Penulis: Aditia Yudis
Editor: Yulliya
Proofreader: Windy Ariestanty
Penata letak: Wahyu Suwarni
Desainer sampul: Jeffri Fernando
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Pertama, 2012
Jumlah hal.: vi + 362 halaman
ISBN: 979-780-583-2
Akan
kuberitahu kau satu hal yang paling kuinginkan saat ini….

Waktu berhenti sehingga aku dan kau terbingkai dalam keabadian.

Aku tak ingin semua berlalu, seringkas embun meninggalkan pagi. Simpan saja
kata-kata bersalut madumu. Aku tak butuh rayu, aku hanya ingin bersamamu.

Selalu.

***
Hubungan Mayra
dan Samudra telah berjalan selama 7 tahun. Mereka bahkan sudah tinggal bersama.
Namun pernikahan tampaknya masih belum siap dijalani oleh mereka. Hubungan
jarak jauh yang terjalin karena Samudra tinggal di Balikapapan dan Mayra di
Jakarta akhirnya menjadi halangan dan terus menjadi bahan perdebatan mereka.
Samudra ingin
mereka tinggal di Balikpapan, sedangkan Mayra tidak ingin meninggalkan
pekerjaannya dari Jakarta sebagai seorang editor. Kebersamaan mereka yang sudah
lama membuat mereka saling terbiasa satu sama lain. Namun ternyata pertengkaran
mereka terkait pernikahan yang oleh Mayra ingin ditunda selama 6 bulan serta
penolakan Mayra untuk tinggal di Balikpapan mulai menjadi masalah dan
memunculkan jarak di antara keduanya.

Jarak ini
ternyata cukup diisi oleh sosok masa lalu yang datang kembali. Camelia,
perempuan yang pernah membuat Samudra tergila-gila namun tidak berhasil
memilikinya secara mendadak masuk ke kehidupan Samudra. Mereka pun terbawa
suasana.
Di lain pihak,
Mayra bertemu dengan Adam Adhitya, lagitnya. Ia pernah jatuh cinta pada
laki-laki itu, namun tidak mendapat respon yang diharapkannya. Kini Adam muncul
sebagai partner dalam sebuah project  yang melibatkan skill mereka berdua. Selain
itu, Adam tanpa sengaja mengetahui rahasia yang disembunyikan Mayra dari
Samdura. Rahasia yang membuat Mayra meminta agar rencana pernikahan mereka
ditunda 6 bulan.
Cinta dan
kesetiaan Mayra dan Samudara diuji. Apakah waktu 7 tahun yang mereka lewati
bersama malah membuat cinta mereka kalah oleh rasa jenuh, ataukah cinta mereka
kian meneguh?
***
Buku ini
tergolong cukup tebal jika dibandingkan dengan buku-buku Gagas Media lainnya.
Saya tertarik membacanya karena tergoda judul, sampul, dan blurb-nya. Melihat
sampulnya berwarna biru dan gambar sepasang cincin yang tenggelam sukses
membuat saya jatuh hati.
Awal cerita
menarik untuk diikuti, namun di akhir-akhir cerita saya mulai merasa bosan.
Mungkin karena saya tidak paham tentang mudahnya Samudra terbawa perasaan saat
bersama Camelia. Selain itu sikap Camelia yang akhirnya malah menjadi pihak
yang berusaha memisahkan Mayra.
Emosi-emosi
dalam hubungan ini membuat saya bingung. Tentang kebingungan Mayra. Kenapa ia
bertahan dengan Samudra? Cintakah pada Samudra? Atau ia hanya terlalu mencintai
keluarga besar Samudra yang memberinya rasa nyaman dan aman?
Kok dengan
mudahnya rasa ingin melindungi Samudra terpancing saat melihat Camelia
menangis, namun saat Mayra yang menelponnya sambil menangis malah tidak
terbesit sedikit pun keinginan untuk langsung terbang menemui Mayra.
Dalam buku ini saya menemukan
beberapa kesalahan penulisan seperti :
kata “minggu” di halaman 3 yang
seharusnya tertulis “Minggu”.
Di akhir halaman 192 tertulis:
“Taruh di lemari ya itu, Dam,” kata Adam sambil menunjuk ke arah
jejeran lemari.  Yang benar “kata Mayra”.
Di halaman 241, paragraf 5 tertulis
“menjali” seharusnya “menjalin”
Hm, jika harus memberi nilai untuk
buku ini maka saya memberinya 3 bintang. Tadinya mau saya belri 2,5 bintang,
namun karena mempertimbangkan kesukaan saya terhadap sampulnya maka saya
bulatkan saja menjadi 3 bintang (^_^)v
***
Quote
“Mencintai
dalam jarak sama halnya memeluk bayangan – tak terlihat, tetapi nyata.” (hal.
12)
“Aku
akan menikah denganmu, tapi beri aku waktu lagi. Aku ingin sempurna untukmu,
Sayang,” (hal.14)
“Kamu
gak akan bisa menyentuh langit…, itu hanya lapisan udara yang membiaskan
cahaya. Ketika kamu terbang tegak lurus dari permukaan bumi, kamu tak akan
pernah sadar kapan kamu menembus langit. Kamu gak pernah tahu… Langit biru
itu hanya untuk matamu. Kamu hanya bisa melihat, tanpa bisa merasakannya.”
(hal. 49)
“Buat
gue, lo itu langit. Tak bisa tersentuh. Bahkan, nggak bisa gue pastikan di mana
lo ada. Gue cuma bisa liat betapa birunya lo dari permukaan tanah.” (hal. 204)
“Kalau
begitu, izinkan gue menjadi sinar matahari yang bisa turun untuk menjejak tanah
lo.” (Hal. 204)

***

 Review ini saya ikutkan dalam RC berikut: