Pertanyaan
paten seumur hidup dan urutannya adalah sebagai berikut

“Kapan lulus?” – – – > “Kapan nikah?” – – – ->
“Kapan punya anak?” – – – > dst
 Masih
berada di bagian pertanyaan pertama biasanya dapat lebih banyak tuntutan.
Dengan posisi sebagai mahasiswa abadi, nggak cuma orang tua yang sibuk
menanyai. Semakin banyak lingkungan pergaulan, semakin banyak daftar penanya.
Mulai dari gebetan sampai teman komunitas tiap kali bertemu kembali setelah
cukup lama berpisah pasti akan bertanya, “Kapan lulus?”
Bagimu,
para pejuang tugas akhir, kamu tak sendiri. Aku pun tengah mengalami. Bukan hal
mudah menahan malu (dan sesekali sakit hati) saat orang dengan wajah kaget yang
bisa dibaca sebagai “Demi apa, kamu belum lulus sampai sekarang?”. Saat sibuk
dengan hal lain selain tugas akhir, maka tidak jarang muncul sindirian dari
mama-papa, kakak, paman, bibi dan atau calon suami. (-_-“)
Seringnya
sih kondisi ini akan berujung pada rasa tertekan. Tapi kini, aku percaya itu
hanya karena mereka terlalu peduli. Dan sebaiknya, untuk mengakhiri salah satu
penderitaan dunia maka yang harus dilakukan memang menambah semangat untuk
menyelesaikan tugas akhir.
Yah,
meski setelah wisuda pun pertanyaan berikut yang muncul adalah “Kapan kawin?”, “Udah
punya calon belum?”, “Kalau jomblo terus, kapan nikahnya?”
Hm..paling
tidak salah satu dari daftar pertanyaan neraka itu bisa kita coret dan lebih
fokus untuk menyiapkan diri menjawab pertanyaan berikutnya. Ha..ha..
Jadi,
untukmu para pejuang tugas akhir. Mari membulatkan tekad untuk mengakhiri
pertanyaan pertama itu.
Dan
maaf untuk surat absurd dan penuh curhatan pribadi ini (^_^)v
Dengan
penuh perjuangan,
Atria
Pejuang
Tugas Akhir