“For
me, writing is more than passion. It’s a dedication.” (Hal. 66)

“Buku
mengandung banyak pelajaran, tapi tidak ada yang lebih baik dari sebuah
pengalaman.” (Hal. 167)


Penulis: Putri Sarah
Olivia
Editor: Nickyta
Pramudia, Yuki Anggia Putri
Desainer sampul: Satrio
Abe
Penerbit: Esensi
(Divisi dari Penerbit Erlangga)
Cetakan: 1, 2015
Jumlah hal.: 183
halaman
ISBN: 978-602-7596-94-8
Laudy
menyimpan perasaan cinta terhadap Oliver. Persahabatannya dengan Sofia, teman
sekelasnya yang cantik dan juga menyimpan perasaan pada Oliver, tidak
menggoyahkan perasaannya. Laudy tetap berharap Oliver dapat mencintainya juga,
namun harapannya menipis ketika komunikasi mereka terputus saat Oliver
melanjutkan sekolah di Kanada.
Selang
beberapa tahun kemudian, Laudy bertemu Andre yang ingin membuat film
berdasarkan novel karangan Laudy. Andre mengisi hari – hari Laudy dan
memberikannya harapan akan kesempatan dan cinta yang baru.
Namun
ketika Andre menarik diri dan Laudy bertemu kembali dengan Oliver di Vancouver,
apa yang harus Laudy lakukan? Bahkan setelah Laudy mengetahui penyebab Andre
terpaksa memutuskan untuk menjauh darinya, mampukah ia menentukan pilihan
antara kenangan masa sekolah dan harapan baru yang terancam sirna?
***

“Benci
itu lebih dalam daripada tidak suka. Dengan benci kita tidak dapat melihat sisi
positif dari suatu objek.” (Hal. 13)

Novel
ini bercerita tentang kehidupan Laudy. Hubungan percintaannya yang tidak mudah.
Bertahun – tahun ia menyimpan rasa cinta pada seorang pria yang berada di belahan
bumi lain yang tidak menyadari perasaannya. Laudy sudah menyukai Oliver saat
mereka masih sama – sama sekolah di Jakarta. Laudy masih tetap menyukai Oliver
meski Oliver telah berada jauh di Vancouver sana dan jarang berkomunikasi
dengannya.
Namun
suatu hari, hadir sosok lain dalam hidup Laudy. Dia adalah Andre, laki – laki
yang berprofesi sebagai produser. Ia tertarik mengadaptasi novel Laudy menjadi
film. Bahkan Andre meminta Laudy menjadi pemeran utamanya.
Selama
proses produksi, Laudy dan Andre menjadi dekat. Namun di satu titik sikap Andre
menjadi berbeda. Ia menjauh dan bahkan kemudian mengajak tunangannya, Jasmine,
untuk ikut dalam perjalanan tim produksi film mereka ke Vancouver. Di sana
Laudy kembali dekat dengan Oliver.

Namun
hati Laudy dihimpit bimbang. Siapa yang benar – benar dicintainya? Oliverkah?
Atau Andre? Bagaimana jadinya kehidupan percintaan Laudy?

“Look,
your luck is your luck. Don’t listen to other’s negative voices. Catch your
dream and do it for yourself. Don’t do it for others; not for your parents, or
friends, or anybody else for that matter.” (Hal. 15)

***

“…
aku sungguh yakin, hati ini tak mungkin menunggumu selamanya, percaya atau
tidak waktu akan memulihkanku.” (Hal. 158)

Novel
Antosianin ini adalah novel perdana Putri Salah Olivia. Novel yang diterbitkan
oleh Penerbit Esensi ini lebih diperuntukkan bagi remaja dan dewasa muda.
Dengan konflik percintaan sebagai masalah utamanya.
Novel
ini dibuka dengan pembicaraan tentang impian. Novel ini kemudian lebih banyak
mengetengahkan kisah percintaan Laudy. Patah hatinya, cinta diam – diamnya, dan
sakitnya di-PHP-in. He..he..
Perjalanan
Laudy ke Jerman dan ke Vancouver pun menarik. Sayangnya, deskrpsinya masih
kurang mengalir. Terlalu kaku dan lebih banyak telling daripada showing.
Penyebutan kata “kelam” akan lebih menarik jika digambarkan dalam kalimat –
kalimat deskriptif tentu akan lebih menarik. Selain itu, di halaman 25
dituliskan tentang Laudy yang minum dari keran agar tidak dehidrasi rasanya
kurang sesuai dengan penggambaran yang menyebutkan bahwa saat itu sedang musim
dingin. 
Konflik
ini menarik. Dan karena berhubungan dengan percintaan seharusnya lebih banyak
mengetengahkan tentang konflik perasaan. Sayangnya, emosi tokoh – tokohny
terlalu cepat berubah. Perasaan Laudy berubah dalam hitungan menit. Dari yakin
cinta sama Oliver trus tahu – tahu patah hati karena Andre. Bahkan tokoh Oliver
pun perasaannya berubah dengan cepatnya. Ini membuat pembaca kurang bisa
menyelami seluruh cerita karena hal ini.
Oiya,
salah satu kelebihan buku ini adalah banyaknya filosofi menarik yang dimasukkan
ke dalamnya. Meski juga cukup disayangkan karena tidak meresap masuk ke dalam
cerita. Filosofi ini lebih banyak dipakai untuk menganalogikan berbagai hal.
Menjadi bagian percakapan saja.
Oiya
satu percakapan yang cukup berkesan bagi saya adalah adegan yang terdapat di
halaman 153 saat Laudy bertanya pada ibunya, apakah dosa jika seseorang yang
telah menikah tetapi menyayangi kekasihnya yang dulu. Ini jawaban ibu Laudy:

“Tidak.
Hal itu tidak mungkin terjadi. Manusia sejati akan sibuk memikirkan pasangan
hidup dan buah hatinya ketika ia telah menikah. Bukan dirinya sendiri, dan
bukan pula masa lalunya.”

Bagaimana? Obrolan yang
menarikkan? 😉
Terakhir,
ada satu hal yang mengganggu saya. Cerita tambahan yang mengawali chapter
tertentu tentang tanah, daun maple, pria da seorang gadis. Hm.. diksinya memang
bagus, tapi logika ceritanya tidak terbaca oleh saya. Akhirnya tidak saya baca
dengan seksama karena terkesan gak penting dan kurang menarik.
Nah, itu saja sedikit
ulasan dari saya untuk novel Antosianin.

“There
is some good in this world, and it’s worth fighting for.” (Hal. 16)

***

“Memiliki
mimpi adalah pilihan, namun persoalan meraihnya adalah kesukaran. Butuh usaha
dalam melengkapi keajaiban mimpi.” (Hal. 49)
“Catching
up with those we love the most might be the best part of sweet things in life,”
(Hal. 65)
www.erlangga.co.id