“…terkadang, yang tak kita miliki bukanlah keberanian untuk melanjutkan hidup, melainkan kekhawatiran melepas kenangan” (Hal. 21)

Penulis:
Ambhita Dhyaningrum
Penyunting:
Fitria Sis Nariswari
Perancang
sampul: Bara Umar Birru
Pemeriksa
aksara: Deni Ekawati & Andam Aulia
Penata
aksara: Martin Buczer
Penerbit:
Bentang Pustaka
Cetakan:
Pertama,Maret 2015
Jumlah
hal.: vi + 218 halaman
ISBN: 978-602-291-075-6
Biarkan waktu yang akan
memperbaiki segalanya.
Oke, klise mungkin. Tapi itulah
yang saat ini bisa kulakukan. Membiarkan hati ini terobati dengan sendirinya.
Dan membuka hati ini untuk siapapun yang ingin singgah di dalamnya.
Jangan katakan aku single mother
yang patah hati parah. Tapi kalau ditanya apakah aku merindukan sosok lelaki
yang jujur dan tulus mencintaiku? Dengan berat hati kujawab, iya tepat sekali.
Lantas, saat sebuket bunga selalu
rajin datang di cubicle-ku setiap pagi dan surel puisi cinta tidak pernah absen
singgah di surel-ku. Apakah aku harus berbunga-bunga, karena sebentar lagi akan
merasakan cinta?
Ya, mungkin seharusnya seperti
itu, kalau si pengirim bunga dan puisi itu tidak menyembunyikan identitasnya.
***
Kalea,
perempuan berusia 32 tahun yang sudah setahun menyandang status sebagai janda
dengan seorang anak perempuan yang cantik. Kehidupan rumah tangganya porak
poranda karena sikap play boy
suaminya. Perselingkuhan. Penyebab utama perpisannya dengan Alfa, laki – laki
yang menjadi pacarnya sejak masa kuliah namun kini berakhir sebagai “mantan
suami”.
Hidup
Kalea sebagai seoarang janda terasa tidak mudah. Dan kini kehadiran “Adonis”
dalam hidupnya memberi warna baru. Adonis yang datang sebagai sosok tanpa wajah
dengan puisi – puisi yang membuat hati Kalea menghangat. Sayangnya, Kalea tidak
punya bayangan tentang siapa sosok di balik Adonis ini. Sosok yang puisi –
puisinya datang melalui email dan membuat hidup Kalea jadi lebih berwarna.
Ia
mulai menebak – nebak. Siapakah Adonis?
Apakah
ia Mikel? Salah seorang manajer di kantornya? Atau kah dia …. Alfa?

Keduanya
kini mendekati Kalea. Mikel mulai masuk ke kehidupan Kalea. Secara cepat
menunjukkan ketertarikannya dan ingin menjalin hubuangan yang serius dengannya.
Di
saat yang sama Alfa datang mengetuk maaf darinya. Liburan bersama mereka dan
puteri kecil mereka yang tanpa rencana membuat Kalea mempertimbangkan untuk
memaafkan pengkhianatan Alfa. 
Lalu
siapa sesungguhnya Adonis?
***
Kisah
dalam Adonis ini cukup menarik. Ketertarikan pembaca untuk ikut menguak
identitas “Adonis” menjadi salah satu daya tariknya. Apalagi dengan memunculkan
satu persatu calon tersangka beserta motifnya.
Tapi
tenang saja, ini bukan novel detektif. Adonis hanya bumbu dari sekian banyak
bumbu di dalam kisah ini.
Ada
bumbu tentang cinta yang karam seorang Kalea pada suaminya Alfa. Ada pula
harapan untuk rujuknya rumah tangga mereka. Bumbu tentang hubungan Kalea dengan
Mikel serta Dante juga menarik.
Oiya,
persahabatan Kalea dan Flo adalah salah satu bumbu paling manis dalam novel
ini. Interaksi dan persahabatan mereka ini adalah sesuatu yang menghangatkan
hati sambil sesekali mengundang senyuman. Sayangnya terkadang interaksi mereka
tidak begitu menunjukkan usia meraka yang sudah kepala tiga.
Selain
itu, penulis sempat menyenggol tentang masalah status “janda” dalam masyarakat.
Sayangnya hal ini tidak dieksplorasi dengan baik. Cukup disayangkan. Pembahasan
tentang hal ini hanya muncul dengan cara “telling”. Tidak ada konflik yang
benar – benar menampilkannya.
Terakhir,
meski memakai POV orang pertama, novel ini masih kurang mampu mempengaruhi
emosi pembaca. Ini karena klimaks cerita masih kurang tajam.
Secara
keseluruhan ide cerita sudah menarik. Eksekusinya saja yang masih sedikit
kurang manis. (^_^)v
***

Puisi yang terinspirasi oleh novel Adonis karya
Ambhita Dhyaningrum terbitan Bentang Pustaka
Aku adalah cinta yang kau
tatap tanpa jemu
Diammu membuat tanya di benakku
Oh, kaukah cinta yang kutunggu?
Namun kenapa tak kunjung kau tampilkan dirimu?
Ingat, dukaku sudah penuh
Semangatku tak lagi menggebu

Adonis, kaukah pengobat hatiku?


Bandung, 16 Juni 2015