“Kalau
cinta sudah memilih, nggak ada cukup tempat untukmu sembunyi!” (Hal. 211)

Penulis: Nima
Penerbit: Elex Media
Komputindo
Cetakan: Kedua, Juni
2016
Jumlah hal.: 351
halaman
ISBN: 978-602-02-8945-8
Apa
semua yang namanya Arjuna itu memang ditakdirkan dikelilingi wanita?
Adalah
aku, Arjuna di tengah dunia modern perkantoran Jakarta. Aku tidak mengada-ada
soal betapa aku menjadi incaran para wanita.
Tapi,
tenang. Bagiku, hanya Nina yang mendampingi hingga hari tua. Dia adalah gambaran
wanita yang sempurna. Serius, andai dia setuju, aku bawa langsung ke KUA. Biar
sah dan halal!
Sayangnya,
kekacauan tak kenal waktu. Dia datang jika ingin menghadang. Itulah yang
terjadi sekrang.
Sumber
kekacauanku adalah Ayana. Si setan cilik yang membuatku tak bisa berkutik
karena dia anak bosku. Catat itu, bosku!
Setan
cilik yang manja, egois, dan banyak maunya. Yang paling menyebalkan, dia
seenaknya melabeli aku sebagai pacarnya. Kacau! Bisa hancur karier dan rencana
pernikahanku.
Tapi,
akulah Arjuna. Semua masalah pasti bisa kuselesaikan! Lihat saja!
***
“….
Karena kita nggak pernah bisa menghindari dari apa pun, J, termasuk urusan
cinta. Kalau cinta sudah memlih, ke mana pun kamu menghindar, nggak ada cukup
tempat untuk sembunyi. …” (Hal. 50)
Arjuna,
yang disapa Juna, adalah laki-laki yang senang tebar pesona pada perempuan. Ia
menikmati perhatian yang diberikan oleh perempuan-perempuan yang menyukainya.
Namun ia tidak memanfaatkan pesonanya untuk mendapatkan pacar
sebanyak-banyaknya atau mempermainkan perempuan. Karena ia memiliki adik
perempuan yang sangat ia sayangi. Ini membuat ia sangat pemilih dalam
menentukan perempuan mana yang ingin ia jadikan calon istri.
Pilihannya
jatuh pada Nina. Teman sekantor yang memenuhi semua kriteria yang diinginkan
oleh Juna dalam diri seorang istri. Istri idaman Arjuna bangetlah! Juna
kemudian berusaha mendekati Nina. Melancarkan berbagai kode yang membuat gadis
itu memahami perasaannya. Saat akhirnya perasaan Juna mendapat sinyal positif
dari Nina, sebuah masalah datang.
Masalah
ini datang dalam bentuk seorang gadis kecil berusia 16 tahun yang juga anak
semata wayang bos Juna, Pak Surya. Pak Surya sangat menyayangi Ayana dan
memanjakan gadis itu. Bahkan beredar kabar bahwa Pak Surya bisa melakukan apa
saja pada orang yang melukai atau membuat anaknya sakit hati.
Ini
membuat Arjuna serba salah. Ia tidak bisa menolak Ayana dengan kasar karena
tidak ingin dipecat oleh Pak Surya. Namun Ayana yang mendekati Arjuna dengan
sangat agresif membuat Nina marah.
Kemudian
masalah berikutnya muncul. Nina pun memiliki sebuah rahasia yang ternyata
mengancam hubungan mereka. Dan Ayana muncul sebagai orang yang membantu Juna
mengobati luka hatinya. Lantas siapakah yang kelak akan menjadi istri Juna?

