin, tapi pengin dijadiin pacar.

Sebenarnya, kamu ini terbuat dari apa, sih?

Kamu membuatku membangun harapan sekaligus meruntuhkannya. Seluruh impian yang
sudah kubangun seumur hidup buyar seketika.

Hanya butuh waktu 28 detik untuk secangkir kopi yang nikmat. Tapi, untuk meraih
hatimu? Berapa lama lagi harus kukorbankan egoku?

***

“….
Kita memang semestinya melewati beberapa tahap dulu sebelum menjadi diri kita
yang sekarang” (hal. 90)

Mengambil setting
cerita di sebuah kedai kopi di kota kembang. 
Kopi Kasep nama tempat itu. Menggunaka kata “Kasep” dari bahasa Sunda
yang berarti “Tampan”. Di dalam tempat inilah si pencerita menuturkan kisahnya.
Dengan berfokus pada tokoh Candu, barista Kopi Kasep.
Dengan
menggunakan sudut pandang Simoncelli, mesin espresso yang ada di Kopi Kasep
kisah tentang pershabatan, cinta dan cita-cita pun dituturkan. Dinamika dalam
hubungan staf Kopi Kasep ditampilkan menarik. Simoncelli sebagai pengamat menceritakan
cukup detail interaksi di antara mereka. Ada Candu, sang Barista. Ada Satrya si
ahli latte art. Ada Nino, kasir pendiam nan serius. Dan Winona, waitress yang
ceria dan penuh semangat. 
Diceritakan
bagaimana mereka saling mendukung. Dan bagaimana perasaan mereka satu sama
lain. Ada cinta, ada perhatian, ada rasa iri yang terselip dan tentu saja ada
kepedulian.

 “Dalam
setiap nama besar, selalu ada beberapa orang di belakang yang membangunnya.” (Hal.
89)

Kemudian
muncul tokoh baru bernama Rohan. Gadis SMA yang punya “bakat menarik” yang
disebut Sinestesia. Saat mendengar
sebuah kata dia akan menerjemahkannya menjadi warna. Bakat yang unik dan
menarik. Sayangnya ia belum menemukan hal yang ia cintai. Belum menemukan
passionnya. Ia pun menantang Candu dengan berkata bahwa ia ingin menukar
bakatnya dengan semangat yang Candu miliki.

“Saya
lebih baik punya semangat daripada bakat.” (Hal. 27)

Ini
kemudian mengganggu Candu. Ia yang selalu bersemangat mengejar sesuatu dan
melakukan hal yang ia cintai tidak bisa memahami pemikiran Rohan. Candu pun
semakin memperhatikan Rohan. Di waktu yang sama Candu dan seluruh staf Kopi
Kasep sibuk mempersiapkan diri untuk Nusantara Barista Tournament (NBT).
Hingga
setelah NBT muncul sebuah kenyataan pahit. Seseorang dari mereka ada yang
berkhianat. Membuat seluruh persiapan untuk mengikuti NBT jadi sia-sia. Siapakah
dia? Bagimana Kopi Kasep setelah itu?

“Kamu
nggak mungkin tahu apa itu lenyap kalau kau tidak pernah menemukannya sejak
awal. Kamu boleh sadar kalau kamu cinta saat itu ada, tapi kesadaran saat tiada
itu … …. seperti panah yang melesat dari jauh dan menusuk kepala. Tak
terdengar, hanya langsung sakit.” (hal. 188)

***

“As
long as there was coffee in the world, how bad things could be?” – Cassandra
Clare (Hal. 124)

