“Bagaimana
kamu bisa tahu kita nggak jodoh kalau kamu berusaha mempertahankannya saja
tidak?” (Hal. 150)


Penulis: Nadya Prayudhi
Editor: Herlina P. Dewi
Proof Reader: Weka
Swasti & Tikah Kumala
Desain Cover: Theresia
Rosary
Layout isi: Arya Zendi
Penerbit: Stiletto Book
Cetakan: 1, Juni 2015
Jumlah hal.: 258
ISBN: 978-602-7572-40-9
Hilang!
Sam,
suami Amora, sang chief editor Majalah Fashionette, mendadak hilang. Di tengah
kekalutan dan kekacauan hidupnya, Amora dihadapkan berbagai macam ujian:
anaknya bermasalah di sekolah, didekati Lody si brondong di kantornya, mendapat
simpati berlebihan dari sahabat sang suami, bertemu kembali dengan cinta lama,
dan diteror oleh seorang wanita yang tidak diketahui identitasnya. Semua itu
membuat dirinya semakin frustrasi hingga akhirnya Amora memutuskan cuti
sementara dari pekerjaannya.

Seiring berjalannya waktu, ia mulai menemukan foto-foto baru yang diunggah ke
laman Facebook Sam–yang membuat Amora semakin bertanya-tanya:

Ke manakah Sam? Apa yang terjadi padanya?

Jika dia masih hidup, mengapa tidak menghubungi Amora?

Akankah dia pulang? Atau, akankah dia menghilang selamanya?

***


… ‘a happy wife, a happy life’- itu prinsip Sam, menyontek moto seorang
selebritas.” (Hal. 20)

Novel
ini bercerita tentang kehidupan Amora, seorang chief editor di majalan fashion. Karirnya yang gemilang membuatnya
enggan untuk berhenti bekerja meskipun ia tetap sering merasa khawatir dengan
keadaan kedua anaknya di rumah. Bilal dan Sabin adalah anak Amora dan Sam.
Sayangnya,
sesuatu terjadi. Sam menghilang. Tanpa jejak meninggalkan Amora berbulan –
bulan. Membuat Amora harus merasakan banyak hal, mulai dari khawatir, kesal,
marah, rindu dan kelelahan akibat menanggung beban. Amora kini harus berperan
dobel. Ia harus terus berusaha menafkahi anak – anaknya, juga harus menenangkan
anak – anaknya yang kerap merindukan ayah mereka.
Di
tengah kondisi itu, muncul Lody. Berondong di kantornya. Lody menghujani Amora
dengan perhatian dan rayuan. Membuat Amora nyaman namun juga terus berusaha
menolak kedekatan yang ditawarkan Lody. Di sisi lain, Gavin yang merupakan
sahabat sekaligus rekan bisnis Sam menunjukkan perhatiannya kepada Amora. Ini
membuat Amora semakin bingung.
Dan
mendadak muncul update terbaru di laman Facebook milik Sam. Membuat Amora lega
sekaligus marah. Lega karena itu berarti Sam masih hidup. Marah karena jika
masih hidup kenapa Sam tidak pulang untuk Amora dan anak – anak mereka.
Ada
apa sebenarnya? Kenapa Sam menghilang? Ke mana pergi?

“Di
mataku, dia pria yang pas. Pas segala-galanya. Mengapa aku tak menyambut Sam
sempurna? Karena orang yang sempurna itu tidak pernah ada. Tapi pria yang pas
segala-galanya itu ada. Sayangnya, pria ini sekarang menghilang entah ke mana.”
(Hal. 40)

***

“Saat
sedang susah, manusia sering kali bilang, “Why me?” Padahal bisa saja Tuhan
mengatakan, “Why not?” (Hal. 95)

Saat
membaca blurb Awaiting You ini, saya
pikir akan ada adegan seru terkait detektif – detektifan. Namun ternyata saya
salah. Memang pembaca disuguhi dan bahkan ikut berpikir tentang alasan dan
tujuan kepergian Sam. Namun hanya sebatas itu saja. Tidak ada ketegangan terkait
hilangnya Sam.
Cerita
dibuka dengan kalimat yang cukup panjang. Sesungguhnya ini bisa membuat kesan
pertama kurang menarik. 
Novel
ini seluruhnya bercerita tentang kehidupan Amora setelah Sam menghilang.
Bagaimana perempuan ini menjalani kehidupannya hari demi hari. Sayangnya,
penggunaan POV 3 dalam bercerita membuat pembaca berjarak dengan emosi Amora.
Padahal jika menggunakan POV 1 seluruh pergulatan batin Amora akan lebih
personal. Lagipula seluruh cerita juga diceritakan dari sisi Amora. Semua adegan
cerita di dalam novel ini melibatkan Amora di dalamnya. Jadi tidak ada salahnya
jika memakai POV 1.
Kehadiran
tokoh – tokoh pria di sekitar Amora ini memang menarik. Namun membuat riak yang
kecil – kecil saja. Hampir saja seluruh cerita terkesan flat dan terlalu
berputar – putar dan jadi anti klimaks. Syukurlah ending cerita menyelamatkan
hal ini.
Hubungan
Lody dan Amora yang maju mundur dan kusut sendiri membawa rasa bosan. Kalau
memang tidak tertarik ya tinggalkan. Tidak usah bermain – main di sekitar hubungan
itu. Lagi pula akan ada 2 tokoh lain dengan porsi yang sama dengan Lody di
dalam novel ini. Meski Lody pun menjadi twist
tersendiri di dalam cerita.
Oiya,
sejujurnya saya sedikit terganggu saat membaca tokoh yang digambarkan beragama
Islam namun secara terbuka diceritakan minum minuman beralkohol. Meskipun harus
saya akui bahwa hal itu lumrah terjadi di dunia nyata. Tapi tetap saja saat
membacanya di dalam novel,  rasa
keberatan atas penggambaran ini tidak terhindarkan.
Selain
itu, ada sedikit kejanggalan di halaman 41. Percakapan Amora dan putrinya,
Sabin, terasa aneh. Gaya bicara Sabin kurang sesuai dengan umurnya.
Btw,
di halaman 170 saya mendadak ngakak. Ha..ha.. bisaan ya si Beamy itu. Ha..ha.. 
Secara
keseluruhan buku ini cukup bisa dinikmati. Dan ending cerita cukup bisa
mengetuk emosi pembaca. Seluruh cerita di tutup dengan baik. Dengan cerita yang
tidak terduga.

“…:
‘Sometimes good things fall apart, so better things can fall together’” (Hal.
192)

***

Puisi
yang terinspirasi novel Awaiting You

Kosong
mengungkungku dalam penantian
Ketiadaan membuatku menapaki sepi tak tertahan

Jejakmu kau tinggalkan
Menghidupkan harapan

Namun di mana kau, sayang?
Tidak kah rumah menumbuhkan rindu di hatimu?
Akankah kau mengakhiri penantianku?
Ataukah kau melangkah pergi tinggalkanku

***

“Kadang,
apa yang sudah tidak bisa kita miliki, adalah yang terbaik bagi kita. Memang
susah menerimanya. Tapi, pelan – pelan, Ibu bisa memberi waktu buat hati Ibu.
…” (Hal. 198)

 

“Yeah,
I know. Hidup itu lucu banget kok, memang. Kata orang bijak, life is a funny
thing. How much you enjoy it depends on how humorous you are.” (Hal. 227)

***