“Kau
bisa sangat mencintai seseorang, pikirnya. Tapi kau tidak bisa mencintai
sebesar kau merindukan mereka.” (hal. 152)

Judul asli: An Abundance of Katherines
Judul terjemahan: Tentang Katherine
Penulis: John Green
Alih Bahasa: Poppy D. Chusfani
Editor: Barokah Ruziati
Desain Cover: Martin Dima
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: 320 halaman
ISBN: 978-602-02-0527-1
Katherine V menganggap cowok menjijikan.
Katherine X hanya ingin berteman.
Katherine XVIII memutuskan Colin lewat email.
Kalau soal pacar, ternyata tipe yang disukai Colin Singleton adalah cewek-cewek
bernama Katherine.
Dan kalau soal Katherine, Colin selalu jadi yang tercampak.
Setelah diputuskan oleh Katherine XIX,
cowok genius yang hobi mengutak-atik anagram ini mengadakan perjalanan panjang
bersama teman baiknya. Colin ingin membuktikan teori matematika karyanya,
supaya dapat memprediksi hubungan asmara apa pun, menolong para Tercampak, dan
akhirnya mendapatkan cinta sang gadis.
***

 “Kita
terpaku untuk menjadi sesuatu, menjadi spesial atau keren atau apalah, sampai
ke titik ketika kita tidak tahu lagi kenapa kita membutuhkanya; kita hanya
merasa membutuhkannya.” (Hal. 282)

Seumur hidupnya
Colin selalu menjadi anak ajaib yang mencolok. Dan seperti umumnya yang terjadi
di masyarakat, mereka yang memiliki IQ tinggi punya kesulitan dalam
bersosialisasi. Sayangnya tokoh Colin termasuk orang yang kemampun
bersosialisasinya sangat minim. Dia hanya punya satu teman yang bernama Hassan.
Seorang muslim yang sebenarnya juga cerdas namun selalu ingin santai menghadapi
hidup. Hanya dia yang mampu bertahan untuk bergaul lama dan akrab dengan Colin.
Mau memahami keanehan si anak ajaib.

Ketertarikan dan
pengetahuan Colin dalam hal-hal yang menurut orang membosankan atau tidak
menarik memang menjadi penyebab utamanya. Selain itu, Colin bukanlah orang yang
peka dan mampu menerima apa yang disampaikan dengan tersirat oleh orang lain.
Ini yang membuatnya kesulitan bergaul.
Saat patah hati
akibat dicampakkan oleh Katherine XIX di awal libur musim panas, Colin pun –
atas desakan Hassan – melakukan petualangan secara random dengan Hassan. Hingga
mereka berdua terdampar di kota Gotshot dan berkenalan dengan Lindsay,
perempuan cerdas yang populer. Mereka lantas dipekerjakan oleh ibu Lindsay
untuk mewawancarai sejumlah penduduk kota kecil tersebut untuk menyusun buku
tentang sejarah kota  tersebut.
Setelah itu
petualangan Colin pun semakin berwarna. Dan di sela-sela kegiatannya
mewawancarai penduduk, Colin masih terus menyelesaikan rumus yang ia buat
tentang pola Tercampak dan Pencampak dengan mendasarkannya pada pengalaman
pribadinya sendiri. Hingga ternyata ada satu anomali yang tidak bisa ia rumuskan.
Katherine III, adalah satu-satunya Katherine yang tidak bisa ia polakan. Ada sesuatu
yang ia lupakan. Hal yang membuat Colin gamang sebab selama ini ia selalu
mengandalkan kemampuannya dalam mengingat sesuatu.
***

“Buku
adalah Tercampak Sejati: letakkkan saja dan mereka akan menanti sampai kapan
pun; pusatkan perhatian dan mereka akan selalu membalas cintamu.” (Hal.
158-159)

Dalam novel ini
penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga untuk menceritakan kisah Colin.
Rasanya pembaca menjadi penumpang gelap dalam perjalanan Colin dan Hassan. Namun
di saat yang sama eksplorasi perasaan Colin jadi berjarak. Ini selalu jadi kekurangan
sudut pandang orang ketiga.
Pertama kali
membaca karya John Green saya jatuh cinta pada gaya penulisannya yang terasa
“apa adanya” dalam The Fault in Our
Stars
. Sikap skeptis dan sinisnya masih bisa ditolerir dengan alasannya
yang sangat kuat yakni sakit yang dideritanya. Namun rasanya pesona yang sama
tidak saya temukan dalam buku An Abundance of Katherines.
Ketidaknyamanan
ini memiliki beberapa alasan. Pertama, sebagai muslim saya tidak bisa menyukai
cara John Green menggambarkan Hassan. Saya merasa bahwa ada pelecehan atas
nilai Islam di sana. Meskipun saya harus mengakui bahwa memang ada muslim yang
seperti itu. Hm..kira-kira ada gak ya orang yang tidak mengenal Islam dengan
baik lantas menilai Islam dari apa yang ia baca di buku ini?
Alasan kedua
adalah karena saya tidak begitu suka matematika dan di buku ini kurva muncul
beberapa kali. Ya, Kurva dan matematika. Ugh.. jelas halaman ini saya baca
cepat tanpa pemahaman sama sekali (>_<) Lagi pula setelah saya
perhatikan, rumus yang dibuat Colin tentang Tercampak dan Pencampak ini hanya
menjelaskan pola kemungkinannya namun tidak bisa mencegahnya atau pun menjadi
rumusan untuk membuat para Tercampak menjadi si Pencampak. *bingung? Saya
sendiri juga bingung 😀 Ha..ha.. abaikan sajalah*
Tapi, terlepas
dari kedua alasan tersebut, ada pula hal menarik di dalam buku ini yang menarik
untuk diikuti. Pemikiran-pemikiran Colin tentang hubungan manusia khususnya
tentang pola interaksi manusia yang mencampakkan dan yang dicampakkan. Lucu
membaca obsesi Colin menemukan Katherine I hingga XIX. Yang ternyata berawal
dan berakhir di orang yang sama. 
Kehadiran
Lindsey dan kota Gutshoot dalam cerita benar-benar menghidupkan keseluruhan
cerita. Cerita petualangan Colin di Gutshoot penuh pengalaman menarik. Penuturan
dengan alur campuran pun melengkapi pemahaman pembaca tentang kisah Colin dan
seluruh Katherine yang datang di hidupnya.
“Masa
lalu, seperti yang dikatakan Lindsey kepadanya, adalah kisah yang logis. Masa
lalu adalah kesan tentang apa yang terjadi. Namun, karena belum terjadi untuk
diingat, masa depan tidak perlu masuk akal sama sekali. (Hal. 299)