Penulis: Abigail Lomo, Arniyati Amin, Atik Wibowo, dkk

Editor: Unisa Sagena
Layout & Pewajah Sampul: Abu Ashim Mujtaba Mafaza
Penerbit: Kappung Beruq-Beruq (KBB) Press
Cetakan: I, Maret 2013
ISBN: 978-602-7826-05-2
“Apa yang dilakukan (perempuan Mandar) dalam
buku ini sangat baik. Menulis buku itu hal yang positif. Yang perlu diingat
adalah agar tidak menjelekkan pihak lain…”
Amma Cammana Parrawana Towaine
Pemain rebana
tradisional, penerima penghargaan Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden RI
sebagai maestro seni tradisional Indonesia
“Eksistensi
dan potensi Perempuan (dengan P besar) adalah kenyataan sejak hadirnya Manusia
dan Kebudayaan di bumi. Di mana pun, dan di masa mana saja. Di sini terbukti
lagi. Saya menyampaikan penghormatan kepada para penulis atas karya ini. Saya
mengharapkan, malah merindukan mosaik tulisan-tulisan selanjutnya dari hati dan
pikiran Perempuan Mandar di abad ke-21”
Suradi Yasil
Budayawan, penulis buku “Republik Korupsi”
dan “Puisi Mandar Kalindaqdaq”
“Saya menangkap semangat yang dahsyat dari
upaya penerbitan buku ini, setidaknya karya ini menjadi catatan emas bagi
perkembangan literasi di Tanah Mandar. Sukses kepada semua penulisnya!”
Darwin Badaruddin
Sastrawan, birokrat, penulis antologi puisi
“Potret Hitam Putih”
“Buku ini membalikkan persepsi selama ini
bahwa dunia intelektual manusia Mandar hanya dilakoni kaum lelaki. Selain
persepsi yang keliru, sebab dibalik prestasi seorang lelaki ada wanita hebat,
peran serta wanita dalam peradaban Mandar kadang tak tampak di permukaan.
Menariknya, sekali peran tersebut terkuak, mereka masuk di jajaran pahlawan
atau maestro. Dalam sejarah Mandar hanya ada dua orang Mandar yang mendapat
predikat tersebut, yakni Andi Depu dan Cammana. Keduanya bukan lelaki, tapi wanita.
Sepertinya penulis-penulis buku ini akan menjadi bagian dari tradisi tersebut.”
Muhammad Ridwan Alimuddin
Peneliti, penulis buku
‘Orang Mandar Orang Laut’, ‘Sandeq, Perahu Tercepat Nusatara’, dan ‘Mandar Nol
Kilometer’
“Membaca tulisan-tulisan di dalam buku ini
seperti melihat kapal putih yang ingin segera membawaku pulang. Menengok
kampung halaman, berbincang dengan luluareq (saudara), bermain di pantai sambil
mengejar perahu Sandeq kecil, mengejar Sayyang Pattuqduq sambil berjoget di
antara Paqdego dan Parrawana. Duh, Majene, Mamuju, Polewali, Mamasa,
Pasangkayu, Ulu Salu, Wonomulyo, Malunda, Pamboang, dan beribu kampung
halamanku yang lain: “Tanah Mandar, aku rindu kau…!!”
Bustan Basir Maras
Pendamping Komunitas
GoeBOeK Indonesia, penulis buku ‘Damarcinna’, ‘Negeri Anak Mandar’, dan ‘Ziarah
Tanah Mandar’
***
Buku ini
“Analekta Beruq-Beruq” ini berisi buah pikiran sejumlah perempuan Mandar.
‘Mandar’ dalam buku ini dimaknai sebagai “…wilayah
geografis yang meliputi PUS (Pitu Ulunna Salu) dan PBB (Pitu Baqbana Binanga)
yang kini secara geografis meliputi Propinsi Sulawesi Barat yang didiami
berbagai ras dan suku bangsa.
” (hal. 247) Pemaknaan ini membuat luas ruang
lingkup bahasan serta latar belakang penulis-penulisnya. Ini terbukti dengan
melihat bahwa sejumlah penulis di buku ini ada yang tidak lahir di litaq (tanah) Mandar, namun punya
perhatian dan kecintaan pada tanah tersebut.

