Dear
Dy Lunaly,
Lucu rasanya menulis surat cinta ini
sedangkan dirimu sedang duduk di depanku. Celotehmu memenuhi gendang telingaku.
Dan satu hal, aku tidak bisa berhenti memanggilmu dengan panggilan Mbak Dy
meskipun aku sudah mengenalmu lebih dekat. Ini karena aku mengenalmu pertama
kali lewat karyamu.
Ya, seorang blogger buku sering kali
mengenal seseorang awalnya hanya karena karyanya. Dan suatu hari ketika Allah
menakdirkan aku pun berkesempatanmu mengenalmu langsung. (^_^)
Ingatkah pertemuan pertama kita? Lupa? Apa
sih yang tidak Mbak Dy lupakan? :p
Mari kuingatkan? Pertemuan pertama kita
adalah saat Mbak Dy mengisi kelas Akademi Bercerita Bandung. Dirimu yang lugas
dan sedikit malu-malu berbagi tentang tips menulis membuatku menahan senyum.
Ha..ha.. *murid yang jahat* Setelah itu, aku meracunimu untuk membeli buku dan
membuat member di Rumah Buku. Dengan iming-iming diskon. Ha..ha..

Setelah berbelanja, aku pun mengajakmu duduk
cantik di sebuah kafe terdekat. Awalnya demi charger dan WiFi, ternyata
bukannya sibuk dengan laptop masing-masing seperti rencana kita semua, kita
malah bergosip. Ha..ha..
Mulai dari gosip tentang dunia penerbitan
dengan berbagai dinamikanya, tentang buku-buku yang keren bagi kita hingga
berujung pada curhatan pribadi. Tentang hubungan dengan mantan *dalihnya sih
karena kita lagi ngebahas buku baru berjudul Mantan yang memuat tulisan Mbak
Dy* Ha..ha.. Aneh ya. Kok bisa dipertemuan pertama obrolan seperti itu muncul. Sungguh sebuah perkenalan yang hebat (^_^)
Setelah itu ada kejadian lucu tentang taksi
yang Mbak pakai untuk ke travel karena harus segera ke Jakarta. Taksi itu kita
stop bersama dan tanpa ba-bi-bu lagi langsung ditumpangi oleh Mbak. Kita lupa
bertanya tentang argo. Dan ternyata pak supirnya sedang butuh uang, sehingga
seenaknya mengenakan argo preman. Ha..ha.. Maaf ya, mbak (>_<) aku tak
berpengalaman tentang taksi, maklum diriku hanya seorang angkoters.
Dan setelah itu, obrolan kita berkembang
sampai akhirnya Mbak Dy pindah untuk menetap di Bandung. Setelah itu,
persahabatan ini pun terjalin.
Aku menyukai setiap diskusi kita. Sesi nginep
di rumah Mbak Dy pun sangat menyenangkan. Begadang demi membahas buku, jodoh
dan sebagainya. Sampai akhirnya aku menyerah dan jatuh tertidur duluan. Sedangkan
dirimu lanjut membaca salah satu seri Supernova. Lucunya, begitu aku terbangun
pagi hari, dirimu langsung menumpahkan semua pendapatmu tentang buku tersebut.
Ha..ha.. Pasti menunggu semalaman ya agar bisa ngomel-ngomel.
Hm..di surat ini aku mau ngucapin, terima
kasih untuk semua waktu menyenangkan yang kita lewati. Terima kasih untuk
hadiah buku yangb bertumpuk-tumpuk darimu. Kalau mau ngosongin rak buku, aku
harus jadi nama pertama yang terlintas ya 😉
Maaf jika belum bisa jadi teman yang baik.
Maaf jika sering kali tanggapanku cukup sadis untuk “calon bayimu”. Aku percaya,
Mbak Dy paham bahwa itu karena aku mau orang-orang  jatuh cinta pada karya, Mbak (^_^)
Ingat, jangan lupa target 2015 ini. Terbitkan
buku Best Seller (^_^)9
Aku akan menjadi salah satu pendukungmu 😉
With Love
Atria
Perempuan yang akhir-akhir ini merecoki waktumu
Aku & Mbak Dy :*