Novel
ini adalah pemenang pertama dalam kompetisi menulis “Passion Show” yang dibuat
oleh Bentang Pustaka. Buku ini bercerita tentang kehidupan di sebuah kedai kopi
beserta seluruh dinamikanya. Sayangnya tidak banyak filosofi terkait kopi yang
dituturkan. Bahkan esensi judulnya “28 detik” masih kurang diketengahkan.
Selain
itu kisah tentang keunikan Sinestesi kurang dieksplorasi. Ini jadi terasa
seperti tempelan. Saya bahkan mencoba menggoogling lebih jauh tentang
Sinestesia ini. Tidak ditegaskan bahwa Sinestesia adalah gangguan genetika. Padahal
ada Tante Sheryl yang masih keluarga Rohan tapi tidak mengalami hal ini.
Tapi
saya suka dengan sudut pandang yang dipilih oleh penulis. Bercerita dari sudut
pandang seorang..eh..sebuah mesin espresso. Membayangkan benda-benda punya jiwa
dan bisa bercerita itu rasanya lucu tapi menyeramkan sih (^_^)
Di halaman 66, penulis
menyampaikan dengan  menarik tentang
potensi kopi di Indonesia.

“ …, sebetulnya Indonesia punya
potensi yang besar banget buat jadi Negara Kopi”

Tapi
saya mau memprotes sebuah pendapat yang dikemukakan Candu di halaman 151. Ia
berkata,

“For
me, coffee is not just a drink – it’s a class, a personality. Kopi bisa
mengatakan tentang diri peminumnya, sampai ada studi yang benar-benar membahas
tentang ini. Jadi jangan salahin gue kalau keliru, ya.”

Bagi
saya pribadi ini perlu diperdebatkan *walaupun Candu sudah menyampaikan bahwa
bisa saja dia keliru*. Setiap orang punya pengalaman yang berbeda saat mencoba
kopi pertama kalinya. Ini biasanya akan mempengaruhi seleranya terhadap kopi.
Orang yang suka kopi hitam bukan berarti dia nggak feminim. Atau kalau
laki-laki  menyukai hazelnut latte maka kesannya jadi aneh. Nah, ini menurut saya masih
bisa diperdebatkan dan kadang rasanya menyebalkan. Karena kesannya orang yang
tidak menyukai kopi hitam dianggap tidak benar-benar suka dengan kopi.
Hm..secara keseluruhan
saya suka dengan novel ini. Cara Mbak Ifa Inziati bercerita manis. Pas. Tidak
terlalu berbunga-bunga tapi juga tidak terlalu serius. 
Sayang
deskripsi tokohnya belum begitu lengkap. Bayangan tentang tokoh Candu dan
seluruh crew Kopi Kasep masih kurang
bisa membantu saya menciptakan bayangan tentang tokoh-tokoh ini. Lucunya
sahabat Rohan, deskripsi fisiknya cukup jelas dan berkesan karena unik. (^_^)v
Terakhir,
satu hal lagi. Saya suka banget dengan sampul novel ini. Manis.

 “…. Nih, nggak ada rasa yang cuma satu. Di
balik benci pasti ada cinta, di balik cuek pasti ada sayang, masa di balik
pahit aja nggak bisa ada rasa manis? Makanya, kamu harus tahu cara menikmatinya
dulu. Hidup juga sama kayak kopi, kerasa pahit kalau nggak tahu cara
menikmatinya.” (hal. 118)

***
 

Dipost di instagram @atriasartika

Wangi apa itu yang menguar?
Ah, semerbak khas kopi datang
Bersama cerita tentang cinta
Serta kisah perjuangan meraih cita

Ah, kisah tentang cinta
Tidak akan pernah cukup dirangkai
Hanya dalam satu rasa

Sebab cinta selalu penuh warna
Kaya rasa & jadi pusat cerita

Bahkan kisah tentang sebauh mesin espresso sekalipun akan selalu menyebut kata itu

***

Quote

“Bisa
hidup dan berjuang sendiri bukan berarti lo nggak butuh dukungan luar. Lo nggak
bisa sukses sendirian terus, Can.” (Hal. 207)

“Nggak
pernah ada akhir buat kebahagiaan” (Hal. 221)

“….
Itulah bedanya perasaan senang dan sedih. Senang yang diulang-ulang akan terus
menghasilkan kesenangan yang baru, sedangkan sedih akan selamanya sedih.
Makanya lebih banyak orang yang tidak tahan dengan kesedihan karena pada
dasarnya kita semua anti-kebosanan” (Hal. 184)