“Dari
sejarah ini kita bisa belajar bahwa masa depan dan warna sebuah bangsa atau
negara, sangat ditentukan oleh menu pendidikan yang dihidangkan kepada generasi
penerusnya.”(Hal. xxviii)


Penulis:
Habiburrahman El Shirazy
Editor:
Syahruddin El-Fikri
Cover:
Ade Fery
Penerbit:
Republika
Cetakan:
I, November 2014
Jumlah
hal.: xxxvi + 574 halaman
ISBN:
978-602-8997-95-9
Kehadiran novel Api Tauhid ini sangat pas
dengan perkembangan dunia Islam saat ini. Pada saat dunia Islam dihadapkan pada
persoalan radikalisme dan kaburnya orientasi peradaban.
Kekuatan sebuah novel sejarah tentu terletak
pada kemampuannya dalam menampilkan peristiwa sejarah secara indah dan menawan.
Novel menjadi sarat dengan hikmah sejarah yang berfungsi untuk menjadikan
peristiwa masa lalu sebagai pengingat dan pelajaran bagi generasi sesudahnya.
Sejarah yang merupakan pengalaman masa lalu (mati) dalam novel ini menajdi
hidup kembali (living history),
memberikan ibrah yang luar biasa. Inilah yang dihidangkan novel Api Tauhid ini.
Kemampuan untuk menghidupkan kembali peristiwa
di balik tokoh berpengaruh dan penuh “keajaiban”, Sang Mujaddid Baiduzzaman
Said Nursi, merupakan daya tarik tersendiri dalam novel ini.
Siapa pun yang mengidamkan dan ingin
mewujudkan pertemuan berbagai peradaban yang berbeda-beda itu dalam balutan
cinta dan penuh perdamaian – bukan pertentangan dan permusuhan (clash of civilization) – harus membaca
novel Api Tauhid ini.
Ini bukan hanya novel sejarah yang
menyadarkan, tapi juga novel cinta yang menggetarkan. Penulis novel Ayat Ayat
Cinta yang legendaris itu meramu kisah cinta berbalut kesucian yang menciptakan
keajaiban. Ya, cinta yang suci selalu melahirkan keajaiban dan keteladanan.
Novel Api Tauhid ini menyuguhkan hal itu. Selamat membaca!
***
Habiburrahman
kembali mengisahkan perjuangan seorang anak santri. Kali ini dengan tokoh
bernama Fahmi yang menggandrungi kisah sejarah. Baginya “Keindahan sejarah tiada
bandingnya. Karenanya salah satu muatan Al-Quran adalah sejarah Nabi dan umat
terdahulu agar kita menyelami lautan hikmah dalam keindahan.” (hal. 9)
. Kali ini pengejarannya atas kisah
sejarah seorang tokoh besar Turki tidak hanya karena minatnya semata. Ia sedang
butuh penyejuk hati yang bisa membuatnya mampu berpikir jernih dalam menghadapi
persoalan yang tengah menderanya.
Fahmi
tengah berduka akibat cinta pada istri yang dinikahinya secara sirri, Firdaus Nuzula, tengah meminta
cerai darinya tanpa alasan yang jelas. Nuzula adalah anak Kyai Arselan, seorang
pemilik pesantren yang cukup besar dan amat dihormati oleh Fahmi. Hatinya
semakin resah saat sang Kyai sendiri yang meminta Fahmi menjatuhkan talak pada
Nuzula namun tetap saja tanpa penjelasan yang berarti.

