“Aku
menulis, karena setiap hari harus ada yang dikerjakan manusia.
Aku mencinta, karena harus ada yang dirasakan sepanjang harinya.”
-Kaendra Salasika-
(Hal. 208)

Penulis: Vinca Callista

Editor: Septi Ws
Desainer: Teguh
Ilustrator isi: Tim
Desain Broccoli
Penata isi: Tim Desain
Broccoli
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, Juli
2016
Jumlah hal.: 208
halaman
ISBN:978-602-375-593-6
El-Visnu
Ansara mengajak Kaendra Salasika ke Bristol, Inggris, untuk memilih jurusan
kuliah yang akan diambilnya. Sebenarnya, hal itu bisa dilakukan dari Indonesia.
Tapi, Kae nggak menolak tawaran jalan-jalan gratis ke kota impiannya. Apalagi,
dia bisa pergi jauh dari adik kembar yang tidak diinginkannya.
Namun
ternyata, perjalanan ke sisi lain dunia menyeret Kae ke banyak pertanyaan
membingungkan. Tentang Elvis dan beasiswa yang diberikan untuknya. Tentang masa
lalu Elvis yang belum usai dengan Alita, cewek paling keren yang jadi idola
Kae, sekaligus pemilik flat mewah tempat mereka tinggal di Bristol.
Kae
berada di ambang krisis kepercayaan diri, sementara mimpi-mimpinya yang tinggi
terus mendesak minta diwujudkan. Bristol pun tanpa diduga mempertemukannya
dengan Greg, cowok Inggris yang mendambakan perempuan Indonesia dalam hidupnya.
Kae
tak punya banyak waktu. Ia harus segera menentukan pilihan. Dan, Bristol
menjadi saksi kepada siapa hati Kae dijatuhkan.
***
“Kau
mencari apa dalam kesepian?
Ada ketenangan di sekitar ketiadaan.”
-Kaendra Salasika-
(Hal. 84)
***
“Kadang
yang deket itu emang enggak bikin penasaran.” (Hal. 60)
Novel
Bristol bercerita tentang kehidupan seorang Kaendra Salasika,  yang penuh impian dan upayanya mewujudkan
mimpi itu. Kae sangat senang mengeksplorasi imajinasinya dan menumpahkannya
dalam bentuk tulisan. Suatu hari, nasib mempertemukannya dengan El-Visnua
Ansara, yang disapa Elvis, dalam sebuah pameran pendidikan. Pertemuan ini
ternyata mendukung Kae mewujudkan impiannya untuk bersekolah di Inggris.
Keberuntungan
ini dilengkapi dengan kesempatan untuk menjejak kota Bristol di Inggris selama
seminggu bersama Elvis. Semua biayanya ditanggung oleh perusahaan ayah Elvis
yang memberi Kae beasiswa untuk kuliah di Inggris. Saat itu, Kae bahkan tidak
mempertanyakan alasan sebenarnya Elvis mengajaknya ke Bristol meski ia
menyadari bahwa tanpa perlu ke Bristol pun dia bisa memutuskan ingin berkuliah
di jurusan dan universitas apa.
Di
Bristol, Kae dan Elvis menumpang di apartemen Alita, teman Elvis. Cewek ini
menerbitkan kekaguman di hati Kae. Ia ingin seperti Alita. Namun ternyata
kehidupan selama seminggu di Bristol bersama Elvis dan Alita membuat Kae
mempertanyakan kembali banyak hal. Mulai dari apa alasan sebenarnya Elvis
mengajaknya ke Bristol, apa arti kehadiran Elvis bagi Kae juga sebaliknya, apa
Alita memang layak dikagumi, serta ada apa dengan hatinya saat berada di dekat
Greg, serta pelbagai pertanyaan lagi.
Greg
adalah pemuda Inggris yang ia kenal lewat Alita. Teman se-band Alita. Greg
muncul berkali-kali dalam imajinasi Kae. Menjadi pangeran dalam dongeng yang
berputar di kepala Kae.
Bagaimanakah
hubungan Kae, Elvis, Alita dan Greg? Akankah perjalanan impian Kae malah
berakhir menjadi malapetaka?
“Kalau
enggak pakai imajinasi, aku enggak akan punya semangat hidup.” (Hal. 77)

