Teruntukmu
saudariku, kawan berbagi mimpiku
Saat mengingat nama Diena Rifa’ah, maka yang
paling pertama terlintas adalah sosok berkacamata dengan talenta menulis.
Mengenalmu dalam kebersamaan di Mushallah Al-Iqra saat kita masih memakai
seragam putih abu-abu adalah sebuah cerita yang menarik dalam hidupku. 
Ingatkah bahwa kita pernah berbagi mimpi
yang sama? Mimpi untuk menjadi penulis. Mimpi yang kini berhasil kau wujudkan
dengan terbitnya buku yang engkau tulis. Ingatkah moment saat pertama dan
terakhir kalinya kita mengikut lomba yang sama? Kamu menjadi pemenang pertama.
Sedangkan aku? Tetap bukan siapa-siapa.
Ha..ha.. hingga kini pun aku masih digigit
iri saat mengetahui pencapaianmu. Tapi aku pun tahu bahwa engkau memang layak
untuk semua pencapaian itu.
Kini di dunia yang kita akrabi bersama,
engkau sudah berada di bawah lampu sorot bersama penulis-penulis lain yang
kukenal karyanya. Sedangkan aku? Aku tetap saja hanya menjadi pemeran pembantu
bagi sosok-sosok itu. Tapi tenang saja, aku senang dengan yang kujalani
sekarang. Menjadi blogger buku, dan ikut memberi kontribusi bagi dunia buku
Indonesia. Menjadi pendukung bagi penulis-penulis sepertimu. Mengajak orang lain membaca karyamu dan karya penulis Indonesia lainnya.

Salah satu moment saat kita benar-benar
dekat adalah saat kita berada di divisi Dakwah dalam kepengurusana rohis.
Kita berbagi tugas bersama menulis buletin bulanan yang hanya selembar namun
perjuangannya tidak mudah bagi penulis dan layouter pemula seperti kita. Dan
konyolnya, sesi kerja untuk menyelesaikan buletin itu lebih banyak kita
habiskan dengan berbagi kisah.Ha..ha.. *event akhwat pun tetap saja senang ngobrol*
Aku selalu iri pada kecintaan keluargamu
pada buku. Hal yang tidak kutemui di keluargaku. Namun saat mendengar curhatmu, aku menemukan sebuah kesamaan. Aku bisa memahami
perasaan sebagai “makhluk aneh” dengan tampilan kita yang berbeda dan minta
yang cukup berbeda dengan remaja-remaja seusia kita saat itu. Semua hal itu
yang membentuk kita kini. Semua hal itu juga yang menjadi perekat bagi hati kita.
Banyak hal yang membuatku iri padamu selain
pencapaianmu dalam dunia menulis. Aku iri pada kemampuanmu untuk istiqamah di
jalan dakwah. Keberanianmu mempertahankan apa yang menjadi prinsipmu. Sedangkan
aku? Aku kalah di sejumlah pertempuran itu.
Saudariku, perempuan yang selalu kuajak
berbagi mimpi. Teruslah istiqamah dalam medan dakwah. Do’akan aku yang tidak
lagi bergabung di barisan itu. Do’akan kelak Allah masih mau mengamanahiku
lagi.
Saudariku, aku mencintaimu karena Allah. Dan
aku mensyukuri rencanaNya yang memberiku kesempatan mengenalmu dan belajar
banyak dari keteguhan dan talentamu.
Kukirim surat ini bersama kecup sayang
dariku. Semoga suatu hari kita bertemu kembali dan bisa kembali berbagi cerita
tentang mimpi-mimpi kita. :*
With Love,
Atria