Siang ini Aleutian! nggak jalan-jalan
menyusuri kota Bandung. Kali ini kita menyusuri kehidupan (tsaaahh) melalui
apresiasi film. Ya, Le Grand Voyage adalah film yang dipilih untuk menghabiskan
waktu sambil menunggu info adzan Maghrib di TimeLine Twitter (ha..ha.. generasi
zaman sekarang..)
Berikut
profil Le Grand Voyage
Directed by
Produced by
Written by
Starring
Distributed by
Pyramide Distribution
Release date(s)
  • September 7, 2004
Running time
108 minutes
Le Grand Voyage adalah sebuah film berbahasa
Perancis tentang perjalan seorang ayah dan anaknya menuju Mekah untuk
menunaikan ibadah Haji. Film ini diawali dengan kesibukan sang anak, Reda, yang
tengah memperbaiki sebuah mobil. Setibanya di rumah ia mendapat kabar bahwa ia
harus menggantikan kakaknya menyupiri sang ayah ke Mekah. Hal ini karena
kakaknya, Khalid, ugal-ugalan di jalan sehingga SIM nya dicabut. Jadilah dengan
berat hati ia menemani sang ayah menempuh perjalanan tersebut.
Berangkat dari Perancis, perjalanan sejauh
5.000 km itu pun menjadi sebuah perjalanan panjang dengan banyak ibrah
(hikmah). Namun jangan salah, meskipun membahas mengenai perjalanan haji ayah
Reda, namun dimensi keislaman dalam film ini tidaklah menjadi hal yang paling
ditonjolkan. Film ini mengangkat Islam dari sudut pandang yang berbeda.

Ayah Reda adalah seorang Muslim Maroko yang
telah tinggal di Perancis selama 30 tahun. Reda sendiri lahir di Perancis. Maka
dalam film ini akan terlihat bagaimana sang ayah tidak memaksa anaknya untuk
shalat seperti yang sering kita temui di budaya ketimuran. Sepanjang film,
setiap kali sang ayah shalat maka Reda nampak hanya memandangi saja, tidak ikut
shalat dan tidak diajak pula oleh sang ayah. Kepergiannya ke Mekah pun
benar-benar hanya mengantar, tidak ada sedikitpun niat untuk sekalian ikut
berhaji bersama ayahnya.
Perjalanan 5.000 km tersebut sering diwarnai
ketegangan. Dalam konflik yang ditampilkan di film ini kita akan menemukan
tentang perbedaan generasi tua dan generasi muda. Dimulai dari cara mereka
menikmati perjalanan, sang ayah memandang perjalanan ini sebagai bagian dari
ibadahnya, sedangkan sang anak ingin menjadikan perjalanan ini sebagai sebuah
pesiar atau jalan-jalan. Selain itu Reda yang sejak awal memang tidak dengan
ikhlas mengantar sang ayah pun menjadi gampang emosi. Perjalanan ini memberinya
rasa tertekan. Reda pun sempat marah pada sang ayah saat mengetahui bahwa
ayahnya telah membuah hp miliknya ke dalam tempat sampah.
Ketegangan kembali terjadi saat mereka sempat
nyasar dan memiliki pandangan masing-masing tentang arah jalan yang harus
mereka tempuh. Reda lebih banyak menggunakan kemampuan membacanya dan
menggunakan petunjuk peta sedangkan sang ayah mengikuti petunjuk alam yang bisa
dibacanya. Kemudian di tengah jalan mereka pun mendapat “penumpang khusus”
yakni seorang wanita bisu yang membantu mereka menemukan jalan ke Beograd. Namun
Reda tak menyukai kehadiran wanita tersebut, hal ini memunculkan perdebatan di
antara ayah dan anak tersebut.
Setelah meninggalkan wanita bisu tersebut di
sebuah penginapan, Reda dan ayahnya kembali melanjutkan perjalanan, namun
ternyata mereka terjebak hujan salju saat menuju kota Sofia. Saat menunggu
hujan salju reda, Reda kembali bertanya pada ayahnya tentang mengapa mereka
harus menempuh perjalanan ini jika bisa menempuhnya dengan pesawat terbang? Dan
inilah jawaban sang ayah,
“Saat air laut naik ke langit, rasa asinnya
hilang dan murni kembali. Air laut menguap naik ke awan. Saat menguap, ia
menjadi tawar. Itulah sebabnya, lebih baik naik haji berjalan kaki daripada
naik kuda. Lebih baik naik kuda daripada naik mobil. Lebih baik naik mobil
daripada naik kapal laut. Lebih baik naik kapal laut daripada naik pesawat.”
