“….
Kadang sikap tulus dapat menyelamatkan kita dari carut-marut dunia yang tidak
kita pahami.” (hal. 205)

Penulis:
Sinta Yudisia

Penyunting
Bahasa: Mastris Radyamas
Penata
Letak: Puji Lestari
Desain
Sampul: Andhi Rasydan & Naafi Nur Roha
Penerbit:
Indiva Media Kreasi
Cetakan:
Pertama, Dzulqo’dah 1435/ September 2014
Jumlah
hal.: 256 halaman
ISBN:
978-602-1614-33-4
Aroma mawar makin tajam tercium.
Aku menundukkan kepala, gigi gemelutukan.
Rahang saling beradu. Kedua kaki berdiri tanpa sendi, namun betis mengejang
kaku. Berpegangan pada kusen pintu, perlahan tubuh melorot ke bawah. Ada
sebaran kelopak mawar yang tercabik hingga serpihan, di depan pintu ruang
kerja. Sisa tangkai dan batang serbuk sari teronggok gundul, gepeng terinjak.
Cairan. Cairan menggenang, berpola-pola.
Aku bangkit. Terkesiap. Otakku memerintahkan
banyak hal tumpang tindih. Lari, keluar, berteriak. Atau lari ke dalam,
mengunci pintu. Atau lari masuk, menyambar telepon. Tidak. Anehnya, intuisiku
berkata sebaliknya. Tubuhku berbalik, meski melayang dan tremor, dengan pasti menuju tas. Merogoh sisi samping kanan, hanya
ada pulpen dan pensil. Merogoh sisi kiri, ada tas plastik kecil, bekas tempat
belanjaan yang disimpan demi eco living.
Segera kuambil tas plastik kecil, membukanya,
menuju ke arah pintu.
Halusinasiku harus menemukan jawaban. 
***
“Tak mudah
mengenali perasaan sendiri. Terlebih bila berlapis lapis demi lapis pertahanan
diri yang mencoba melindungi ego. Tak ingin terlihat lemah, prasangka, atau
bahkan memang sengaja ingin menyakiti diri sendiri adalah sedikit dari banyak
alasan mengapa seseorang tak mau jujur mengakui perasaan.” (hal. 44)
Banyak
yang berpikir bahwa seorang terapis atau psikolog adalah orang yang tidak akan
terjebak dalam sebuah masalah berlama-lama. Mereka bisa membantu orang lain
menyelesaikan masalah, maka itu berarti mereka lebih mampu menyelesaikan
masalahnya sendiri. Tapi ternyata anggapan ini belum tentu benar. Hal ini
ditampilkan dalam kehidupan Nararya, seorang terapis di mental health centre.
Nararya
adalah perempuan yang menjalani pekerjaannya dengan penuh dedikasi. Namun
terkadang pekerjaannya pun memberi tuntutan yang cukup berat. Ada tiga orang
pasien yang menyita perhatian Nararya secara personal. Mereka adalah Pak Bulan,
Sania, dan Yudhistira. 

