Dear Kak Nail Authar,
 
Ini memang bukan surat cinta pertama dariku
untukmu, Kak. Dan sepertinya tidak akan jadi yang terakhir. Semoga masih ada
waktu yang panjang dan banyak hal yang bisa kita rayakan bersama yang mendorongku
untuk menulis surat-surat cinta lainnya. Liburan pertama bersama, hari
kelahiranmu yang kita rayakan bersama, atau waktu-waktu yang lain akan kita
rayakan dengan kehangatan yang membuncah di dada, atau di saat aku terlalu
sulit menggambarkan perasaanku dihadapanmu. Mungkin di saat itu akan kau dapati
lagi surat cinta dariku. Entah terselip di bawah laptopmu, di bawah bantalmu,
atau kuletakkan begitu saja di meja makan agar segera kau baca.
Saat surat ini kutuliskan kita masih terus
berkawan dengan jarak. Masih dipisahkan oleh lautan. Belum bertatap muka untuk
yang kedua kalinya. Tapi bersamaan dengan itu, keluarga kita
tengah disibukkan dengan persiapan pernikahan. 
Beberapa hari lalu aku sempat
menelponmu dan berdiskusi tentang undangan. Sepele sih masalahnya, tapi
membuatku cukup frustasi karena bagiku ini masalah sensitif. Kamu kemudian
berkata,”Ya ikut saja keinginan orang tua. Lagi pula sejak awal kita setuju
mengikuti keinginan orang tua tentang resepsi. Jadi ya sudah tidak perlu
bingung. Ikuti saja. Kalau masalah seperti ini saja Ika sudah pusing bagaimana
hal yang lainnya?”
Jawaban itu benar-benar khas dirimu. Menjauhi
konfrontasi. Bersikap cuek. Berkebalikan dengan karakterku. Mendengar jawaban
itu awalnya aku kesal hingga segera mengakhiri pembicaraan. Namun jawabanmu
masuk ke benakku dan pada akhirnya aku pun membenarkannya.

Kak,
tetaplah begitu. Menjadi second opinion-ku

Tetap
jadi orang yang mampu mengingatkanku untuk melihat dari sudut pandang yang
berbeda. Mengingatkanku untuk tidak membuat masalah kecil terasa besar seburuk
apapun keadaanku.
Bagi perempuan yang sering dianggap terlalu
mandiri, aku sering kali mengambil keputusan sendiri. Mengambilnya dengan cepat
dan meyakininya sebagai yang paling tepat. Sayangnya aku sering lupa, aku
sendiri pun memiliki batasan kemampuan. Maka kehadiran seseorang yang menjadi
pemberi saran sekaligus memahami karakterku sangat kubutuhkan. 
Be my 2nd fighter. Be my 2nd opinion. Aku nggak
akan minta Kak Nail maju dan menggantikanku dalam perangku sendiri. Aku hanya
berharap kakak bisa menjadi pendukungku. Penasihatku. Penghidup semangatku.
***
Seperti yang selama ini kita bicarakan dan
sadari. Kita memiliki karakter yang berbeda. Kakak bukanlah orang yang senang
menyampaikan perasaan dalam kata. Kakak malas menghabiskan energi dengan
berbicara. Kakak lebih memilih menghabiskannya dalam tawa.
Sayangnya, tidak semua hal terjawab dengan
tawa. Terkadang ada hal-hal yang memang harus dijawab dengan kata. Itu sebabnya, rasa kesal
sedikit terpercik dari hatimu saat teman-teman di sekelilingmu sibuk menanyai
tentang hubungan kita. “Kakak malas menjawab. Lagi pula kalau pun kakak
jelaskan mereka tetap sibuk dengan spekulasinya sendiri. Jadi biarkan saja.”
Ada kesan tidak peduli di sana. Namun ada nada kekesalan di dalamnya.
Aku pun menanggapinya dengan berkata, “Lain
kali bilang saja untuk menanyakannya ke Ika. Atau baca tulisan-tulisan ika
saja. Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mereka ada di sana, kok.” Aku tertawa
sebelum mengatakannya. Menyadari bahwa ada sesuatu yang bisa kulakukan untukmu.

Aku akan
jadi juru bicaramu, kak. Menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin kau
jawab.

