“Bram,
manusia bersedih lebih karena merasa bahwa ia sendirian menghadapi kehidupan.
Saat ia sanggup membagi kisahnya kepada orang lain, sesungguhnya ia telah
menyelesaikan sebagian dari masalah yang sedang dihadapinya itu …” (hal. 181)

Penulis: Nastiti Denny
Penyunting: Fitria Sis Nariswari
Perancang Sampul: Citra Yoona
Ilustrasi Sampul: Shutterstock & Dreamstime
Pemeriksa Aksara: Intari Dyah P. & Septi Ws
Penata Aksara: Endah Aditya
Penerbit: Bentang
Cetakan: 2013
Jumlah hal.: viii + 248 halaman
ISBN: 978-602-7888-94-4
Tahukah Kau, Sayang ….

Aku mencintaimu lebih dari apapun. Aku rela kehilangan segalanya kecuali kamu.
Aku sanggup melepas duniaku demi dunia kita bersama.

Namun, ketika waktu bergulir tanpa bisa dibendung, ketika kenyataan memaksa
untuk dipahami, ketika kesalahan memohon untuk dimaafkan, kurasa aku tak
sanggup Sayang ….

Entahlah, siapa yang harus memahami dan mengalah. Tapi mungkin, aku butuh
seribu cara untuk mengobati luka hati ini.
***
“Kehidupan
berumah tangga bukanlah hal yang mudah untuk dilalui. Terkadang cinta saja
tidak cukup,” itu adalah sepenggal kalimat yang terkadang terucap saat para
lajang bertemu dengan mereka yang sudah menikah. Ada juga yang dengan tegas
menyampaikan, “Kehidupan pernikahan itu tak seindah masa pacaran,” sambil
memasang wajah menolak didebat. Hal ini juga yang coba digambarkan dalam novel
(Bukan) Salah Waktu ini.
Dengan menggunakan
sudut pandang orang ketiga, penulis berusaha mengetengahkan sebuah masalah di
antara pasangan muda, Sekar dan Prabu. Diceritakan, Sekar menyimpan rahasia tentang
keluarganya. Ia menyembunyikan fakta bahwa orang tuanya sudah bercerai. Ini
dilakukannya karena ia melihat bahwa keluarga suaminya (sejak awal mereka
berpacaran) memiliki pandangan negatif tentang anak-anak yang berasal dari
keluarga yang broken. Namun sebaik-baiknya
sebuah rahasia disimpan, suatu hari akan terbuka juga.

Saat masa lalu
sang istri terbuka tanpa sengaja, sebuah rahasia kelam juga muncul dari sisi
sang suami. Prabu memiliki masa lalu dengan seorang perempuan cantik bernama
Larasati. Hal ini ia ketahui dari Bram, laki-laki yang baru dikenalnya dan
ternyata adalah adik Larasati. Ia diberitahu Prabu dan Larasati memiliki
seorang anak. Sekar pun memutuskan untuk menjauh dari Prabu. Ia meminta agar
Prabu memberinya ruang untuk berfikir sendirian.
Konflik yang
diangkat sebenarnya menarik. Sayangnya karakter Prabu menurut saya terasa
kurang ekspresif. Sikapnya terkesan pasif malah menunjukkan bahwa ia tidak
ingin memperjuangkan keutuhan rumah tangganya. 
Selain itu, ada
masalah yang belum dibahas dengan tuntas dalam novel ini. Yakni mengenai reaksi
keluarga Prabu atas rahasia Sekar. Seolah masalah Sekar yang menutupi
perceraian orang tuanya selesai begitu saja hanya karena Sekar mendapati Prabu memiliki
rahasia yang lebih besar. Masalah ini dibiarkan selesai tanpa penjelasan
berarti di akhir buku.
Satu hal lagi
yang kurang tereksplor dengan baik. Yakni hubungan yang terjalin antara Sekar
dan Wira. Kenapa semudah itu Sekar menerima Wira? Kenapa Wira bisa langsung
dekat dengan Sekar? Padahal Wira digambarkan sebagai anak yang susah dekat
dengan orang asing. 
Di luar beberapa
hal yang saya pertanyakan di atas, saya menganggap novel ini cukup menarik.
Masalah yang diketengahkan pun memang masalah yang tidak mustahil ditemukan
dalam kehidupan sehari-hari dan penulis menyuguhkannya dengan baik.
Saya tunggu
karya lainnya ya, Mbak 🙂