***
“Kalau
kamu enggak puas dengan hasil kerja orang lain, kerjakan sendiri.” (Hal. 91)
Novel
Bristol adalah salah satu novel yang masuk dalam serial “A Love Story: City”
yang baru saja diterbitkan oleh Penerbit Grasindo. Novel ini sekaligus novel
pertama karya Vinca Callista yang aku baca dan review.
Novel
Bristol sesuai dengan judul dan temanya tidak hanya mengisahkan kisah cinta
namun mengajak pembaca mengeksplorasi sudut-sudut kota yang jadi setting tempat
dalam novel ini. Dan penulis berhasil menjadikan setting Bristol menyatu dengan
sangat baik ke dalam cerita. Tidak sekadar jadi tempelan dengan gaya bercerita
yang bisa dibaca dalam sebuah artikel jalan-jalan.
Pembaca
diajak mengunjungi Bristol Zoo Gardens, Bristol Museum and Art Gallery, Clifton
Suspension Bridge, Clifton Observatory dan Gua Santa Vincent. Deskripsi
tempat-tempat ini menyatu dengan baik dengan cerita. Ini didukung cara penulis
menampilkan Kae sebagai sosok dengan imajinasi yang sangat hidup dan
berkembang. Menampilkan sisi emosional Kae setiap melihat tempat-tempat
tersebut.
Selain
itu, cara penulis memunculkan konflik yang perlahan namun pasti ke permukaan
membuat pembaca merasa penasaran dengan akhir cerita. Bertanya-tanya, apa
pilihan yang akan diambil Elvis; apa pilihan yang dipilih Kae; bagaimana
perasaan Greg.
Namun
sedikit yang terasa kurang. Ya itu eksplorasi yang matang tentang Kae dan
saudari kembarnya. Sejak awal digambarkan Kae sangat membenci saudari
kembarnya. Bahkan ikut menggiring opini pembaca untuk membencinya. Namun
sayangnya ternyata latar belakang kebenciannya kurang kuat dan juga
penyelesaian untuk konflik kecil ini terasa terlalu cepat.
Penggunaan
sudut pandang orang ketiga dalam novel ini sedikit memengaruhi emosi yang
terbangun antara pembaca dengan tokoh-tokohnya. Meski pun digambarkan sangat
emosional hingga mudah terharu, perasaan Kae ini kurang bisa disampaikan kepada
pembaca. Pembaca sekadar memahaminya tapi tidak ikut terlibat di dalamnya.
Tapi
secara keseluruhan, novel ini menarik dan manis untuk diikuti. Motivasi untuk
mengejar impian pun terasa dengan baik di dalamnya. Jika harus membangun
asosiasi untuk “A Love Story: Bristol” ini maka ia adalah “Impian”.
Hm..kira-kira
novel lain dalam series ini membahas apa ya?
“Menurut
saya tidak ada yang salah dengan dapat bantuan dari orang lain untuk mewujudkan
impian kita. …” (Hal. 105)
***
“Imajinasi
selalu menjadikan segalanya terasa luar biasa, …” (Hal. 137)
 

Hai, Readers. Sudah
siap dengan Giveaway Bristol?

Ya, Kak Vinca Callista
sudah menyiapkan dua buah novel Bristol untuk dua pemenang. Wah asyik nih.
Siapa yang akan ikut bersama Kae menjelajah kota Bristol ya? Kamu? Yakin? Sudah
memenuhi persyaratan ini belum?
1. Follow akun twitter
@VincaCallista dan @atriasartika
2. Share link Giveaway
ini di akun twittermu dengan mention kedua akun di atas dan pakai tagar #AloveStory
#Bristol
3.
Baca review Bristol di atas, dan berikan pendapatmu tentang novel Bristol di
kolom komentar di bawah postingan ini. Jangan lupa sertakan data diri berupa
nama, akun twitter, dan email ya.
4.
Giveaway ini hanya untuk yang berdomisili di Indonesia ya.
5.
Periode Giveaway: 29 Agustus – 4 September 2016
Nah,
bagaimana? Mudahkan? Semoga beruntung ya, Readers.
Oiya,
agar tidak tertinggal informasi Giveaway lainnya kamu boleh follow blog ini.
Juga silakan cek akun instagram @atriasartika. Minimal sebulan sekali, ada
Giveaway yang berlangsung di blog atau akun instagram tersebut. Don’t miss it,
Readers
“Memori
adalah bahan baku kehidupan manusia. Menyadarkan betapa pentingnya masa lalu,
dan masa kini yang akan segera menjadi masa lalu.” (Hal. 156)
***
Kumpulan Quote dalam novel Bristol
“Kayaknya
para ibu memang selalu jadi penggemar nomor satu, ya?” (Hal. 174)
“Semua
hal bisa terasa membosankan kalau kita ngerasa sendirian, Kae.” (Hal. 176)
“…,
‘ngerasa sendirian’ itu kadang karena kita hidup dengan energi yang negatif dan
udah kemakan sugesti kalau enggak ada orang yang mau dengerin kita.” (Hal. 176)
“Waktu
berfungsi sebagai sumber daya yang terbatas bagi jatah kehidupan seorang
manusia.” (Hal. 177)
“Perasaan
dibutuhkan seketika bisa melenyapkan rasa kesepian, bahkan yang paling hening
dan menyakiti dengan tajam.” (Hal. 178)
“Nah,
bikin orang lain senang juga bisa ningkatin rasa percaya diri dan semangat kamu
buat terus bikin pencapaian, kan?” (Hal. 186)
“Manusia
hidup menggunakan memori, dan ia bisa memilih mengumpulkan memori dengan siapa
pun yang ia mau.” (Hal. 187)
“Manusia,
kan, makhluk dokumen. Kalau enggak ada dokumen, bisa jadi enggak dimanusiakan.”
(Hal. 202)