“…,
gen tidak bisa dijadikan alasan aku melakukan sesuatu. Kalau mau beres ya beres
saja, kalau mau brengsek ya brengsek saja. Tidak bisa digeneralisasi.” (Hal.
178)

18692699
Penulis: Kusumastuti
Fischer
Editor: Dini Novita
Sari
Desain sampul: Farah Hidayati
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Pertama, 2013
Jumlah hal.: 328
halaman
ISBN: 978-979-22-8019-7
Mereka
terdiam.
Tanpa kata, namun bukan tanpa makna.
Ketika cinta menebarkan mantranya,
sebuah senyum mampu membuka seluruh bulir rasa.
***
Langenlois.
Wilayah perkebunan anggur di selatan Austria itu menjadi tempat Roz
menyembuhkan luka hati karena dikhianati rekan kerjanya.
Di
tengah deretan pohon anggur serta penduduk pedesaan yang ramah dan
menyenangkan, Roz berharap bisa menata lagi kehidupan pribadinya yang
terlupakan demi ambisinya berkarier.
Bjorn
Baum dan Dagny Kerulaner adalah dua pria yang membuat Roz menemukan sisi lain
dirinya. Tapi tak disangka oleh Roz, satu dari dua pria tersebut melakukan hal
keji yang nyaris membuat Roz melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.
***
Roz
adalah perempuan yang menekuni pekerjaan di dunia yang lebih banyak digeluti
oleh laki – laki. Menjadi project manager
sebuah perusahaan yang bergerak di industri baja tentu tidak mudah. Dan
kendala itu jelas terlihat saat keberadaannya sebagai “perempuan” membuat
karirnya terancam. Ia pun melakukan sebuah aksi yang ia yakini bisa membuat
perusahaan melihat semua yang telah dilakukan.
Ia
pun memutuskan untuk mengambil cuti 3 minggu. Tanpa rencana ia berakhir di
Langenlois. Ia menginap di Hannerhof yang juga merupakan guest house milik Lisa, sekertarisnya di kantor.
Liburannya
berlangsung menarik dengan kehadiran Bjorn yang memikat. Namun mendadak sebuah
masalah muncul di Hannerhof. Dan sebagai “Miss Fix-It” Roz tidak bisa tinggal
diam. Ia merasa harus membantu Liza.
Ini
juga membuat Roz semakin mengenal Dagny, pemilik perkebunan yang berada di
sebelah Hannerhof. Namun mendadak masalah menjadi runyam saat salah satu dari
dua lelaki yang memikat hati Roz ternyata telah membohonginya dan ini bisa
membuat Lisa kehilangan Hannerhof.
Dan
Roz harus bisa menyelesaikannya. Ia harus melakukan sesuatu. Harus.

***
Sejujurnya
membaca novel Blue Vino ini mengingatkan saya pada novel – novel Harlequin yang diterbitkan oleh
Gramedia. Namun bedanya, penulisnya adalah penulis dari Indonesia. Oiya satu
perbedaan lain adalah tidak adanya adegan detail untuk kontak fisik yang lebih
dari ciuman yang biasa ditemui dalam novel Harlequin.
Cerita yang disuguhi
oleh penulis cukup manis. Kisah diramu dengan apik. Cerita dituturkan dengan
mengalir sehingga sangat enak dinikmati. *deskripsinya kayak deskripsi masakan
ya :D*
Salah
satu kekuatan novel ini adalah deskripsi tempat dan suasananya cukup detail dan
menarik. Membuat pembaca bisa membayangkan perkebunan perkebunan tersebut
dengan cukup jelas.
Dalam
hal penokohan pun kuat dan konsisten. Alasan untuk setiap tindakan dan pilihan
tokohnya cukup jelas. Sudut pandang orang ketiga menguatkan hal ini meskipun
pusat cerita benar – benar berputar di sekitar Roz. Setiap scene menampilkan Roz sebagai pemerannya. Oiya, tokoh Bjorn yang diciptakan Mbak Uti termasuk salah satu tokoh yang paling nyebelin yang pernah saya baca..

Selain itu, secara emosi novel ini pun berhasil mempengaruhi saya. Saat membaca adegan di 1/4 akhir cerita saat Roz bertengkar dengan salah satu tokoh saya juga ikutan kesel dan gemes. Dan sejujurnya saya mikir,”Ini Roz kok sabar banget. Kalo saya sih udah dari tadi ngelempar barang ke orang itu.” 😀

Ah intinya,
ini Amore pertama yang saya suka. He..he.. Senang bisa mencicipinya.
Terima
kasih untuk Mbak Uti. Saya tunggu karya berikutnya ya 😀
***

Puisi
yang terinspirasi oleh novel Blue Vino

 

Mencari masa lalu di masa kini

Tak melulu menyenangkan hati


Akan ada peluh dan tangis


Dan jika beruntung


Takdir menghadiahi kelegaan sebab kekosongan itu telah penuh




Menemukan cinta sejati


Sesulit mencipta karya seni


Ada rasa di sini


Ada luka di sana


Ada tangis dan tawa yang berganti




Ingatlah,


Bisa jadi pencarian membuat lalai