Kepadamu wanita muda
mungil di sudut jalan Ratulangi.
Hai, bagaimana
siangmu? Masih sibuk berkutat di depan komputer? Berjibaku dengan mouse. Terpaku
menatap TKP kasus pembunuhan di sebuah game?? Ha..ha.. ya..ya.. aku selalu
mengenalmu seperti itu. Tidak ada teman perempuan lain yang kegilaannya pada Point
Blank bisa membuatku geleng-geleng. Tidak ada teman perempuan yang benar-benar
konsisten memecahkan kasus-kasus dengan menemukan berbagai barang tersembunyi
di layar penuh warna itu.
Ah, aku merindukanmu
sahabatku.
Merindukanmu yang
selalu membesarkan hatiku. Merindukan rumahmu yang jadi tempat pelarianku saat
semua masalahku membesar di rumah. Merindukan ibumu yang menyayangiku bak
anaknya sendiri. Tahukah kau, moment ulang tahun ibumu di Imperial yang
memperkenalkanku pada keluargamu sebagai anak tambahannya. Padahal saat itu,
aku hanyalah satu-satunya perempuan berjilbab dan berwajah Indonesia di sana.
Ha..ha.. I love that moment :*

Aku merindukanmu, Ika. Merindukan setiap sesi sharing yang lebih banyak
membahas masalahku. Apakah aku sudah cukup banyak mendengarkanmu? Apakah aku
sudah cukup baik mendampingimu?
Ah, aku selalu berkata bahwa di hari ulang tahunku dan ulang tahunmu
adalah hari istimewa. Hari dimana kita saling memprioritaskan. Hari di mana aku
ingin menghabiskannya denganmu, semoga begitupun bagimu. Ha..ha.. sudah berapa
tahun kita menjalani ritual itu? 4 tahun? 5 tahun? 6 tahun? Aku hanya selalu
bisa berkata, terima kasih selalu menyediakan waktu-waktu itu untukku. Semoga
kelak kita masih bisa menjalani hari serupa itu.
Mungkin 5 atau 6 tahun lagi, kita merayakannya dengan lebih ramai.
Memang hanya kamu dan aku. Tapi sambil membawa anak masing-masing mungkin?
Ha..ha.. Calon suamiku harus tahu bahwa ulang tahunmu dan ulang tahunku adalah
khusus untuk kita. Paling tidak,kita punya waktu berdua di hari spesial itu.
Ah, aku merindukanmu, Ika. Terutama saat ini, saat aku tahu kamu selalu
menjadi 2nd opinion-ku. Orang yang aku tahu sangat paham karakterku dan mampu
menjadi cermin yang memantulkan bagian yang tak dapat kulihat. Aku selalu
bersyukur memilikimu, terutama beberapa waktu lalu saat berkata, “Aku takut,
Tria. Takut kamu mengambil resiko yang terlalu besar. Takut kamu akan menyesali
keputusanmu.” Aku tahu itu bukan tentang keraguanmu pada kemampuanku menentukan
pilhan. Tapi itu karena kamu tahu betapa aku sering menuntut diri ini terlalu
keras.
Ah, aku selalu bersyukur karena kamulah teman sekelas yang punya satu
hobi denganku di kelas 1 SMA dulu. Yup, komik yang menyatukan kita. Ingat komik
yang selalu kamu bawakan untukku setiap kali serialnya yang terbaru muncul. “Love
kilometer”. Ah, aku selalu bersyukur karena kamu duduk di dekat bangkuku.
Sering mengejekku saat melihatku diam-diam membaca komik di laci meja. Ha..ha..
Aku merindukanmu, Ika. Merindukan semua kegilaan kita. Cuma kamu yang
tahu semua hal gila yang kulakukan selama SMA dan kuliah. Dan tetaplah menjadi
orang yang selalu tahu.
Ah, I love you. *pasti kamu langsung geli sendiri* tapi kamu tahu,
hanya di depan umum seperti ini aku bisa berkata seperti itu. Karena jika
mengatakannya di depanmu aku sendiri pun merasa geli. Ha..ha..
Sekali lagi aku merindukanmu. Bahkan jarak bukan menjauhkan kita namun
menjadi perekat bagi persahabatan kita. Tetaplah bertahan menjadi kawan
terbaikku, event aku tidak menjadi manusia yang lebih baik sekalipun.
Jangan lupa simpankan novel-novel terbarumu untuk ku culik nanti. Dan siapkan
Cocacola di lemari es-mu menungguku datang berkunjung. Dan titip salam sayang
untuk macea 😀
With Love,
Atria 
ha..ha..kita tidak pernah ingat untuk mengambil foto selfie saat sedang bersama