“Aku
ingin kau mengerti bagaimana orang lain melihatmu. Aku ingin menunjukkan bahwa
apa yang kaulakukan berpengaruh pada orang lain … Kau harus belajara memahmi
bahwa tempatmu di dunia ini  penting. Kau
diberi kemampuan untuk memengaruhi orang lain, seperti halnya orang lain juga. Dan
sangatlah penting –bahkan vital– bagimu untuk melalukan hal yang baik dengan
kemampuanmu itu.” (Hal. 177)


Judul Asli: Here Lies
Bridget
Penerjemah: Inosensus
Rotorua
Editor: Yuki Aggia
Putri
Cover & ilustrator:
Satrio Abe
Penerbit: Esensi
(Divisi dari Penerbit Erlangga)
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: 238
halaman
ISBN: 978-602-6847-01-0
Bridget
adalah gadis yang cantik dan populer di sekolahnya. Sayangnya, ia sangat
sombong, egois, dan bersikap seenaknya sendiri. Suatu hari, gadis bernama Anna
Judge pindah ke sekolahnya. Ia langsung disukai semua orang karena sifatnya yang
baik. Sejak itu Bridget merasa dunianya jungkir balik karena semua yang
dimilikinya direbut oleh Anna, termasuk sahabatnya.
Satu
demi satu peristiwa menjengkelkan terjadi pada Bridget. Semakin ia berusaha
merebut kembali apa yang menurutnya miliknya, semakin menjauh hal-hal itu
darinya. Bridget pun tak tahan lagi. Ia melakukan sesuatu yang ekstrem tanpa
memikirkan risiko terburuknya: mencelakai diri sendiri demi mendapatkan
perhatian.
Siapa
sangka, Bridget malah terdampar di alam antara hidup dan mati. Ia tak mampu
berbuat apa-apa selain menunggu keputusan apakah ia akan hidup atau mati. Ia
hanya diberi sedikit waktu untuk menyadari semua kesalahannya dan meminta maaf
pada orang-orang yang disakitinya.
Tapi,
apakah itu cukup? Apakah ia pantas diberi kesempatan kedua? Inikah akhir hidup
Bridget?
***
Novel
ini berkisah tentang tokoh utama bernama Bridget Duke. Bridget adalah gadis
yang populer di sekolahnya. Ia menjadi pusat perhatian. Saat ia melintas,
orang-orang memberinya jalan. Sebagian besar siswa di sekolahnya ingin
berkencan dengannya dan sebagian besar siswi ingin menjadi temannya.
Namun
lambat laun banyak yang berubah. Kehadiran anak baru di sekolahnya, Anna Judge,
mempertegas perubahan tersebut. Popularitas Bridget berubah. Dari diperbincangkan
dengan penuh kekaguman menjadi dicibir. Dari yang menjadi pusat perhatian
menjadi dipojokkan. Satu persatu semuanya berubah menjadi buruk.
Mantan
kekasih yang masih sangat dicintai Bridget, Liam, dekat dan akrab dengan Anna. Sahabat-sahabatnya
menyukai Anna dan ingin mengenal gadis itu. Dan tidak butuh usaha keras dari
Anna untuk disukai semua orang. Kebaikan hati Anna yang menjadi penyebabnya. Kebaikan
hati yang kini tidak dimiliki lagi oleh Bridget.
Saat
Bridget merasa semua hal berada di luar kontrolnya, ia pun melakukan hal
ekstrim yang membawanya ke persimpangan kehidupan. Antara hidup dan mati. Ia pun
diperlihatkan satu persatu sifat dan tindakannya. Membuatnya berharap
mendapatkan satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semua. Bisakah Bridget
mendapatkan kesempatan itu? Ataukah ia harus mati dengan segudang penyesalan?

***
Novel
ini adalah sebuah novel remaja yang diterjemahkan oleh Penerbit Esensi. Temanya
menarik. Tema besarnya sebenarnya adalah bullying
namun kali ini dari sisi kehidupan pelaku bullying
di sekolah. Biasanya, yang jadi pelaku adalah mereka yang populer. Mereka yang menjadi
role model bagi siswa lain di
sekolah. Sayangnya tidak semua siswa dengan pengaruh seperti ini memutuskan melakukan
hal baik dengan kelebihannya itu.
Hal
ini pun diketengahkan dengan baik. Bagaimana rasa arogan yang memenuhi benak
Bridget karena merasa dirinya lebih baik daripada teman-temannya. Membuat dia
merasa berhak memperlakukan orang lain dengan seenaknya.
Satu
hal menarik lain yang disampaikan melalui karakter Bridget ini: kebiasaan
berbohong. Digambarkan bagaimana Bridget selalu melakukan kebohongan demi
menyelamatkan dirinya dari akibat perbuatannya. Kebohongan-kebohongan yang
lambat laun tidak bisa dia hentikan. Dia harus terus berbohong demi
menyembunyikan kebohongan yang sebelumnya. Bridget cenderung manipulatif.
Cerita
kehidupan Bridget ini bisa menjadi kisah yang baik untuk remaja Indonesia. Alur
flashback  yang dipakai ikut menghidupkan cerita. Sebab sebuah
peristiwa akhirnya dijelaskan dengan sudut pandang berbeda. Seperti quote yang ada di dalam buku To Kill A Mocking Bird:  “You never really understand a person until
you consider things from his point of view … Until you climb inside of his
skin and walk around in it.”
Novel
ini juga menyuguhkan drama keluarga, persahabatan, dan percintaan dengan porsi
yang seimbang. Saya paling suka drama keluarganya. Apalagi selama ini banyak
novel remaja yang mengecilkan porsi cerita keluarga, padahal salah satu hal
yang paling banyak memengaruhi kehidupan seseorang adalah lingkungan keluarga.
Oiya,
sekadar mengingatkan. Bagi pembaca yang selalu mengharapkan cerita yang seratus
persen logis, maka novel ini tidak bisa memenuhi ekspektasi itu. Ada satu
bagian cerita yang cukup penting yang akan sulit dijelaskan dengan logika,
namun bukan berarti tidak mungkin terjadi.
Dalam
hal penokohan, tokoh-tokohnya konsisten meski sosok ibu tiri Bridget, Meredith,
adalah sosok yang terlalu baik untuk jadi kenyataan. Sosok yang cukup naif bagi
perempuan di usianya.
***
Qoute Favorit
“Mungkin aku tidak merampas uang
saku teman-temanku, tapi aku merampas harga diri mereka.” (Hal. 207)
Kalimat
ini menunjukkan seberapa jahat sebenarnya bullying
itu. Ini menyentil pelaku bullying
yang sering kali merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Memberi tahu bahwa
apa yang ia lakukan tidak ada bedanya dengan preman sekolah yang senang memalak
uang jajan anak lain. Bahkan yang ia lakukan lebih buruk. Dan ingatlah
pengalaman menjadi korban bullying
adalah pengalaman yang tidak akan sanggup dilupakan dan bahkan memengaruhi
perkembangan psikologi korbannya. (Percayalah karena saya sendiri adalah korban
bullying semasa sekolah dulu).
***
Tokoh Favorit
Tokoh
yang paling berkesan bagi saya adalah Meredith. Memang karakternya secara
psikologi akan sulit ditemukan di dunia nyata. Namun sikap optimisnya menjadi
salah satu hal yang paling saya sukai di dalam cerita. Saat mengetahui latar
belakang pilihannya untuk menikah dengan ayah Bridget, saya semakin bersimpati
padanya. Namun tetap saja saya pun menyimpan kekesalan karena sikap “lemah
lembut” Meredith yang menurut saya malah memperburuk karakter Bridget.