Kata Beruq-Beruq adalah bahasa Mandar untuk bunga melati. Judul Beruq-Beruq ini sengaja dipilih karena dianggap bisa merepresentasikan perempuan-perempuan Mandar. Bunga Melati sangat harum jika bersama-sama dan semakin layu. Ini harapan bahwa perempuan-perempuan Mandar setelah “matang” atau dewasa bisa terus indah dan ketika “malassu” atau layu semakin semerbak wanginya. Selain itu, beruq-beruq banyak digunakan di kegiatan adat Mandar dan bahkan jadi pelengkap pakaian adat perempuan Mandar yang disebut “beruq-beruq simbolong”.

 beruq-beruq simbolong, hiasan rambut di dekat telinga

 Sejujurnya,
bahasan budaya dan kekhasan Mandar dalam buku ini tidak begitu banyak. Namun
bukan berarti tidak ada. Beberapa tulisan yang sangat kental bahasan tentang
budaya Mandarnya adalah:


– tulisan Sri
Musdikawati yang berjudul ‘Kalindaqdaq, Fungsi Sosial dan Pelestariannya’ yang
membahasa salah satu jenis karya sastra khas Mandar. Kalindaqdaq merupakan sastra lisan yang sudah lama berkembang di
Mandar. Tulisan ini mengupas lebih banyak tentang kalindaqdaq, tentang karakteristiknya, nilai-nilai yang terkandung
di dalamnya, serta fungsi sosial kalindaqdaq
di masyarakat Mandar. Tulisan ini menjadi salah satu wujud gerakan untuk tetap
mempertahankan budaya Mandar ini agar tidak kalah oleh kemajuan teknologi.
-tulisan Syahida
Saidi, ‘Inferioritas Perempuan Mandar: Antara Fakta dan Mitos’, secara kritis
mengangkat tentang hubungan budaya dan posisi perempuan dalam kehidupan
masyarakat Mandar. Ia membahas konsep “sibali
parri”
yang berkembang dalam hubungan suami-istri di Mandar. Dalam konsep
ini, perempuan ditempatkan sebagai partner laki-laki. Interaksi suami-istri
dalam konsep ini menunjukkan bagaimana mereka saling mengisi satu sama lain.
Suami bertugas mencari ikan, istri mendagangkan. Saat suami pergi melaut, perempuan
menenun lipaq saqbe (sarung sutera
Mandar).
– Ada pula
tulisan Arniyati Amin yang membuat selera makan tergugah. Judul tulisannya saja
sudah jelas menunjukkan bahasannya, ‘Kuliner Mandar: Loka Anjoroi, Loka Sari,
Jepa, dan Sokkol Lame Ayu’. Di tulisan ini dibahas manfaat dari bahan utama
pembuatan makanan khas Mandar yakni pisang dan ubi kayu (ketela). Penulis juga
menyertakan resep membuat Loka Anjoroi, Loka Sari dan Jepa. Mudah dan praktis.
Selain bahasan
budaya dan kuliner, buku ini juga memuat berbagai bahasan umum yang memperluas
khasanah keilmuan. Ada bahasan tentang sejarah feminism; ada pula pembahasan
tentang global warming dan peran perempuan
dalam menghadapi hal ini; ada pembahasan tentang bagaimana merencanakan
keuangan keluarga; hingga manfaat garam yang ternyata tidak hanya untuk bumbu
dapur semata.

Jepa. (Sumber foto: Pusvawirna Natalia Muchtar)
Di buku ini
pembaca juga disuguhi pengalaman hidup penulis-penulisnya, baik yang bisa
menggambarkan kondisi geografis Mandar, hingga pengalaman hidup terkait kedekatannya
pada buku maupun perjuangannya meraih cita-cita.
Buku ini bisa
disebut kumpulan tulisan “gado-gado”, namun ada satu benang merah yakni
kedekatannya pada Mandar. Baik kedekatan penulis maupun kebermanfaatan tulisan pada
tanah dan budaya Mandar.
Keberadaan buku
ini diharapkan bisa menjadi tonggak bagi munculnya penulis-penulis perempuan.
Hal ini karena dalam sejarah literasi di Mandar, nama penulis laki-laki sangat
mendominasi.

Narsis bersama buku Analekta Beruq-Beruq

 Review ini saya ikutkan dalam Baca Bareng BBI bulan Agustus 2014