Penulis: Muhammad Ridwan Alimuddin
Penyunting: C. Sri Sutyoko Hermawan
Perancang Sampul: Rully Susanto
Penata letak: Wendie Artswenda
Cetakan: Pertama, April 2005
Tulisan ini
adalah sebuah postingan awal dari upaya mengajak teman-teman untuk ikut membaca
bersama buku “Orang Mandar Orang Laut”. Awalnya saya mengajukan usulan ini
dalam sebuah group di Facebook, namun belum ada peminatnya. Tapi saya *dengan keras kepala* bertahan
untuk mengajak orang-orang untuk membahas Bab demi Bab dalam buku ini.
Apa bedanya sih
mereview dan membaca per-bab begini? Bagi saya pribadi, membaca seperti
ini membuat saya bisa membahas lebih lengkap tentang sebuah buku. Tapi bukan
berarti akan membuat saya membocorkan seluruh 
isi bukunya kepada orang yang membaca tulisan ini. Hanya lebih teliti,
dan jadi lebih banyak belajar daripada membaca seluruh isi buku kemudian
menuliskannya dalam 1 -3 halaman tulisan.
Dalam Bab I yang
berjudul Kesahajaan Budaya Bahari Mandar penulis mengajak kita mengenal
suku-bangsa Mandar. Dari seluruh suku yang ada di Sulawesi Selatan dulunya
orang hanya mengenal suku Makassar, dan Bugis. Ketika menyebutkan Mandar, maka
akan muncul pertanyaan “Daerah mana itu?” Sejujurnya hal ini saya alami sendiri
sebagai perempuan mandar yang sejak kecil ikut merantau mengikuti orang tua,
dan kini terdampar berdua bersama adik saya di kota Bandung.
Banyak yang
tidak mengenal suku Mandar. Saat saya menyebut saya dari Sulawesi mereka akan
langsung menyebut Makassar atau “Orang Bugis ya?” Maka sejujurnya kehadiran
buku ini menjadi sebuah kesyukuran bagi saya. Buku ini diawali dengan
memperkenalkan kepada pembaca tentang suku-bangsa Mandar.

“Mandar adalah
salah satu suku-bangsa di Nusantara yang budayanya berorientasi laut”

Itu adalah
penjelasan pertama Ridwan Alimuddin tentang Mandar.  Lebih lanjut ia menyebutkan karakteristik
suka Mandar yang berbeda dengan suku Makassar atau Bugis yang  juga berorientasi laut. Ridwan Alimuddin pun
menyampaikan bahwa suku Mandar memiliki keulungan bahari yang ditemukan dalam 3
bentuk teknologi perikanan yakni:
1.      
Rumpon
2.      
Menangkap ikan sambil menghanyut di laut, dan
3.      
Perahu Sande’
Dari 3 bentuk
teknologi di atas saya lebih familiar dengan Perahu Sande’. Apalagi kini sudah ada perlombaan Sande’ yang bahkan
bertaraf Internasional seperti Sande’
Race
.
Selain itu
dijelaskan pula tentang posisi Mandar di masa lalu yang menjadi pihak yang
terpengaruh oleh kondisi hubungan Kerajaan Makassar dan Bugis. Ridwan Alimuddin
sempat merinci tentang aliansi kerajaan yang ada di tanah Mandar yakni Pitu Ba’bana Binanga dan Pitu Ulunna Salu.  Penulis juga sempat membahas secara singkat
tentang kondisi di Mandar setelah kemerdekaan dan akhirnya pada 2004 resmi
menjadi sebuah provinsi tersendiri yang berpisah dengan Sulawesi Selatan.
Selanjutnya,
pembaca diajak berkenalan dengan sosial dan budaya Bahari Mandar di Pambusuang.
Secara jelas penulis menceritakan tentang rumah nelayan Mandar yang erat
kaitannya dengan Budaya Bahari yang sudah sejak lama mengakar di masyarakat
Pambuasuang. Ridwan Alimuddin juga menjelaskan tentang jenis-jenis nelayan (Posasi’)
serta pembagian tugas mereka saaa melaut.
Ia menceritakan
bagaimana hubungan kekerabatan menjadi pondasi yang kuat bagi para nelayan
untuk membina hubungan kerja; bagaimana para nelayan ini memiliki aturan yang fair dalam kesehariannya melaut; serta
bagaimana posisi sosial seseorang ditentukan oleh pengalaman, pengetahuan hingga
kepemilikan modal.
Ridwan Alimuddin
menyampaikan secara lugas kekagumannya pada kemampuan budaya bahari Mandar
beradaptasi terhadap perubahan alam, sosial masyarakat dan zaman agar bisa terus
menumpukan hidup pada aktivitas melaut yang ia “baca” dari pengamatannya di
Kampung Pambusuang.
Dengan membaca
BAB I buku ini saya belajar banyak tentang kehidupan nelayan Mandar. Saya
sendiri walaupun orang Mandar namun belum pernah menetap lama di sana sehingga
masih asing dengan semua yang ditulis Ridwan Alimuddin. Namun ini menjadi
sebuah pengetahuan baru yang membuat saya bangga menjadi orang Mandar.
Kini saya bisa
lebih lantang menyanyikan sepenggal lagu anak-anak yang saya ingat. Sebab ternyata sejak dulu orang Mandar terkenal sebagai pelaut ulung. *bangga*

“Nenen moyangku
seorang pelaut. Gemar arungi luas Samudera.”

Oiya, saya suka
dengan tulisan Ridwan Alimuddin yang menyampaikan pengamatannya dengan cara
bercerita namun juga menyematkan data-data ilmiah untuk menjelaskan maksudnya
dan mendukung pernyataan yang ia sampaikan. (^_^)