Akhirnya
Fahmi pun menuruti ajakan sahabat-sahabatnya yang peduli padanya untuk ikut
pulang bersama Hamza, teman kuliahnya di Universitas Islam Madinah dan berasal
dari Turki. Ditemani Subki, teman kuliahnya yang juga berasal dari Indonesia,
mereka pun bertolak menuju Turki. Sesampainya di Turki, rombongan mereka
bertambah dengan kehadiran Bilal, Aysel dan Emel yang merupakan kerabat dan
kawan Hamza. 
Setelah
itu perjalanan menapak tilas jejak Badiuzzaman Said Nursi pun dimulai. Kisah
hidup tokoh ini benar-benar menginspirasi. Said Nursi sangat besar cintanya
pada ilmu sehingga di usia yang masih sangat muda melalui berbagai perjalanan
demi menuntut ilmu dari satu ulama ke ulama lain. Hingga saat usianya masih
sangat muda, 15 tahun, keilmuannya sudah setara dengan mereka yang telah
menuntut ilmu hingga puluhan tahun.
Sepanjang
perjalanan mereka mendatangi kota-kota di Turki seraya menyusuri kembali jejak
Said Nursi, kisah hidup Said Nursi diceritakan oleh Hamza. Kearifan Said Nursi
nampak saat Hamza bercerita tentang pidato yang dibacakan oleh Said Nursi saat
Ottoman Turki mulai guncang.

“Lima
pintu surga itu, tak lain dan tak bukan adalah lima pilar yang harus dimiliki,
dihayati, dan diamalkan suatu bangsa agar surga ketentraman,
kemakmuran,kesejahteraan, keamanan dan kemajuan bisa diraih dan dirasakan
seluruh rakyat bangsa itu. …. Persatuan, kepatuhan terhadap ajaran-ajaran
Islam, berjalannya pemerintahan yang sesuai konstitusi yang konsekuen dan
berhasil, praktik-praktik bernegara yang benar berlandaskan prinsip-prinsip
musyawarah akan menciptakan bangsa Utsmani yang mampu bersaing dengan negara-negara
maju” (hal. 335 – 337)

Kepekaan
Said Nursi dalam membaca kondisi masyarakat di sekitarnya membuatnya menjadi
sosok teladan yang baik dalam bermuamalah. Ketika berada dalam kebenaran ia
tidak pernah merasa takut, namun dalam memperjuangkan kebenaran tersebut Said
Nursi berusaha agar tetap menggunakan cara-cara yang makruf.

“Menegakkan
syariat tidak boleh dengan melanggar syariat! Syariat tidak boleh dilanggar
dengan memanfaatkannya dan berteriak-teriak demi dia, padahal bukan.” (hal.
462)

Kepekaan
dan kecerdasan Said Nursi pun membuatnya selalu berusaha merumuskan berbagai
jalan keluar bagi negerinya dan dengan lantang 
menyuarakan memperjuangkan nilai-nilai tersebut. Seperti halnya saat ia
melihat bahwa bangsanya terjebak di abad pertengahan sedangkan negara-negara di
Eropa tengah melesat maju, ia menyampaikan bahwa ada enam penyakit yang jadi
penyebabnya.

“Pertama,
mewabahnya keputusasaan, yang faktor pemicunya ada dalam diri kita sendiri.
Kedua, matinya kejujuran dalam kehidupan sosial dan politik. Ketiga, suka
kepada permusuhan. Empat, mengabaikan tali cahaya yang menyatukan sesama
mukmin. Kelima, penindasan yang menyebar seumpama penyakit menular. Kelima
[seharusnya keenam], perhatian yang hanya tertuju pada kepentingan pribadi.”
(hal. 371)

Keberanian
dan pemahamannya yang mendalam membuatnya disegani oleh musuhnya. Ia selalu
mampu menyampaikan pendapatnya sehingga para musuhnya tidak mampu membantahnya.
Berkali-kali Said Nursi didakwa karena dianggap berbahaya bagi negara namun
berkali-kali pula ia lolos dari hukuman mati meski ia pun tidak luput dari
hukuman penjara dan pengasingan. Said Nursi tidak pernah takut pada hukum
manusia. Ia selalu percaya bahwa umur manusia itu di tangan Allah bukan di
tangan selainNya.
Dalam hal
pendidikan, Said Nursi memperjuangkan sebuah sistem pendidikan di mana ilmu
pengetahuan dan nilai-nilai Islam bisa berdampingan.