Jika kita mau memahami lebih jauh kalimat ini
maka banyak pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya. Hal ini kita bahas di
akhir tulisan ini saja.
Di lain waktu mereka kembali mendapat
penumpang tambahan yakni seorang pria asal Turki bernama Mustapha. Pria itu
membantu mereka menyelesaikan masalah saat pemeriksaan Pasport ketika akan
memasuki Turki. Setelah mengetahui niat mereka untuk naik haji, Mustapha
mengajak dirinya sendiri untuk ikut dalam perjalanan itu. Ayah Reda tidak
menyukainya meskipun Reda sendiri sangat menyukai pria tersebut. Ternyata penilaian
sang ayah tidak salah. Musthapa memang memiliki maksud buruk. Musthapa membawa
lari uang yang mereka siapkan di perjalanan.
Ketegangan ini menyurut saat mereka semakin
dekat dengan kota Mekah. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan rombongan
yang juga melakukan perjalanan darat menuju tanah suci ummat Muslim tersebut. Rombongan
itu berasal dari berbagai negara ada yang dari Mesir, Libanon, Sudan maupun
Suriah. Dalam moment ini terlihat bagaimana ummat Muslim merasa bersaudara meski
pun mereka berasal dari negeri yang berbeda (terutama mengingat mereka memiliki
tujuan yang sama yakni menunaikan ibadah haji).
Dalam seluruh rangkaian dalam film ini kita
menemukan banyak hikmah diantaranya bahwa sebenarnya dalam hidup ini yang
paling penting adalah proses bukan hasilnya. Manusia jika disibukkan hanya pada
hasil atau tujuan akhir saja dan melupakan prosesnya, maka kita tidak akan bisa
mengambil hikmah apapun dan belajar dari proses itu. Proses inilah yang akan
membentuk kita menjadi manusia yang lebih baik.
Dalam film ini ada moment di mana sang ayah
berkata kepada Reda, “Kamu bisa membaca dan menulis, tapi kamu buta dalam
membaca kehidupan”. Inilah salah satu pelajaran yang bisa diambil oleh generasi
muda dari generasi tua. Generasi masa kini cenderung lebih menyukai kepraktisan
dan kadang lupa menikmati dan belajar dari proses yang ditempuh saat berusaha
meraih tujuan. (saya sendiri pun masih harus belajar banyak tentang hal ini
(^_^)v)
Selain itu film ini juga menarik karena ada
sedikit kontradiksi antara sikap sang ayah yang cenderung tidak ingin dibantah
dan sikap tolerannya saat anaknya memilih untuk tidak ikut sholat seperti
dirinya. Ini mungkin lebih ke budaya. Bagi orang Indonesia dan budaya
ketimuran, agama seorang anak menjadi hal yang bisa dicampuri oleh orang tua.
Orang tua dianggap berhak menentukan sikap anaknya dalam beribadah. Namun bagi
budaya barat, hal terkait agama itu menjadi hak privat yang tidak bisa
dicampuri bahkan oleh orang tuanya.
Ya, film ini menjadi film yang menarik untuk
ditonton sambil ngabuburit. Kita mungkin bisa sekalian memaknai bahwa puasa
yang kita (ummat muslim) jalani tidak semata-mata menunggu bedug maghrib
melainkan proses yang kita alami di antara adzan subuh hingga adzan maghrib. Proses
saat merasakan lapar dan haus yang dirasakan oleh mereka yang terpaksa berpuasa
karena tidak punya uang untuk membeli makanan, sehingga kita bisa belajar lebih
banyak tentang berempati.
Puasa yang kita jalani seperti sebuah proses
pemurnian yang dialami oleh air laut sebelum turun menjadi hujan. Tinggal
bagaimana kita menjalani dan belajar dari proses itu. Ya, hari ini sekian isi
kepala saya yang berhasil “diaduk” dalam Kinealuet hari ini. Semoga besok-besok
bisa tetap belajar lebih banyak lagi.
Sumber
: