Kebahagiaan bukanlah memiliki apa yang kita inginkan, melainkan menginginkan apa yang kita miliki.

Rabbi Hyman Schachtel

GOODBYE, THINGS

Hidup Minimalis ala Orang Jepang

Penulis             : Fumio Sasaki

Penerjemah     : Annisa Cinantya Putri

Perwajahan Isi : Fajarianto

Desain Sampul : Adaptasi sampul asli

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan           : April 2019

ISBN               : 978-602-03-9840-2

Fumio Sasaki bukan ahli dalam hal minimalisme; ini hanya pria biasa yang mudah tertekan di tempat kerja, tidak percaya diri, dan terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain-sampai suatu hari, ia memutuskan untuk mengubah hidupnya dengan mengurangi barang yang ia miliki. Maanfaat luar biasa langsung ia rasakan: tanpa semua “barangnya”, Sasaki akhirnya merasakan kebebasan sejati, kedamaian pikiran, dan penghargaan terhadap momen saat ini.

Di buku ini, Sasaki secara sederhana berbagai pengalaman hidup minimalisnya, menawarkan tips khusus untuk proses hidup minimalis, dan mengungkapkan fakta bahwa menjadi minimalis tidak hanya akan mengubah kamar atau rumah Anda, tapi juga benar-benar memperkaya hidup Anda. Manfaat hidup minimalis bisa dinikmati oleh siapa pun, dan definisi Sasaki tentang kebahagiaan sejati akan membuka mata Anda terhadap apa yang bisa dihadirkan oleh hidup minimalis.

“Coba renungkan: tak seorang pun yang lahir ke dunia dengan membawa suatu benda. Semua orang mengawali hidup sebagai minimalis. …. “ (Hal.3)

Sejujurnya, sudah sangat lama saya penasaran dengan buku ini. Namun karena letak took buku yang jauh dari jangkauan maka saya harus menunggu hingga berjodoh dengan buku ini. Dan benar saja, jodoh memang selalu datang tepat waktu. Saat buku ini tiba di tangan, maka saat itu saya memang memiliki waktu untuk lebih banyak membaca setelah beberapa bulan sebelumnya harus berpuas diri dengan membaca beberapa paragraf sehari. Di saat yang sama, saya mulai kebingungan dengan situasi rumah yang penuh tumpukan barang. Bukan hanya karena saya harus bekerja dari jam 8 pagi hingga jam setengah 5 sore dan tiba di rumah sudah hamper kehabisan energi untuk merapikan rumah, tapi memang rasanya terlalu banyak barang yang saya miliki. Tapi di saat yang sama saya merasa bahwa barang-barang itu saya gunakan.

 

Berkali-kali saya merasa perlu segera mengurangi timbunan pakaian di lemari mengingat saya tidak lagi punya waktu untuk keluar rumah untuk bersosialisasi sebab saya hanya menghabiskan waktu rumah-kantor bolak balik. Kalaupun jalan-jalan keluar rumah, hanya untuk mengajak anak-anak jalan-jalan atau membeli makanan. Bergaul atau nongkrong cantik? Sangat jarang terjadi.

 

Saya kemudian membaca buku Goodbye, Things : Seni Hidup Minimalis ala Orang Jepang ini dan semakin terdorong untuk melaksanakannya. Di sisi lain buku karya Marie Kondo tidak berhasil memberi saya motivasi yang sama. Mungkin karena metode yang didorong untuk dilakukan membutuhkan energi dan waktu yang lebih besar. Hal yang tidak saya miliki saat ini. Salah satu kiat berpisah dengan barang dari Fumio Sasaki adalah mulailah dengan membuang barang yang jelas-jelas merupakan sampah (halaman 63). Ini jelas lebih mudah karena saya tidak harus mengumpulkan setiap barang sesuai jenisnya terlebih dahulu kemudian memeriksanya satu persatu. Ini jelas lebih cocok untuk kehidupan saya saat ini yang nyaris tidak memiliki waktu luang untuk hal-hal di luar tanggungjawab harian.

 

Setelah membaca buku ini, hal paling pertama yang saya sentuh adalah dapur. Saya langsung menyingkirkan sampah yang sering kali saya kumpulkan karena merasa, “Sayang. Nanti kan bisa dipakai”. Padahal barang-barang ini pada akhirnya menjadi onggokan barang yang berdebu yang malah saya lupakan saat bisa dipakai karena sebenarnya barang primer untuk barang tersebut sudah ada. Seperti wadah untuk menyimpan barang yang merupakan wadah bekas snack atau makanan yang saya beli, tetap saja tidak saya pakai karena saya punya setumpuk wadah Tupperware yang secara kualitas tentu jauh lebih baik. Akhirnya barang-barang ini pun saya singkirkan. Alhamdulillah, kini kolong kompor yang penuh dan padat dengan dus, wadah-wadah plastik, dan lain-lain akhirnya sudah lebih lowong. Bahkan beralih fungsi untuk menyimpan panic-panci yang jarang saya pakai, namun tetap saya butuhkan saat ada tamu yang datang atau saat lebaran tiba.

 

Ah, semoga ada tulisan tambahan dari saya pribadi terkait proses menjadi minimalis ini.

***

Atriasartika - Buku Hidup Minimalis ala orang Jepang

Buku bacaan saat di kantor

“Kita tidak ‘menjadi’ bahagia. Kebahagiaanmu bukanlah hadiah yang kita terima setelah mengikuti contoh-contoh standar dalam kehidupan. Kebahagiaan tidak melekat pada pencapaian hidup tertentu dan jelas tidak disodorkan begitu saja kepada kita.” (Hal. 232)

 

Eh, kembali lagi ke tujuan tulisan ini yang ingin mengulas buku karya Fumio Sasaki. Maka, simpulan saya sangat simple, “ Buku ini sangat enak dibaca. Lugas dan tegas. Dan tetap mudah untuk diaplikasikan.” Ya, satu kalimat itu cukup merangkum kelebihan buku ini.

Buku ini enak dibaca karena cara penyampaiannya yang seperti orang yang berkontemplasi. Ia bercerita bukan menggurui melainkan berbagi pengalaman hidupnya sendiri. Ia membuka kekurangan dirinya untuk menunjukkan bahwa menjadi minimalis bukan berarti karena kita orang yang paling buruk di dunia. Melainkan karena kita ingin menjadi orang yang lebih baik.

Buku ini pun disampaikan secara filosofis dan logis. Meski lebih banyak menampilkan pemikiran mendalam dari sudut pandangnya sebagi orang Jepang (seperti yang tergambar saat ia membahas Gempa Bumi Besar Jepang Timur di halaman 24), Fumio Sasaki tetap juga mengakui bahwa di masa kini orang Jepang bukan lagi contoh utama dalam hidup sebagai minimalis.

Fumio memasukkan 55 kiat berpisah dari barang. Semuanya sangat simple. Tapi di seluruh isi buku terdapat berbagai tip dan cerita yang bertebaran yang bisa mendukung pembaca menjadi minimalis.

***

Hm.. kalau ada yang bertanya tentang perbandingan buku ini dengan buku Seni Hidup Minimalis karya Francine Jay, jawabannya adalah buku ini lebih simple. Bisa mulai dengan buku ini dulu, terus kalo butuh bacaan untuk mulai membuang barang yang lebih detail dan tersistem, maka buku Seni Hidup Minimalis akan menjadi pendukung yang baik. Sekian Ulasan Buku Ini, Semoga Para Membaca Dapat Mendapatkan Manfaat Di dalam Ulasan ini. Jangan Lupa Juga Untuk Melihat Review Buku Lainnya di sini.