“Said
Nursi tidak menolak ilmu modern sebagai sunnatullah mengikuti kemajuan zaman,
namun akar jati diri yang berpijak pada nilai-nilai rabbani tidak boleh hilang.
Karenanya, Said Nursi menawarkan sistem pendidikan komprehensif yang memadukan
pendidikan agama dan ilmu modern secara seimbang.” (Hal. 326)

Kisah
perjuangan Said Nursi dalam mempertahankan nyala api tauhid yang berusaha
dipadamkan oleh orang-orang yang tidak ridho melihat kejayaan Islam. Setelah
kekhalifahan Turki Ottoman berakhir, lahirlah Turki yang sekuler. Sistem
sekuler ini berusaha menjauhkan bangsa Turki dari Islam. Mereka dilarang
menggunakan bahasa Arab, dilarang membaca Al-Quran, hingga dilarang adzan
dengan bahasa Arab. Semua itu bahkan diatur dengan undang-undang. Sungguh
sebuah hal yang aneh dari negara yang mengaku sekuler.
Ada salah
satu fenomena yang dikisahkan dilihat Said Nursi yang cukup menggelitik yang
membuat saya berfikir, “Indonesia banget.” Yaitu yang dikemukakan di halaman
517 tentang sikap seorang yang mendebat seorang alim ulama hingga nyaris
mengkafirkannya akibat perbedaan politik semata. Sedang di waktu yang sama ia
memuji-muji seorang yang munafik karena memiliki pandangan politik yang sama
dengan dirinya. Kondisi ini pun kerap kali ditemui dalam masyarakat Indonesia.
***
Kisah
Badiuzzaman Said Nursi di dalam novel ini sungguh menarik untuk diikuti.
Sayangnya, kisah Fahmi yang diciptakan oleh Habiburrahman malah tenggelam.
Konflik dalam kehidupan Fahmi kurang tereksplorasi dengan baik. Selain itu
tidak ada masalah yang berarti selama perjalanan Fahmi dan kawan-kawan
berkeliling Turki. Konfliknya kehidupan Fahmi malah dikupas di awal dan akhir
cerita. Seolah sebuah kisah yang terpisah dari cerita Said Nursi. Seolah salah
satu adalah tempelan bagi yang lainnya.
Begitu pun
bahasan sejarah di dalam novel ini. Disajikan kurang smooth sehingga bisa membuat jemu pembaca. Penjelasan panjang
tentang sejarah Turki kurang terintegrasi dengan kisah Said Nursi.
Selain
itu, dalam penokohan tokoh Fahmi ini too
good to be true
. Laki-laki soleh yang dikagumi perempuan. Bahkan dua
perempuan yang ada dalam rombongan tersebut dikisahkan memiliki ketertarikan pada Fahmi, padahal selain Fahmi masih ada 3 laki-laki lain yang juga memiliki kelebihannya masing-masing. Karakter tokoh utama seperti ini selalu ditampilkan dalam novel-novel karya Habiburrahman El Shirazy.
Ada pula hal lain yang perlu diperhatikan oleh editor untuk diperbaiki di cetakan berikutnya, yaitu ada inkonsistensi pada penggunaan kata “aku” dan “saya” yang nampak di
halaman 28. Terdapat pula cukup banyak kesalahan penulisan di dalam buku ini.
Bisa jadi ini karena jarak penulisan buku dengan masa terbit hanya 2 bulan –
tertera di akhir cerita tanggal 26 September 2014 dan naskah ini diterbitkan
pada November 2014.
Ada pula
hal lain yang mengganggu kenyamanan saya membaca. Yakni saat di bab tiga,
penulis menggunakan sudut pandang orang pertama. Padahal di keseluruhan cerita
menggunakan sudut pandang orang ketiga. Bahkan sudut pandang orang pertama itu
tidak digunakan di seluruh bab tiga. 
Tapi
secara keseluruhan kisah Said Nursi di dalam buku ini  benar – benar menginspirasi. Selain itu
sejarah Turki pun bisa menjadi sebuah refleksi bagi bangsa Indonesia.