https://delinabook.files.wordpress.com/2015/06/received_10205258616298389.jpeg
Sudah waktunya memulai Blogtour #DaysOfTerror di
My Little Library. Untuk Readers yang sudah mengikut blogtour ini sejak awal,
tentu tahu bahwa alur blogtournya menarik dan cukup beda dengan blogtour
lainnya.
Mbak Ruwi Meita menulis cerita pendek untuk diposting
dan meminta peserta blogtour menentukan kelanjutan ceritanya. Dan setelah
tantangan baru untuk Ruwi Meita dimulai. Penulis kece ini harus bisa menulis
kelanjutan ceritanya berdasarkan jawaban mayoritas jawaban yang dipilih
peserta. Dan blogtour akan  berlanjut
dengan cerita baru yang ditulis oleh Mbak Ruwi Meita.
Jadi, jangan lewatkan cerita baru Ruwi Meita dalam
rangkaian blogtour ini 😀
Mau membaca cerita pertamanya?
Dan inilah cerita ketiganya:

CERITA BAGIAN TIGA    
“Ada orang,” desisku. Kukuh memberi sinyal untuk diam. Tanganku
mencengkeram ranting dan menundukkan kepala agar lebih terlindungi. Dari sela
semak aku bisa melihat kelebatan cahaya di kejauhan. Apakah dia Bu Gayan?
Mungkin saja dia mengecek seluruh kamar dan tidak menemukanku di sana. Dadaku
berdebar-debar. Jika Bu Gayan menemukanku, alasan apa yang akan kukatakan?

            “Dia bukan Bu Gayan,” bisik Kukuh.
            “Hah?” Aku terkesiap. Bagaimana
Kukuh bisa tahu apa yang sedang kupikirkan?
            “Jangan bernapas. Dia akan
menemukanmu jika kamu bernapas.”
            “Kamu gila, bagaimana aku bisa
menahan napas lama?”
            “Jangan banyak bicara. Ikuti saja
perintahku. Dia sudah semakin dekat.”
            Aku membekap hidung dan mulutku
dengan tangan sama seperti yang dilakukan Kukuh. Seseorang sudah mendekati
semak tempat kami bersembunyi. Dia sama sekali tak bersuara. Aku bisa melihat
punggungnya dari sela semak. Dia membawa lentera di tangannya. Orang itu
memakai pakaian serba hitam, panjang sampai menutupi kakinya. Aku tidak bisa
melihat wajahnya karena tertutup tudung hitam. Yang jelas dia bukan Bu Gayan
sebab ukuran tubuhnya lebih kecil dan punggungnya bongkok. Orang itu berdiri
agak lama di depan semak. Aku semakin menutup hidung dan mulutku erat. Aneh,
meski aku tidak bernapas agak lama namun dadaku tidak terasa sesak. Begitu juga
dengan Kukuh. Dia tidak terlihat sedang kehabisan napas. Orang itu lalu
bergerak ke arah lain. Aku mengikuti bayangan gelap itu dengan mataku. Ingin
sekali aku melihat wajahnya. Pada saat itu aku baru sadar jika orang itu tidak
melangkah. Dia bergerak halus seperti ada tali kasat mata yang menariknya dari
depan. Bagaimana mungkin dia melakukannya? Aku tak bisa melepaskan mataku
darinya meski sungguh mati aku ketakutan. Tiba-tiba lenteranya padam dan dia
menghilang sekejap mata, seakan malam menelannya bulat-bulat.
“Dia itu siapa?” bisikku sambil menoleh ke arah Kukuh. Aku
terperanjat, Kukuh sudah menghilang. Kemana perginya? Mataku mengedar ke sana
kemari. Dari arah bangunan panti aku melihat bayangan Kukuh masuk ke sana. Aku
mendesah kesal, tak percaya Kukuh meninggalkanku begitu saja.
Keesokan harinya aku berusaha mencari Kukuh. Saat makan pagi aku
melihatnya lagi-lagi duduk di dekat bu Gayan. Wajahnya dingin, seakan peristiwa
tadi malam tidak mengganggunya. Aku beberapa kali meliriknya namun dia tak
pernah melirikku. Selepas makan pagi aku bergegas ke ruang baca. Kuharap Kukuh
akan berada di sana. Nihil. Tidak ada siapa-siapa di sana. Aku duduk dengan
kesal tepat di depan lukisan rumah seribu jendela itu. Mataku melekat padanya
dan secara otomatis aku menghitung jumlah jendelanya. 134. Ah, jumlahnya kenapa
bisa berubah? Terakhir aku menghitungnya jumlahnya 133.
