“Tuhan
telah memberikan alam untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kehormatan kita bukan
terletak pada pekerjaan kita, Sela, melainkan ketika kita tak pernah bergantung
pada manusia.” (Hal. 85)


Penulis: Shabrina WS
Penyunting: HP Melati
Proofreader: Yunni
Yuliana M
Desain sampul: Agung
Wulandana
Pengarah desainer
sampul: Dodi Rosadi
Desainer isi: Nuno
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, Februari
2013
Jumlah hal.: 236
halaman
ISBN: 978-602-9225-77-8
Marsela
Aku
selalu menantimu dari matahari di timur, matahari di barat, hingga terbit lagi
Aku
telah melewati musim yang berganti berulang kali.
Tapi,
kau tak pernah hadir di sini.
Kini
setelah sepuluh tahun kulewati, aku tak yakin lagi, bahkan pada hatiku sendiri.
Juanito
Siapakah
kita, ketika pada akhirnya sejarah telah bicara.
Bahkan,
sungai saja berubah muara, sekuat apa pun aku bertahan, sepuluh tahun telah
mengubah banyak hal.
Dan
nyatanya, keadaan memang tak sama lagi.
***
Cerita
dibuka dengan sudut pandang orang pertama dari seekor anjing bernama Lon.
Kemudian cerita dilanjutkan dengan kisah hidup Marsela dengan sudut pandang
orang ketiga. Cerita kepergian sang ayah yang membuat hidupnya tak lagi sama.
Kemudian
alur yang digunakan adalah alur campuran. Dari masa kini, kembali ke kehidupan
masa kecil hingga sebelum Timor – Timor lepas dari NKRI. Dan kembali ke masa
kini, saat Marsela harus melanjutkan hidupnya tanpa sang ayah sambil tetap
memendam rindu pada kekasihnya yang sempat menjadi calon suaminya, Juanito.

Marsela
dan Juanito terpaksa berpisah karena pilihan kedua orang tua mereka berbeda.
Ayah Marsela ingin tetap bergabung dalam Republik Indonesia, sedangkan orang
tua Juanito lebih memilih jadi bagian dari negara baru, Timor Leste. Akhirnya
Marsela dan ayahnya meninggalkan kota Ermera, dan mengungsi ke Tenukiik.
Marsela pergi namun meninggalkan sekeping hatinya di sana, di tempat Juanito
berada.
Kini
setelah ayahnya tiada, bisakah Marsela pulang kembali ke Ermera dan kembali
bersama Juanito. Sepuluh tahun telah berlalu. Adakah Juanito masih
mencintainya? Kenapa lelaki itu tidak pernah datang mencarinya?
Kemudian,
di saat yang sama hadir Randu yang selalu menolong Marsela. Laki – laki sopan
dan disukai oleh mendiang ayahnya. Semua orang mengatakan bahwa Randu tertarik
padanya. Namun tidak sekalipun Randu menyampaikan isi hatinya pada Marsela.
Lagipula, apakah Marsela siap menerima Randu dan melupakan Juanito?
***
Cerita
dalam novel Always be in Your Heart ini mengangkat sekeping mozaik yang ada
dalam cerita lepasnya wilayah Timor – Timor dari Republik Indonesia. Prahara di
tahun 1999 itu selalu terkait kerusuhan dan refrendum yang terjadi saat itu.
Namun
di dalam novel ini, pembaca diingatkan bahwa dalam seluruh kisah besar itu, ada
serpih – serpih kecil yang memilukan. Saat mereka yang saling mengasihi harus
berpisah karena berubahnya kondisi saat itu.
Kehadiran
bahasa daerah dalam novel ini, membuat nilai budaya di wilayah Ermera cukup
terasa. Namun masih kurang kental. Saya jadi bertanya – tanya adakah adat
tertentu dalam suku yang mendiami Ermera terkait meninggalnya salah seorang
keluarga? Ini mungkin menarik jika nilai sosial masyarakat juga sedikit
diketengahkan.
Penggunaan
sudut pandang orang ketiga dalam novel ini membuat emosi pembaca jadi berjarak
dengan kisah yang dialami tokoh – tokohnya. Padahal ada beberapa momen – momen
emosional yang bisa dieksplorasi lebih jauh untuk menyentuh hati pembaca.
Namun,
di luar itu, cerita yang disajikan cukup menarik. Tapi saya pribadi bertanya –
tanya, kenapa prolog dan epilog dalam novel ini memakan sudut pandang orang
pertama dari seekor anjing?

“Ketika
Tuhan mengambil yang ada pada kita maka Dia telah menyiapkan penggantinya.”
(Hal. 123)