Selama
bulan Agustus saya mendedikasikan waktu membaca saya untuk mencicipi beberapa genre baru. Ya, membaca buku motivasi
bukanlah salah satu genre kesukaan
saya, dahulu. Tapi akhir-akhir ini saya merasa bahwa membaca buku-buku
non-fiksi membuat saya mendapatkan pengalaman membaca yang berbeda dan membantu
saya mengimbangi pola pikir dan perasaan saya yang mulai diwarnai oleh berbagai
kisah fiksi.
Saya
adalah orang yang percaya bahwa bacaan seseorang merepresentasikan dirinya. 
“We are what we eat – not only physically, but mentally and emotionally as well”
– Derek Rydall 
Bukankah kita adalah apa yang kita makan? Dan bukankah buku adalah makanan bagi
otak dan jiwa kita?
Saat
kesadaran-kesadaran ini muncul, saya kemudian mendapatkan kesadaran baru. Bahwa
di Agustus ini saya telah membaca dua buku yang judulnya mengandung kata “Happiness”
yaitu The Happiness Project dan Hector and the Seacrh for Happiness.
Akhirnya tercetuslah ide itu. Saya akan membaca buku dengan tema Happiness. Saya kembali membongkar stok bacaan
saya dan menemukan dua buku lain bertema sama yang kali ini ditulis oleh
penulis dalam negeri.

Dari
ketiga buku ini, hanya Hector and the Seacrh for Happiness yang
merupakan sebuah karya fiksi. Namun menariknya, karya ini pun cukup serius
membahas tentang kebahagiaan. Penjelajahan Hector ke beberaba negara ciptaan
penulis merupakan hal fiktif. Namun fenomena yang ditampilkan, simpulan, dan
pemikiran Hector adalah hal nyata yang memang terjadi. Inilah yang membuat
novel ini ternyata sangat relevan dengan bacaan saya.
The
Happiness Project
sendiri adalah sebuah buku
terjemahan yang membahas tentang seorang perempuan yang mendadak mendapatkan
kesadaran tentang “apakah dia bahagia?”. Hingga ia akhirnya memulai sebuah
proyek pribadi untuk menemukan jawabannya dan bahkan jika perlu untuk menemukan
kebahagiaan jika ia tidak memilikinya. Gretchen Rubin, penulisnya, memang
adalah seorang penulis. Sebelumnya ia telah menerbitkan beberapa buku. Itu sebabnya
saat memulai proyek ini, ia memulainya dengan riset tentang definisi
kebahagiaan. Membaca banyak buku tentang kebahagiaan. Dan ke semua ilmu yang ia
dapatkan melalui bacaannya ini tersebar di seluruh buku. Buku setebal 361
halaman ini ternyata berhasil saya selesaikan dalam 1 bulan. Ini rekor,
mengingat buku ini adalah sebuah buku non-fiksi.
Buku
lain yang saya baca adalah 89 Cara Bahagia Ala Atalia. Saya membaca
versi e-booknya yang dihadiahkan oleh SCOOP, sebuah aplikasi membaca yang saya
pasang di smartphone saya. Buku ini
ditulis oleh istri Ridwan Kamil, walikota Bandung yang terkenal dengan
kreativitasnya dan menggunakan indeks kebahagiaan sebagai salah satu tolak ukur
perkembangan kota Bandung. Buku ini diperuntukkan untuk kalangan perempuan
terutama ibu-ibu sebab Atalia membagi banyak pengalamannya sesuai dengan
posisinya sebagai perempuan, ibu, istri, dan Ibu bagi penduduk Bandung. Buku yang
ringan dan membahas secara ringkas tentang bagaimana menciptakan kebahagiaan
dari hal sehari-hari. Bukannya berusaha mencari kebahagiaan dari hal-hal yang
besar.
Buku
terakhir yang saya baca adalah Terapi Pikiran Bahagia. Buku ini
membahas tentang bagaimana medapatkan kebahagiaan melalui perubahan pola pikir.
Melalui terapi psikologis. Penulis percaya bahwa pikiran yang bahagialah yang
membuat seseorang bahagia. Sehingga kebahagiaan itu berasal dari dalam diri
sendiri bukan diri sendiri. Dalam buku ini dibahas tentang bagaimana pikiran
manusia akan mendapatkan respon dari semesta. Jika kita memikirkan hal-hal baik
maka semesta akan meresponnya dengan hal-hal baik juga. Begitupun jika kita
memikirkan hal-hal buruk terus maka semesta juga akan meresponnya dengan
hal-hal buruk, konsep Law of Attraction.
Pengalaman
membaca buku-buku bertema kebahagiaan ini ternyata memengaruhi pikiran saya.
Saya belajar banyak. Saya pun mendapatkan sedikit perubahan selama membaca. Saya
belajar untuk tidak banyak mengeluh tentang keadaan saya sebab ini bisa merusak
kebahagiaan saya. Belajar untuk semakin mensyukuri hal-hal yang saya miliki dan
tidak sibuk dengan hal-hal yang tidak saya miliki (meski saya tidak bisa
berhenti memikirkan buku-buku baru yang ingin saya miliki.. ha.. ha..).
Ya,
intinya proyek membaca yang muncul mendadak ini memberi saya pengalaman baca
yang menyenangkan. Menjauhkan saya dari kejenuhan membaca. Sekaligus memberi
manfaat bagi kehidupan saya.
Nah,
sampai jumpa di Atria’s Reading Project di bulan September yang temanya adalah “Places”
Salam
Aksara,
Atria
Sartika
Catatan:
Review untuk buku-buku ini bisa dicari di blog saya ini ya. Semoga suka. Dan jangan
segan berbagi pengalaman baca yang mungkin serupa dengan yang saya alami.