“Jumlahnya memang berubah terus,” kata seseorang. Aku menoleh. Kukuh
sudah berdiri di ambang pintu. Lagi-lagi dia seperti bisa membaca isi kepalaku.
Kukuh menutup pintu lalu duduk di samping meja. Dia meletakkan semua peralatan
gambarnya di atas meja.
“Beraninya kamu ninggalin aku semalam,” ketusku.
“Aku sudah kasih kode untuk lari kamu bengong aja,” bela Kukuh.
Aku melekatkan punggungku ke sandaran kursi,”Jadi siapa dia?”
“Dia orang yang dilihat Tari sebelum menghilang.”
“Tari? Siapa dia?”
“Anak panti juga. Aku beberapa kali berbicara padanya. Katanya dia
melihat sosok itu beberapa kali. Setiap Tari melihatnya dia seperti dituntun
untuk mengikutinya.”
“Kapan dia menghilang?”
Hari yang sama saat kamu datang.”
Aku membeliakkan mataku.
“Baru saja? Dan kamu bilang semalam berikutnya aku yang akan
menghilang?”
Kukuh mengangguk.
“Bagaimana kamu bisa tahu?”
“Lukisan itu yang mengatakan padaku.”
“Tidak masuk akal,” bantahku.
“Kamu tidak percaya?”
Aku mengangguk keras. Kukuh memiringkan kepalanya lalu menunjukkan
beberapa gambar. Semuanya gambar anak yang berdiri di dekat lukisan itu.
“Mereka anak-anak yang dikirim kemari. Semua dalam kondisi sakit.
Kanker, tumor ganas, gagal ginjal, leukimia. Saat jumlah jendela di lukisan itu
berubah artinya akan ada anak yang datang di panti ini. Aku tinggal duduk dan
menatap lukisan itu maka aku bisa melihat siapa anak itu.”
Mataku terpicing. Cerita Kukuh semakin terasa aneh bagiku.
“Aku ngerti kamu pasti nggak paham. Mungkin lebih baik jika
kutunjukkan padamu.” Kukuh membuka buku gambarnya. Matanya menatap lekat pada
lukisan rumah seribu jendela.
“Jumlah bayangan di jendela itu bertambah. Artinya akan ada yang
datang. Itu artinya akan ada anak yang hilang.”
“Mereka hilang kemana?”
“Tidak ada yang tahu. Dan tidak ada yang berani bertanya pada Bu
Gayan. Dia juga sepertinya berang setiap kali ada anak yang hilang.”
“Jadi Bu Gayan bukan yang bertanggung jawab atas hilangnya anak-anak
itu?”
“Entahlah. Tidak ada yang berani membicarakannya.”
Aku mendesah kesal. Kukuh sudah mulai menggerakkan tangannya yang
memegang pensil. Aku tergoda untuk melihatnya. Pertama Kukuh menggambar sebuah
kepala. Tampaknya seorang anak laki-laki. Wajahnya sangat tirus. Matanya besar
dan bibirnya mungil. Wajahnya kelihatan lemah. Tidak ada pancaran kehidupan di
matanya. Lalu Kukuh mulai menggambar bagian tubuhnya. Anak laki-laki itu sangat
kurus. Kukuh baru menggambar tangan kanannya dan mulai mengarsir pakaiannya
yang lusuh. Apakah anak itu yang akan datang ke panti ini lalu aku akan
menghilang?
Aku mendongakkan wajahku dan menatap arah yang dituju Kukuh. Dadaku
berdegap kencang. Seorang anak laki-laki berdiri tepat di bawah lukisan.
Wajahnya sama dengan wajah anak yang digambar Kukuh. Hanya saja tangan kirinya
buntung. Penampakannya seperti anak yang belum selesai digambar. Kukuh memang
belum menyelesaikan tangan kiri anak itu.
“Kuh, aku melihatnya,” bisikku.
“Ehm…aku sudah melihatnya sejak tadi,” jawab Kukuh santai.
“Bagaimana dia bisa muncul di sana?”
“Tenang, dia hanya apa yang disampaikan rumah berjendela seribu. Dia
tidak nyata.”
“Lalu dia apa?”
“Semacam bayangan. Entahlah.”
“Apa dia akan berdiri di sana terus?”
“Tidak.”
