“Balas
dendam adalah sesuatu yang sia – sia, sama sekali tidak berguna. Ketika ia
berusaha menyakiti orang yang dicintainya, ia malah merasa sakit sendiri.”
(Hal. 120)

Penulis: Monica Anggen
Desainer Kover: Steffi
Penata isi: Abdurrahman
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah: vi + 234
halaman
ISBN: 978-602-251-943-0
Kenapa
jadi begini? Kenapa semuanya jadi kacau seperti ini?
Aku telah kehilangan segalanya. Aku tak lagi punya daya untuk menahannya. Semua
orang seakan berkata… Aku tidak pantas bahagia! Aku tidak boleh bahagia walau
hanya sebentar saja!
-Cho
Hye Mi –
Segala hal akan
kulakukan. Segala yang mampu kuberi akan kuberi, meski tak ada cinta itu di
hatimu. Semua itu kulakukan hanya demi membuatmu bertahan di sisiku. Agar aku
tetap bisa melihat mentari di senyum hangatmu. Agar aku bisa membuatmu tahu
betapa aku mencintaimu. Karena aku ingin menghabiskan sisa usiaku bersamamu.
Hanya bersamamu. Hanya denganmu. Aku tidak akan bisa bertahan tanpamu di
sisiku.
-Seong So Hyun-
Seong So Hyun mengira
segala yang selam ini diperjuangkan akan bisa diraihnya dengan mudah.
Pernikahan menjadi sesuatu yang mendebarkan untuk ditunggu. Tapi sebelumnya, ia
harus mencari waktu yang tepat untuk melamar Cho Hye Mi. Sayangnya, tidak
pernah ada waktu yang tepat. Harusnya, ia tidak menundanya. Karena penundaan
mendatangkan masa lalu yang sama sekali tak disangkanya.
30 Hari!
Seong So Hyun hanya
punya waktu 30 hari untuk menyelamatkan Hye Mi. Namun siapa yang ingin membalas
dendam pada Hye Mi? Siapa yang ingin menghancurkan hidup Hye Mi dalam 30 hari?
Benarkah sosok masa lalu itu ingin menghancurkan Hye Mi? Atau jangan –
jangan…
***
Kehidupan Cho Hye Mi yang tenang
dan aman karena begitu dicintai oleh Seong So Hyun menjadi kacau balau. Sosok
dari masa lalunya datang. Shin Yong Jae, laki – laki yang hampir menjadi
suaminya itu kini datang kembali. Membuat Hye Mi semakin menyadari bahwa ia
masih mencintai Yong Jae. Itulah yang membuatnya belum kunjung jatuh cinta pada
So Hyun.
Namun kedatangan Yong Jae tentu
bukanlah dengan maksud baik. Ia ingin membalas dendam pada Hye Mi. Kemudian
kebenaran yang terjadi empat tahun lalu yang menyebabkan mereka berpisah tanpa
saling mencari pun terkuak. Membuat rasa bersalah Hye Mi membesar. Namun di
lain pihak ia pun tidak sanggup melepaskan posisinya sebagai manager Shilla’s
Residencea dan mematahkan hati So Hyun.
Hye Mi pun berada di posisi yang
sulit. Kemudian sebuah tragedi terjadi. Pembalasan dendam Yong Jae menemukan
akhir cerita. Meninggalkan semua yang terlibat dalam permainan itu sakit hati.

***
Cerita dibuka dengan adegan
kaburnya Hye Mi dari pesta pernikahannya. Namun sayangnya hal itu tidak cukup clear dijelaska. Cerita tentang
ketakutan Hye Mi belum mampu menjadi alasan yang cukup kuat untuk keputusannya.
Keraguan akan kondisi ekonomi ataupun atas cinta Yong Jae seolah tumpang tindih
tapi tidak mampu terjabarkan dengan baik dalam seluruh cerita.
Penuturan dalam novel ini masih
terkesan kaku dan agak berputar – putar. Jumlah halaman 234 dengan tulisan yang
cukup kecil – kecil agak membuat bosan.
Namun sesungguhnya keseluruhan
konflik cerita menarik. Apa yang terjadi antara Hye Mi dan Yong Jae di masa
lalu serta kehadiran So Hyun menjadi drama yang menarik. Kemudian ending cerita
diakhiri dengan sedikit tidak terduga.
Sayangnya, karakter Hye Mi dan Yong
Jae sedikit kurang konsisten. Sikap Yong Jae yang cenderung rasional dan arogan
kemudian menjadi sosok yang mudah emosi bahkan menangis terasa kurang konsisten
meski punya alasan atas perubahan perilaku ini. Begitupun dengan Hye Mi. Sosok
yang digambarkan penyendiri, mandiri, dan kuat ini kok bisa ya merasa sangat
takut kehilangan posisinya sebagai manager hingga secara impulsif mengirim
pesan ke So Hyun.  Kesannya karakter yang
berusaha ditampilkan sejak awal cerita mendadak menguap begitu saja.
Tapi karena ide cerita cukup
menarik dan cerita ditutup dengan tidak terduga, maka membaca novel ini hingga
akhir pun tidak akan membuahkan penyesalan

 “Sebagai manusia, kita
tidak dapat mengendalikan arah angin. Kita tidak punya kuasa dan kekuatan untuk
melakukan hal itu. Tapi kita dianugerahi kemampuan dan otak agar bisa mengatur
layar kapal yang kita naiki sehingga kita tetap bisa sampai di tujuan kita
meski angin dan badai menerjang kita” (Hal. 120)

***