“Apabila
Alam telah menjadikanmu orang yang murah hati, maka kedua tanganmu akan selalu
terbuka, begitu pula hatimu; dan meskipun ada kalanya kedua tanganmu kosong,
hatimu akan selalu penuh, dan kau masih bisa memberi dari situ- hal-hal yang
hangat, ramah, dan penuh kasih- bantuan, kenyamanan, dan keceriaan- dan
kadang-kadang suara tawa ramah dan riang pun sudah merupakan bantuan terbaik.”
(hal.81)
Penulis: Frances Hodgson Burnett
Alih Bahasa: Julanda Tantani
Desain dan ilustrasi cover: Ratu Lakhsmita Indira
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: pertama, November 2010
Jumlah hal.: 312 halaman
ISBN: 978-979-22-6406-7
Ketika
baru datang ke London dan menjadi murid di sebuah sekolah asrama bergengsi.
Sara Crewe memiliki segalanya –pakaian-pakaian indah, boneka-boneka cantik, dan
ayah yang selalu memenuhi segala keinginannya. Hidupnya nyaris sempurna sampai
hari ulang tahunnya yang kesebelas. Sarah mendapat kabar bahwa ayahnya
meninggal dan tidak mewariskan apapun padanya. Gurunya, Miss Minchin,
membencinya dan memperlakukannya dengan kejam, karena dia telah jatuh
miskin.Kini Sarah mesti menghadapi kesulitan-kesulitannya dan membuktikan bahwa
dia tetap seorang “putri raja” yang bisa bertahan dalam menghadapi masa-masa
berat itu.
***
Ketika seorang
anak dibesarkan dengan kasih dan kebaikan budi, maka materi bukan tolak ukur
sebuah kebahagiaan. Ketika seorang anak dibesarkan dengan kecintaan pada buku
dan dibiarkan mengembangkan imajinasi, maka kebahagiaan tidak terletak pada apa
yang dimiliki melainkan apa yang bisa dipelajari. Hal inilah yang coba
diketengahkan oleh Frances Hodgson Burnett.
Karya-karya
klasik memang selalu sarat dengan nilai moral. Buku anak-anak A Little Princess ini salah satu
contohnya. Karya yang diterbitkan pertama kali tahun 1905 ini mengangkat
kondisi masyarakat di Inggris saat itu. Tokoh Sara Crewe adalah seorang anak
yang berusia 7 tahun namun dengan kedewasaan dan wawasan yang melampaui
umurnya. Ini dilatarbelakangi oleh kondisinya yang sejak kecil tumbuh dewasa tanpa
seorang ibu, tinggal di India (jauh dari tanah airnya), ayah yang penyayang dan
periang, serta kesenangannya membaca buku. Maka tidak aneh jika seorang gadis
kecil sepertinya mampu menganalisis banyak hal sebab ia tumbuh lebih mandiri
dan terbuka dalam berpikir.

Setting cerita
di buku ini berpusat di sekolah Miss Minchin yang dikelola oleh Miss Minchin.
Ini adalah sebuah privat school yang
diperuntukkan khusus bagi anak perempuan –dan tentu saja yang mampu membayar
seluruh fasilitasnya. Di lingkungan ini, Sara kemudian menjadi sosok yang
mencolok. Ini karena kekayaan yang dimiliki oleh ayahnya, kecerdasannya, serta
sikapnya yang enggan menilai seseorang dari status sosialnya. Sara tidak begitu
nyaman bergaul dengan teman-teman yang berasa dari kalangan berada dan senang
memperlakukan orang lain seenaknya. Sara malah sibuk bersikap baik pada gadis
sebayanya yang selalu jadi bahan lelucon karena dianggap bodoh, Ermengarde.
Sara juga menjadi “ibu kecil” bagi Lottie Legh, gadis kecil yang cengeng, manja
dan mudah marah. Sara juga bersikap baik, ramah dan murah hati pada Becky,
gadis pesuruh di sekolah tersebut.
Kehidupan Sara
baik-baik saja sampai suatu hari datang kabar yang sangat menyedihkan tepat di
hari ulang tahunnya yang kesebelas. Ayahnya, satu-satunya keluarga yang ia
miliki meninggal dunia. Tidak hanya itu, Sara jatuh miskin karena ayahnya tidak
meninggalkan uang warisan sepeserpun akibat ditipu oleh temannya. Sejak itu,
perlakuan Miss Minchin padanya berubah drastis. Yang awalnya diperlakukan bak puteri
karena menjadi anak paling kaya di sekolah tersebut menjadi pesuruh sekolah
karena tidak bisa lagi membayar seluruh biaya sekolah. Sejak itu, Sara harus
bekerja keras. Ia tidak lagi diizinkan belajar di kelas, ia dipindahkan dari
kamarnya yang luas ke bilik bawah atap yang dingin, sempit, gelap dan sesekali
dikunjungi tikus.  Sara juga harus
menahan penderitaan akibat direndahkan oleh orang-orang yang dulu iri pada
perlakuan khusus yang ia terima. Khususnya oleh Lavinia. Namun kedewasaannya
dan hati yang baik membuatnya mampu menahan seluruh penderitaan tersebut.
Bahkan ketika Lavinia dan kawan-kawannya mengejek tentang dirinya yang bukan
lagi seorang putri ia berkata bahwa, 
“ … itu tidak ada hubungannya dengan
bentuk tubuh orang, atau apa yang kau miliki. Tapi justru berhubungan dengan
apa yang kau PIKIRKAN, dan apa yang kau LAKUKAN.” (hal. 73)
 
 Ia mampu
memahami bahwa sikapnyalah yang membuat seseorang menjadi “puteri” hingga
dihormati dan dicintai. Bukan karena apa yang ia miliki.
Benar-benar buku
yang sangat menarik untuk dibaca oleh anak bahkan oleh orang dewasa. Buku ini
mengajarkan tentang sikap peka dan belas kasih kepada sesama tanpa
memperhatikan status sosial seseorang. Juga menampilkan sosok gadis kecil yang
bisa menjadi teladan. Sikapnya yang anggun dan penuh keberanian, kecintaannya
pada ilmu pengetahuan, dan kemauannya bekerja keras.
Dan seperti
layaknya kisah-kisah tentang kebaikan, gadis kecil ini mendapat balasan yang
setimpal di akhir kisah. Saat kebahagiaan datang membawa kembali harga dirinya
dan mejauhkannya dari penderitaan. Sosok itu datang dalam bentuk kasih sayang
dari seorang pria yang ternyata adalah kawan baik ayahnya.
Buku ini layak
menjadi pilihan untuk dikoleksi dan diwariskan untuk anak cucu. Di dalam buku
ini banyak hal baik yang bisa dipetik meski setting waktu, tempat dan
suasananya berbeda dengan pembaca Indonesia. 

“Aku
tidak menyukainya, Papa,” katanya. “Tapi kurasa para prajurit – bahkan yang
paling berani sekalipun- sebenarnya tidak sungguh-sungguh SUKA pergi berperang.”
(hal. 12)