Kukuh tidak berkomentar lagi. Dia terus menggambar. Aku bergantian
menatap gambarnya dan melirik bayangan anak laki-laki kurus itu. Kukuh
menuliskan tanggal yang artinya dua hari lagi dari hari ini. Perlahan Kukuh
menutup buku gambarnya dan sosok bayangan itu lenyap. Mulutkku terbuka, tak
percaya.
“Jadi aku akan hilang dua hari lagi? Tapi kemana? Apakah aku bisa
melawan?” tanyaku seperti gerbong kereta yang tiada habis.
“Pokoknya hindari orang yang kamu lihat semalam dan jangan
bernapas.”
Aku tertegun. Tiba-tiba aku menyadari satu hal.
“Kuh, semalam kita menahan napas sangat lama, tapi kenapa aku merasa
baik-baik saja?”
Kukuh menatapku. “Aku tidak pernah tahu jawabannya.”
@@@
Hari berikutnya berjalan sangat cepat. Semalaman aku tidak tidur.
Aku takut tiba-tiba orang membawa lentera itu muncul di kamarku. Pagi ini aku
menatap cemas halaman panti. Apakah anak laki-laki kurus itu akan datang besok?
Apakah semua ucapan Kukuh itu menjadi kenyataan? Di kejauhan aku melihat Kukuh
melambaikan tangan padaku. Aku bergegas menuju ke arahnya.
“Ada apa?”
“Aku tahu jalan rahasia yang akan membawamu keluar dari sini.”
“Tunjukkan padaku.”
“Tunggu sampai nanti malam, kita bertemu di sini.”
Aku mengangguk. Rasanya aku tidak punya pilihan lain.
Kali ini pembaca
tidak dihadapkan pada pilihan plot sebab cerita ini akan segera berakhir. Jadi,
pembaca harus menuliskan ending seperti apa yang mereka inginkan. Ending yang
paling menarik akan dipilih untuk cerita selanjutnya.
***
Nah, sekarang waktu ya kamu memilih lanjutan
ceritanya, Readers.
Ada 4 opsi kelanjutan cerita yang bisa
kamu pilih. Nantinya opsi terbanyak akan dibuatkan lanjutan ceritanya oleh Mbak
Ruwi Meita. Dan nantinya akan dipilih satu pemenang  untuk kamu yang sudah ikut memilih, Readers.
Ini dia 4 pilihan yang bisa kamu
pilih.
a.       Joya datang ke tempat yang sudah dijanjikan tapi
Kukuh tidak datang. Akhirnya Joya mencari sendiri dan terjebak di lubang.
b.      Kukuh dan Joya bertemu namun dipergoki Bu Gayan
akhirnya mereka dibawa Bu Gayan ke tempat yang aneh
c.       Joya berusaha menemui Kukuh namun bayangan hitam
pembawa lentera itu mengejarnya.
d.      Kukuh menunjukkan jalan rahasia namun Joya dan
Kukuh malah menemukan rahasia yang lama terpendam
Nah, itu dia 4 pilihan yang bisa kamu
pilih, Readers. Kamu mau jadi yang beruntung memenangkan 1 buku Days of Terror
langsung dari penulisnya? Yuk ikuti langkah – langkah ini:
1)      Berdomisili di Indonesia
2)      Jika mengikuti blogtour #DaysOfTerror via twitter
maka:
Follow akun twitter @RuwiMeita25 @Bukune
dan @atriasartika
Kemudian share Giveaway blogtour ini
dengan mention ketiga akun tadi dan pakai hashtag #DaysOfTerror

Jika mengikuti blogtour ini via
facebook maka:
Share informasi giveaway blogtour ini
dengan mention akun Facebook penulisnya Ruwi Meita dan akun facebook
pustakawan kita Atria Dewi
Sartika
dan pakai hashtag #DaysOfTerror
3)      Tinggalkan komentar di review Days of Terro di My
Little Library: http://atriadanbuku.blogspot.com/2015/06/days-of-terror.html
4)      Kemudian pilih satu dari 4 pilihan kelanjutan
cerita yang sudah saya sebutkan di atas.
Sebutkan juga apa yang menarik dari
cerita ini.
Dan jangan lupa sertakan data dirimu
berupa nama, akun twitter/ Facebook, dan email.
5)      Giveaway ini berlangsung dari 11 – 17 Juni 2015
pukul 01.00
6)      Pengumuman pemenang dilakukan tanggal 18 Juni 2015