“Namaku
Leah Kannitha, usiaku baru menjelang dua puluh satu tahun. Siapa bilang usia
muda hanya berhadapan dengan kesenangan dan hal-hal sederhana saja? Ah, itu
rasanya terlalu membosankan. Karenanya, aku memilih menempuh jalan yang tidak
biasa.” (hal. 275)


Editor:
Afrianty P. Pardede
Penerbit:
Elex Media Komputindo
Cetakan:
2014
Jumlah
hal.: vii + 275 halaman
ISBN:
978-602-02-3791-6
Awalnya…
Leah
Kannitha : Dia adalah si megalomania sinting yang otaknya kena virus mematikan.
Makanya dia perlu membenturkan kepala supaya bisa berpikir jernih.
Liam
Hammond : Dia gadis ceroboh yang suka ikut campur urusan orang. Dia kira aku
gampang terpesona dengan wajah polos dan mata besarnya?
Akhirnya…
Leah
Kannitha : Aku takut ada pembuluh darahku yang pecah karena dia memegang
tanganku sambil mengucapkan kata-kata cinta.
Liam
Hammond : Ah, kondisiku sama sekali tidak menggembirakan. Aku sedang berusaha
keras untuk berhenti menyukainya, karena aku lebih suka mencintainya.
Keduanya
punya rahasia. Keduanya punya masa lalu yang menyakitkan. Tapi cinta membuat
mereka harus mampu melampaui semua rasa sakit dan kegetiran yang mengadang
tanpa perasaan. Apakah mereka mampu menanggalkan masa lalu? Mungkinkah masa
depan untuk mereka memang ada ? Biarkan cinta melewati ujiannya dan memberikan
jawaban.
***
Baru saja
saya menyelesaikan membaca After Sunset karya Indah Hanaco. Ini bukan karya
pertama Indah Hanaco yang saya baca, tapi karya terbarunya yang saya baca.
Bahkan sekarang sedang ada Giveaway
berhadiah novel After Sunset di blog ini. (klik di sini)
Novel ini
bercerita mengangkat hubungan Leah dan Liam. Leah adalah perempuan Indonesia
berusia 19 tahun. Saat ia berusia 12 tahun Leah kehilangan ibu dan kakaknya.
Karena itu akhirnya ia pun hanya tinggal berdua dengan papanya. Kejadian itu
membekas cukup dalam bagi Leah. Ia tumbuh menjadi sedikit berbeda dengan
kawan-kawan seusianya. Ia sering berpenampilan lebih tua daripada umurnya dan
masih sering sedih atas kepergian ibu dan kakaknya.
Suatu hari
ayah Leah menghadiahinya tiker liburan ke Bali bersama sahabat dan sepupunya. Sebenarnya
Leah tidak begitu menginginkan liburan ini. Namun karena sang ayah memaksa, ia
pun pergi ke Bali. Awalnya liburan tersebut berjalan sangat buruk. Ini karena
ulah sepupunya, Zsa Zsa, yang memaksa Leah mengubah penampilannya. Kemudian
pertemuannya dengan Liam.

Liam
adalah pria yang berasal dari Inggris yang tengah menghabiskan waktu di Bali.
Ia adalah seorang mantan pembalap. Baginya liburan tersebut adalah sebuah cara
dia menutup cerita kelam hidupnya. Sebelumnya sejumlah masalah datang beruntun
dan membuatnya hancur. Ia berencana bahwa sepulangnya dia dari Bali maka ia
akan berusaha menata kembali hidupnya. Dan ia tidak menduga pertemuannya dengan
Leah.
Setelah
itu kita akan disuguhi dinamika kehubungan mereka berdua. Pertemuan yang
menyebalkan tidak selalu berakhir buruk (^0^)v Perkembangan hubungan keduanya
disuguhkan dengan smooth. Emosi yang
terbangun diantara keduanya tidak dibuat muncul mendadak begitu saja. Ini
membuat saya menikmati ceritanya hingga lembar terakhir.
Oiya,
sekitar 1/4 kisah terakhir saya sempat dibuat kaget dengan munculnya twist
baru. Dan penjelasan tentang hal ini di akhir cerita membuat saya benar-benar
tidak menyangka. Sempat agak sedih gitu saat membaca penjelasan kejadian
tersebut. (sengaja gak mau cerita lengkap biar gak disebut spoiler >_<).
***
Membaca
novel ini saya mendapat pengetahuan baru tentang penyakit cluster headche. Penyakit
ini sangat asing bagi saya pribadi. Namun membaca novel ini bisa memberi
pengetahuan awal tentang penyakit ini.  Ini kutipan dari Wikipedia tentang penyakit
ini:

Sakit kepala
cluster
 adalah
sindrom sakit kepala yang jauh lebih sering menyerang pria dibandingkan pada
wanita. Sakit kepala cluster khas dan dimulai pada usia lebih lanjut
dibandingkan pasien 
migrain, dengan usia rata-rata saat awal
terkena yakni 25 tahun. Jarang ada riwayat keluarga sakit kepala tersebut
karena penyakit ini tidak menurun. Sindrom ini muncul sebagai kelompok singkat,
sangat parah, satu sisi, tidak berdenyut, konstan dengan durasi mulai dari
beberapa menit hingga kurang dari 2 jam. Tidak seperti sakit kepala 
migrain, sakit kepala cluster selalu satu sisi,dan biasanya
kambuh pada sisi yang sama dalam setiap pasien tertentu. Sakit kepala cluster
sering terjadi pada malam hari, membangunkan pasien dari tidur, dan berulang
setiap hari pada waktu tertentu yang sama untuk jangka waktu mingguan hingga
bulanan. Setelah itu akan ada jeda dimana pasien mungkin bebas dari sakit
kepala cluster selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Karakteristik sakit
kepala cluster diawali dengan sensasi terbakar sepanjang aspek lateral hidung
atau sebagai tekanan di belakang mata.

Ini
membuat saya cukup suka dengan novel ini. Pertama karena Mbak Indah Hanaco
menggunakan jenis penyakit yang tidak umum dijadikan bagian cerita. Awalnya
saya merasa penyakit ini hanya sebuah tempelan untuk menguatkan karakter Liam
dan menjadi jalan pembuka bagi pertemuan Leah. Namun ternyata saya salah.
Kedua,
saya suka karena Mbak Indah Hanaco mengangkat profesi yang belum banyak
digunakan sebagai pekerjaan tokoh utamanya. Bahkan bagi saya pribadi, ini
pertama kalinya saya membaca novel yang tokoh utamanya adalah seorang pembalap.
Meskipun sebenarnya belum terlalu terasa banget karena tidak pernah mengambil
setting cerita di sirkuit balap. Tapi dengan adanya beberapa istilah terkait
otomotif dan balap mobil, maka profesi Liam tidak terlalu terasa sebagai
pelengkap saja. (^_^)
Hm, segitu
saja ah komentar saya. Maaf di review kali ini tidak ada kutipan apapun selain
yang saya letakkan di awal. Ini karena saya lebih banyak membaca buku ini di
jalan jadi tidak sempat menandai halamannya. (>_<)