“Kita
tidak akan pernah bisa membahagiakan semua orang. Tapi, kita bisa tetap BAHAGIA
jika melakukan yang TERBAIK yang bisa kita lakukan.” (Hal. 86)

Penulis: Atalia
Praratya
Penulis pendamping:
Indari Mastuti
Editor: Gita Savitri
Tata Letak isi:
Fajarianto
Desain sampul:
Suprianto
Penerbit: Gramedia
Cetakan:
pertama, 2016 (saya membacanya dalam versi e-book resmi melalui aplikasi Scoop)
Jumlah hal: 244 halaman
ISBN: 978-602-03-2714-3
Buku dalam bentuk
E-book bisa didapatkan di aplikasi SCOOP atau klik tautan ini: 89 Cara Bahagia ala Atalia
Bahagia
itu tidak usah dicari. Sebab sejatinya, kebahagiaan itu bisa kita ciptakan
sendiri. Bahagia itu ada di hati, bukan tergantung pada kondisi. Bahagia hanya
bisa dirasakan oleh jiwa-jiwa yang penuh rasa syukur. Tak heran, mereka yang
merasa tidak bahagia rata-rata punya hobi merutuk dan mengutuk keadaan. Begitu
pula dengan Anda para wanita. Dianugerahi perasaan halus, bukan berarti dalam
keseharian boleh pasrah dilanda kegalauan.
Buku
ini berisi kisah Atalia Praratya dalam menikmati peran sebagai wanita yang
senantiasa berusaha menciptakan kebahagiaan dalam setiap fase kehidupan.
Menikmati peran sebagai diri sendiri, istri, ibu juga bunda untuk warga Parijs
van Java.
Bacaan
yang dikemas dengan bahasa ringan ini cocok dijadikan camilan penuh gizi bagi
wanita atau para ibu masa kini. Kalimat-kalimatnya sederhana, membumi, namun
sarat inspirasi. Penuh dengan tutur yang santai nan santun, serta tak
menggurui.
Ayo
kita mulai kebahagiaan itu dengan melahap lembar demi lembar isi buku ini!
***

“Harta
itu seperti meminum air laut, makin diminum makin haus. Artinya, semakin Ibu
tidak puas dengan apa yang sudah dimiliki; semakin Ibu akan melakukan segala
cara untuk menambahnya.” (Hal. 15)

Buku
89 Cara Bahagia ala Atalia ini adalah sebuah buku non-fiksi yang membahas
tentang kebahagiaan dari sudut pandang seorang Atalia Praratya yang kini sedang
menjalani hari-hari sebagai “Ibu” bagi seluruh kota Bandung. Istri dari Kang
Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, ini tentu memiliki banyak pengalaman yang bisa
dibagi. Mengingat besarnya tanggung jawab yang ia emban.
Buku
ini ditulis bersama seorang penulis pendamping, Indari Mastuti. Di dalamnya
terbagi menjadi beberapa chapter yakni: 1)
Bahagia menjadi Istri dan Ibu; 2) Bahagia menjadi Diri Sendiri; 3) Bahagia
menjadi Bagian dari Masyarakat; 4) Bahagia menjadi Pendamping Perjuangan.
Berdasarkan
pembagian di atas dan juga blurb
buku, sudah terlihat bahwa buku ini diperuntukkan bagi pembaca perempuan
khususnya mereka yang sudah memiliki tanggung jawab sebagai seorang ibu dan
istri. Dalam buku ini setiap chapter
tersebut membahas posisi dan tanggung jawab sosial perempuan, khususnya Ibu
Atalia sendiri.
Dalam
buku ini dihimpun 89 bahasan singkat tentang kebahagiaan. Sebagian besar
darinya mengingatkan pembaca bahwa yang terpenting adalah kesediaan untuk
bersyukur. Kesediaan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Bahwa hidup tidak
lagi hanya tentang diri sendiri namun juga tentang orang-orang di sekitar kita
mulai dari suami, anak, hingga lingkungan masyarakat.
“Pernikahan
adalah sebuah perjuangan menyatukan perbedaan.” (Hal. 32)
***
“Jika
Ibu ingin memperbaiki sikap, karakter, dan kebiasaan anak, mulailah dengan
mengubah sikap, karakter, dan kebiasaan Ibu terlebih dahulu.” (Hal. 75)
Buku
ini meski membahas hal yang sebenarnya “berat”, yaitu tentang kebahagiaan,
namun dikemas dengan ringan. Setiap bahasan dibuat sesingkat mungkin dengan
pilihan kata yang simple namun sarat makna. Hal ini menjadi kelebihan buku ini.
Membuatnya menjadi quote-able sekali.
Di akhir setiap pembahasan dari 89 cara bahagia yang diketengahkan, selalu
disisipkan kesimpulan sepanjangan satu kalimat. Dan kalimat ini jadinya penuh
makna dan menginspirasi.

Selain
itu, yang membuat buku ini berbeda adalah karena pembaca bisa “mengintip”
sedikit kehidupan dan pemikiran seorang istri walikota. Salah satu contohnya
saat penulis mengemukan pikirannya di halaman 91; “Saya bersyukur. Ya, saya
bersyukur bisa menjadi seorang istri walikota. Bukan karena prestise, prestasi
atau jabatan. Tapi karena dalam posisi ini saya bisa menjalani hari-hari yang
berbeda. Dengan menjadi istri seorang walikota, saya berkesempatan bertemu
dengan banyak orang.”
Beberapa kali tulisan semacam ini diketengahkan. Bahkan
di chapter ketiga, Bahagia menjadi Bagian dari Masyarakat,
sebenarnya mengandung “pesan” yang ingin disampaikan oleh Atalia kepada
masyarakat. Bahwa perubahan tidak harus mengharapkan tindakan dari pemerintah
melainkan harus dimulai dari diri sendiri dan hal-hal terdekat di sekitar kita.
Sedikit
kekurang buku ini yaitu masih terasa kesan menggurui. Ini karena menggunakan
bahasa penuturan yang kadang-kadang jika dibaca akan membuat pembaca merasa “diceramahi”.
Tapi cara tulisan ditutup menyamarkan kesan in. Karena setiap pembahasan
diakhiri dengan sapaan yang membuat pembaca disapa akrab oleh Ibu Atalia.
Oiya,
di dalam buku ini, di halaman tertentu, disediakan sebuah kolom kosong untuk
diisi oleh pembaca sesuai dengan instruksi atau saran penulis. Menjadi sebuah
cara agar pengalaman membaca buku ini menjadi pengalaman personal yang sangat
mungkin untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Membaca
buku psikologi dan motivasi seperti buku 89
Cara Bahagia Ala Atalia
ini memang selalu bisa menyuntikkan pemikiran dan
energi positif ya, Readers.

“Kita
menerima jauh lebih banyak dibandingkan dengan sedikit kekurangan yang kita
rasakan.” (Hal. 134)
Get on Scoop