“Ingat,
Juna, orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan diri saat marah.” (Hal.
98)
***
“Tidak
semua yang kita mau bisa kita dapat. Tapi, apa pun itu yakin aja kalau Tuhan
udah ngasih yang terbaik, seburuk apa pun rasanya. …” (Hal. 105)
Sebelumnya
saya sudah pernah menulis review untuk cetakan pertama novel Akulah Arjuna ini.
Dan saat membaca ulang review tersebut saya menyadari bahwa
kekurangan-kekurangan yang saya sebutkan sebelumnya sebagian besar sudah tidak
nampak.
Meskipun
tidak semua masalah terkait editing benar-benar “bersih. Sebab di halaman 3
pada paragraf pertama, kalimat yang membahas penikahan Viona, adik Arjuna,
terasa kurang pas. Susunan katanya kurang sesuai. Tapi tetap bisa dipahami.
Selain itu di halaman 246 terdapat satu paragraf percakapan yang semuanya
menggunakan huruf kapital. Ini cukup mengganggu. Pembaca memang jadi paham
bahwa hal itu karena tokohnya ingin menekankan ucapannya. Namun karena itu
adalah percakapan telepon ini jadi terasa berlebihan. Selain itu juga terasa
terlalu mendadak dari tokoh yang sebelumnya tidak pernah berteriak saat marah.
Dalam
hal alur waktu sudah rapi. Karakter-karakter di dalam novel ini seperti Nina,
Ayana, Viona, dan Dave sudah konsisten. Meskipun untuk tokoh utamanya sendiri
terasa kurang konsister. Seperti saat Ayana menjadi pihak yang agresif, Juna
malah grogi padahal sejak awal dia digambarkan sebagai laki-laki yang senang
tebar pesona.
Selain
itu masih ada adegan yang kurang smooth perubahan
emosinya. Adegan saat ia memukul Dave, suami Viona, karena informasi yang ia
dengar tentang gadis yang ia cintai secara emosi masih terasa terlalu mendadak
dan berlebihan. 
Yang
menarik dari novel ini adalah konflik utamanya tidak benar-benar muncul di awal
cerita. Ketika konflik pertama selesai, konflik berikutnya muncul dengan
intensitas yang sama kuat dengan konflik sebelumnya. Membuat pembaca tetap
bertahan membaca akhir cerita karena ingin tahu akhir cerita.
Yang
kurang banyak dieksplorasi adalah setting. Deskripsi tempat masih terasa belum
kuat. Tapi hal ini diimbangi dengan interaksi yang dibangun antartokoh yang
terasa sangat “kasual” sehingga mudah dibayangkan karena sangat mirip dengan
interaksi yang ditemukan di keseharian pembaca.
Secara
keseluruhan novel ini cukup menarik untuk diikuti. Gaya bercerita dari sudut
pandang orang pertama yang sedikit jenaka membuat novel ini menyenangkan
dibaca.
“….
Semua hal yang terjadi, paling buruk sekalipun, pasti ada sisi baiknya. …”
(Hal. 105)
***
My Favorite Quote
“….
Laki-laki itu pasti jadi kepala keluarga. Itulah kenapa dia harus matang dulu
sebelum berani bawa anak orang. Selain tanggung jawabnya besar, pemikiran dan
emosi harus stabil karena nanti dialah yang akan membawa arah rumah tangga.”
(Hal. 248)
Ini
adalah kutipan favoritku dalam novel ini. Kutipan ini muncul di scene yang menarik. Saat ibunya Juna
menasehati Juna yang sedang galau gundah merana hingga mencetuskan keinginan
untuk menikah. Ibunya mengingatkan bahwa sebagai laki-laki harus sadar diri
bahwa sebelum menyanggupi untuk menjadi imam bagi seorang perempuan, ia harus
lebih dulu bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ibunya Juna tidak akan mau
melamar seorang perempuan untuk Juna jika Juna belum mampu mengatur emosinya
sendiri. Karena tidak mau membuat anak menantunya kelak hidupnya menderita dan
penuh air mata. Keren ya pesannya.
***
“Setiap
hubungan itu pasti ada naik turunnya. Jangan ragu minta maaf kalau kamu punya
salah dan jangan cuma minta dimengerti tanpa kamu mau mengerti. …” (Hal. 248)
“Saat
mencintai seseorang, kita nggak akan peduli dengan masa lalunya, dengan apa
yang mengikutinya, bahkan dengan semua buruk dan busuknya. Kita cuma lihat apa
adanya dan hanya mengharap semua yang terbaik untuknya. Bahkan nggak peduli
juga kalau akhirnya cuma sakit yang kita terima. Kamu cuma ingin lihat dia
tersenyum, hanya ingin dia bahagia.” (Hal. 139)

“Papa
sering bilang kalau kita nggak punya rasa marah itu artinya kita bukan manusia.
…” (Hal. 114)