He..he.. untuk hal yang satu ini aku bisa
melakukannya, untukmu. Dalam batasan yang kau terima tentu saja. Dan paling
penting atas seizinmu, kak.
***
Beberapa hari lalu kakak mengirimiku BBM
yang berisi informasi tentang event menulis. Aku tersenyum membacanya.
Informasi itu tanpa didahului atau diikuti oleh kalimat apapun. Tapi aku tahu
itu bukan pesan broadcast yang kau kirimkan ke orang lain. Dan hal ini bukan
kali ini saja kau lakukan.
Kakak pasti tahu kenapa aku tersenyum?
Karena aku tahu ada kepedulian yang kau berikan. Ada perhatian yang kau
sampaikan. Kau seolah berkata,

“Lakukanlah.
Kejar mimpimu. Aku selalu mendukungmu.”

Terima
kasih. Terima kasih untuk perhatian yang tidak kau ucapkan itu.
Tahukah kakak bahwa keyakinan kakak pada
kemampuanku, dukungan kakak atas mimpiku, membuatku kian yakin mengejarnya. Satu
per satu hal baik terjadi. Salah satunya karyaku akhirnya termuat di sebuah
antologi yang beredar di toko buku nasional. Sebuah pencapaian yang ingin
kubagi bersamamu.
Semoga nanti, akan ada pencapaian lain yang
bisa kuberikan sebagai balasan atas dukunganmu. Jadi, tetaplah menjadi
pendukung mimpi-mimpiku.
Dan untuk mimpimu? Aku bingung menjawabnya. Setiap
aku bertanya apa impian kakak? Jawaban kakak adalah “Ika jadi dosen. Ika jadi
penulis. Ika sehat. Itu saja.” Manis. Tapi rasanya gemas juga. Bagiku ini
seperti kakak tidak ingin berbagi denganku. Namun lama kelamaan mimpi-mimpimu
kau bagikan padaku. Mimpi-mimpinya yang sudah lama kau rencanakan dan tengah
kau usahakan. Dan kali ini kau ceritakan sambil menyelipkan hadirku di dalamnya
dengan kalimat, “Nanti Ika jadi … Nanti Ika yang ….”
Terima kasih kak. Terima kasih karena mau
memberiku ruang dalam mimpimu. Dan semoga aku bisa menjadi pendukung terbaikmu.
***
Sebagai
penutup surat cinta kali ini aku ingin berkata.

Tetaplah yakin dengan “kita”. Seperti
keyakinan kita memilih untuk bersama.

Perasaan yakin yang kita miliki untuk
melangkah menuju hubungan yang lebih 
jauh membuahkan banyak tanya . Dari kerabat, sahabat, atau kenalan. Saat
bertanya, “Kalian sudah kenal berapa lama?” dan aku menjawab “lima bulan,”
orang-orang akan berkata, “wah, masih baru ya.”
Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah “Trus
bagaimana akhirnya kalian memutuskan untuk menikah?” Ya aku pun bercerita
tentang pertemuan kita yang baru sekali, tentang keinginanmu mengenalku lebih
dekat, jawabanku tentang keengganan berpacaran dan memintamu datang ke orang
tuaku, dan kini berlanjut sampai akhirnya Sabtu, 14 Februari lalu keluargamu
datang ke rumah melamarku.
Tanggapan orang-orang ini umumnya berbeda.
Namun intinya sama. “Bagaimana bisa? Tidak takut? Kok kamu seyakin itu? Nggak
takut salah pilih? Bagaimana dengan cinta?”
Jawabannya hanya, “Karena dia yakin. Aku yakin. Dan dia selalu bisa meyakinkanku.”

Jadi,
tetap jaga keyakinan itu, kak. Yakinkan aku jika suatu hari keraguan muncul.
Dan aku pun berusaha agar tidak ada keraguan yang menyelusup di benakmu.

Maaf jika surat ini tidak seindah surat
cinta yang ditulis seorang perempuan untuk calon suaminya dalam sebuah artikel
yang kita bicarakan.
Hanya ini surat cinta yang bisa kutuliskan
untukmu, calon imamku.  Surat yang
kutuliskan agar kelak menjadi pengingat dalam kebersamaan kita di masa depan.
Surat yang mungkin akan jadi kisah yang akan kita bagikan untuk anak-cucu.
Surat yang kuharapkan akan membuahkan doa-doa baik yang melangit untuk kita.
Amin. InsyaAllah.
Baik-baiklah di sana. Semoga perjumpaan
kedua kita bisa segera terjadi agar aku tak lupa bagaimana rupamu. Agar aku
bisa merekam ekspresi tawamu.
With Love
Atria Dewi Sartika
Calon Istrimu