“…masa
lalu cukuplah menjadi sejarah, yang hanya perlu dimasuki saat-saat dirimu
membutuhkan kehadirannya untuk berkontemplasi.” (hal. 266)
Penulis: Riawani Elyta & Rika Y Sari
Penyunting bahasa: Mastris Radyamas
Penata Letak: Puji Lestari
Desain sampul: Andhi Rasydan
Penerbit: Indiva
Cetakan: Pertama, Jumadil Tsaniyah 1434 H./ April 2013
Jumlah hal.: 304 halaman
ISBN: 978-602-8277-88-4
Ada seseorang dari masa lalu. Sesosok maya,
yang tak pernah sekalipun ia lihat atau temui paras wujudnya, namun hampir saja
menjadi bagian terpenting dari hari-harinya. Sosok-sosok yang menggetarkan
hatinya. Sosok yang hampir saja mengisi cangkir hatinya dengan cinta, rindu,
juga harapan.
“Saat pertama kali melihatnya, kau akan
merasa seolah melihat sebuah peach, dengan warna kulitnya yang cantik, membuat
orang pasti tak tahan untuk mengupasnya, dan isi di dalamnya juga tak kalah
mempesona. Tapi di saat kau memakannya, pertama-tama kau akan terkejut akan
rasa asamnya yang sangat, tapi saat kau terus mengunyahnya, kau akan merasakan
cinta dan sensasi yang luar biasa, sensasi rasa yang elegan, yang membuat kau
tak akan bisa melupakannya.”
***
Saya kembali
membaca sebuah buku yang diterbitkan oleh Penerbit Indiva. Buku sebelumnya,
Jasmine,  yang juga ditulis oleh Riawani
Elyta membawa cerita yang cukup kompleks. Banyak hal yang dipadukan menjadi
sebuah cerita dengan diksi yang apik. Maka kali ini novel ini pun sama
kompleksnya.
A Cup of
Tarapuccino ini sedikit berbeda dengan Jasmine. Karena nilai islami dalam
Jasmine tidak begitu kental mewarnai kehidupan tokoh-tokohnya. Mungkin ini ada
hubungannya dengan tema cerita yang diangkat. Namun dalam novel ini, kehidupan
islami yang ingin dituangkan oleh penulis sangat terasa. 
Melalui sosok
tokoh utama perempuannya, Tara, ditampilkan sebuah kehidupan yang sangat kental
diwarnai oleh nilai-nilai Islam. Tara digambarkan sebagai perempuan yang
kompeten, mandiri, cekatan, kreatif dan inovatif. Dari segi penampilan Tara
ditampilkan selalu nampak anggun dan cerdas dalam balutan jilbab. Tara juga
digambarkan sebagai sosok yang sangat menjaga pandangan. Ia pun menjaga diri
dan kehormatannya dalam pergaulannya dengan lawan jenis. Meskipun agak aneh
juga mengingat ia tidak melakukan hal yang sama pada Raffi, sepupu yang juga partnernya
dalam menjalankan usaha Bread Time.
Padahal dalam Islam, sepupu pun tidak termasuk dalam mahram.
Ada dua tokoh
pria dalam kehidupan Tara. Ia adalah Raffi dan Hazel. Raffi adalah sepupu yang
sudah dikenal Tara sejak kecil. Mereka sama-sama mendirikan dan membesarkan Bread Time, sebuah bakery. Mereka mengelola usaha itu dengan menjadikan syariat Islam
sebagai pegangannya. Saat adzan mereka akan menutup toko sebentar. Bahkan
mereka juga sering kali mengajak seluruh karyawan untuk shalat berjamaah di masjid.
Setiap karyawan perempuan diwajibkan menggunakan jilbab. Selain itu dengan
ide-ide Tara, Bread Time tidak sepi
dari inovasi-inovasi segar. Membantu usaha mereka bersaing dengan usaha makanan
lainnya.

Selain Raffi,
ada pula Hazel. Hazel ini sebelumnya adalah pelanggan yang kemudian menjadi
salah satu karyawan Bread Time. Hazel
membidangi desain grafis yang bertanggung jawab membuat majalah bulanan yang
menjadi salah satu terobosan bakery tersebut.
Diam-diam Tara memiliki ketertarikan pada Hazel yang digambarkan memiliki darah
kaukasia. Ketertarikan yang Tara sendiri tidak menduga kehadirannya.
Novel ini tidak
berfokus pada percintaan. Dimensi itu hanya 20% dari bagian cerita. Novel ini
malah lebih banyak mengangkat tentang seluk beluk dunia usaha bakery. Dengan menampilkan sosok Tara
dan Raffi sebagai pengusaha islam yang idealis. Mereka yang ketika menyadari
bahwa selama ini bahan baku mereka yang mereka pakai ternyata di duga
mengandung minyak babi tanpa ragu menggantinya dengan bahan lain. Mereka memahami
resiko kerugian dan pengaruhnya pada cita rasa. Namun mereka tidak ingin
bermain-main dengan label “halal” yang mereka dapatkan dari MUI.
Dalam novel ini
juga diceritakan tentang bisnis ilegal yang merebak di Batam yang tidak hanya
dalam bisnis barang elektronik (yang sudah umum diketahui masyarakat
Indonesia). Ternyata bisnis ilegal ini pun merambah hingga bahan baku makanan.
Bisnin ilegal ini kemudian entah bagaimana memiliki pertalian dengan Bread Time. Membuat usaha tersebut
beberapa kali mendapat ancaman dari orang yang tidak dikenal. Hingga sebuah
sabotase membuat nama baik Bread Time
tercemar.
Mampukah Tara
menyelamatkan Bread Time? Bagaimana
hubungan Raffi, Tara, dan Hazel?  Ups,
untuk pertanyaan yang terakhir saya bahkan belum tahu jawabannya karena akhir
ceritanya dibuat menggantung oleh penulis (>_<). Mungkin biar pembaca
bisa membuat akhir cerita sendiri sesuai dengan keinginan masing-masing *eh?!*
Hm..sekali lagi
saya disuguhi cerita kompleks yang mengangkat realitas di sebuah kota yang menjadi
pintu bagi sejumlah bisnis ilegal, kota Batam. Tidak melulu mendayu-dayu tapi
juga menampilkan sosok perempuan yang tangguh. 
Nice book Mbak
Riawani Elyta & Rika Y Sari. Terima kasih untuk buku bagusnya Penerbit
Indiva *hug*