Untuk
seorang adik yang punya senyum ramah,
Apa
kabar? Coba tebak, kita baru bertemu berapa kali?
Ha..ha.. iya, baru sekali. Lantas apa yang
bisa kutuliskan untukmu sosok yang baru sekali kutemui, yang lama pertemuannya
pun tak lebih dari 4 jam.
Aku yakin mereka (dan dirimu) akan
menebak-nebak apa yang akan kutuliskan untukmu. Apa aku cukup mengenalmu? Apa yang kutahu tentang seorang gadis mungil yang duduk di dalam bendi yang sama denganku. Gadis yang menikmati bunyi langkah kuda yang sama.


Ah, izinkan aku membagi pengetahuanku
tentangmu. Dian, adalah panggilanmu. Seorang jurnalis kampus yang sering
berjibaku dengan “deadline” dan tentu mengenal banyak wajah yang kau sebut “nara
sumber”. Engkau seorang gadis yang tengah berusaha memperbaiki diri, menyakini
kewajibanmu tentang hijab dan mencoba memenuhinya. Jilbabmu selalu terpasang
rapi dan kini belajar mengganti rok dan kemeja dengan baju gamis. Semoga
dimudahkan ya. Oiya, pesanku, jangan lupakan kaos kaki ya. Biar tertutupmu kian
paripurna (^_^)
Aku lebih suka mengingatmu sebagai gadis
manis yang ramah. Orang yang menyapaku pertama kali. Orang yang kukuntit saat
bergabung dalam acara Kompa Dansa Mandar untuk pertama kalinya. Tak ada wajah
yang kukenali. Dan hanya sedikit senyum ramah yang tertangkap mataku. Engkau
bahkan menggandeng tanganku. Meningkatkan percaya diriku, memberi tahuku bahwa
aku diterima dengan hangat.
Ah, engkau perempuan yang kuyakini punya
jiwa sosial yang menghangatkan hati. Karenanya aku pun membuatmu mengenal
komunitas Beruang Matahari. Dan kini aku ingin mengucapkan terima kasih untuk
kesertaanmu. Terima kasih sudah ikut mengukir senyum untuk adik-adik di panti
asuhan.
Setelah ini apa lagi yang bisa kutuliskan
untukmu?
Hm..cukup setangkup dua yang
menggenapkannya, ya?! Semoga engkau diistiqamahkan dalam ketaatanmu padaNya.
Semoga senantiasa diberi yang terbaik. Sukses selalu 😉
With Love,
Atria, gadis berkerudung biru yang duduk
satu bendi denganmu