Pak Bulan
adalah sosok laki-laki tua yang sangat mencintai purnama dan mawar. Dengan
mendengar monolog Pak Bulan, Nararya sering merasa diingatkan bahwa akan selalu
ada purnama yang datang. Keyakinan semacam itulah yang harus tetap dipupuk Nararya.
Bahwa akan selalu ada jalan keluar yang datang.
Sania
adalah gadis kecil yang dibawa ke mental
health centre
oleh dinas sosial. Gadis kecil itu ditemukan dalam kondisi
mengenaskan, luka dan lebam di tubuhnya. Gadis ini kemudian menyedot perhatian Nararya
karena perkembangan yang terjadi dalam dirinya.
Lain lagi
dengan Yudhistira. Polemik dalam keluarga Yudhistira muncul kepermukaan saat Nararya
menyampaikan bahwa Yudhistira sudah bisa pulang. Memang tidak dikatakan sembuh,
namun sudah lebih mampu berkomunikasi dan tidak lagi mudah kambuh. Berita ini
ternyata tidak disambut dengan gembira melainkan dengan kecemasan yang membuat Nararya
hanya bisa mengelus dada.
Kini,
ditambah lagi dengan masalah pribadinya. Angga – laki-laki yang sempat menjadi
suaminya selama sepuluh tahun – akhirnya 
menikah dengan Mozza, perempuan yang dianggapnya sahabat yang sekaligus
rekan kerjanya. Berada di posisi Nararya jelas tidak mudah. Ia masih harus
terus berinteraksi dengan Mozza tapi dengan ekstra hati-hati. Hingga suatu hari
Mozza menyampaikan pengunduran dirinya karena alasan kehamilan. Mozza hamil
anak Angga. Hal yang dinanti Nararya selama sepuluh tahun pernikahannya. Mozza
akan memberi apa yang tidak bisa diberikan Nararya untuk Angga. Namun anehnya,
Angga seolah tidak bisa melepaskan Nararya. Laki-laki itu tetap memberi
perhatian pada Nararya. Hal ini terang membuat Mozza marah dan melabrak Nararya.
Dan
sampailah Nararya di titik kulminasi. Saat ia pun mulai ketakutan akibat teror
yang muncul. Awalnya banyak orang yang mengira bahwa depresi membuat Nararya
berhalusinasi. Namun saat kejadian itu kembali lagi, Nararya pun berusaha
meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu bukan halusinasi. Ia masih bisa membedakan
antara yang nyata dan ilusi. Lantas jika itu bukan ilusi, siapa yang meneror Nararya
menggunakan mawar dan darah itu?
***
“Apakah
tak pantas sebuah niat baik mendapat tempat walau memakan waktu panjang? Apakah
segala sesuatu yang praktis dan pragmatis lebih memiliki peluang?” (hal.10)
Membaca
Bulan Nararya memberi banyak informasi tentang skizophrenia. Melalui sudut
pandang orang pertama, pembaca mengikuti pergulatan batin seorang yang memahami
ilmu kejiwaan. Pekerjaan sebagai terapis tidak membuat Nararya bisa dengan
mudah mengendalikan emosinya sendiri. Apalagi di tengah hubungan cinta segitiga
antara dirinya, Angga, dan Mozza. Harus ia akui bahwa ia masih mencintai Angga.
Belum mampu menghapus kenangan dengan mantan suaminya tersebut. Hal ini yang
membuat Nararya semakin menenggelamkan diri dalam pekerjaan.
Nararya
menyadari bahwa masalah pribadinya mulai mengganggunya. Ia sendiri mulai
menyadari bahwa depresi mulai menghantuinya. Ia mulai kesulitan tidur. Sulit
fokus. Terutama setelah mengetahui Mozza hamil dan perempuan itu datang
marah-marah karena mengetahui komunikasi antara dirinya dan Angga. Ia sendiri
jadi bertanya-tanya apakah selama ini cara ia mencintai Angga salah? Ia tidak
pernah mengkonfrontasi langsung perempuan-perempuan yang punya hubungan dekat
dengan Angga. Ini karena ia menyadari bahwa Angga akibat masa lalunya, selalu
merasa membutuhkan kekaguman dari orang lain. 
“Apa aku
yang salah, dalam mencintai Angga – seperti kata Moza – terlalu meloggarkan ikatan?
Apa seharusnya sebagai bukti cinta, kita juga harus melindungi dan menuntut
batasan?” (hal. 222)
 “Namun,
cinta saja tak cukup untuk menjembatani. Hubungan cinta kasih juga membutuhkan
pengalaman dan skill atau keahlian.
Kau bisa saja mengatakan mencintai pasanganmu dengan sangat, tapi apakah caramu
sudah cukup ahli untuk membuatnya terkesan, atau justru menjauh dan tertekan?”
(hal. 57)
Kondisi
Nararya ini membuat Ibu Sausan, pemilik mental
health centre
tempatnya bekerja yang juga terapis senior, memberikan saran
dan mengingatkan Nararya bahwa “Terapis
yang hebat, bukan mereka yang mampu menangani segala. Tapi yang tahu kapan
harus meminta bantuan dari orang lain, di titik tertentu.” (hal. 101)
Ibu
Sausan juga terus mendorong Nararya agar tidak semakin terpuruk dalam masalah
yang menimpanya. Katanya, “Otakmu harus
diasah oleh hal-hal berbau kognisi, bukan senantiasa memelihara memori.” (hal.
85)
Dan saat Nararya kebingungan dengan perhatian yang diberikan Angga
padanya, Ibu Sausan mengingatkan agar saat membaca pesan dari Angga bahwa, “Kesukaanmu mencari apa yang tersembunyi
di belakang, akan menyulitkan. Pakai saja konsep here and now. Apa yang ada di hadapanmu, itu saja.” (hal. 93)
Di lain
bagian, saat diceritakan tentang konflik yang muncul di tengah keluarga
Yudhistira, maka melalui kaca mata seorang Nararya, pembaca melihat sebuah
diskriminasi yang diterima oleh mereka yang mengalami gangguan mental. Saat
keluarga dengan senang hati menerima kabar kesembuhan anggota keluarga lainnya
yang terkena penyakit kanker, ginjal, dan sebagainya; namun lain halnya ketika
yang dinyatakan sudah boleh pulang adalah penderita gangguan mental. Buka suka
cita yang nampak melainkan cemas. Seolah kepulangan mereka akan menjadi
gangguan bagi anggota keluarga lainnya. Inilah yang dianggap Nararya sebagai
benturan yang bisa melukai penderita mental tersebut.
Bila luka
luar yang mengering harus demikian diperlakukan berhati-hati agar tak mengalami
benturan dan sobek di tempat yang sama, bagaimana luka hati penyandang gangguan
mental yang kembali ke tengah keluarga? Bukan saja dibenturkan, luka hatinya
seringkali disentuh berulang, dikoyak, dibuka lagi dan lagi.” (hal. 52)
Selain itu
di dalam novel ini, penulis mencoba meluruskan berbagai anggapan yang
berkembang di masyarakat tentang kondisi di dalam tembok sebuah pusat
rehabilitasi dan perawatan yang diperuntukkan bagi mereka yang mengalami
gangguan mental. Selama ini film-film terutama sinetron-sinetron Indonesia
lebih banyak menggambarkan bahwa tempat itu penuh dengan orang-orang yang
bersifat agresif pada orang-orang di sekitarnya. Padahal pada dasarnya
penderita skizophrenia tidak akan bereaksi kecuali ada yang menjadi pemicunya.
Di dalam
novel ini, secara tersurat saya menangkap tentang kekuatan sebuah pelukan,
kesabaran dan kasih sayang untuk membantu pemulihan orang-orang yang mengalami
gangguan mental. Hal ini amat nampak dari cara yang digunakan Nararya dalam
menangani Sania. 
Di dalam
novel Bulan Nararya ini juga digambarkan bagaimana tokoh utama menyerap banyak
hikmah dan pelajaran dalam interaksinya bersama pasien-pasiennya. Terkadang
benak Nararya dipenuh pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang membuat
pasien-pasiennya dianggap tidak normal. Lantas bagaimana dengan dirinya dan
orang-orang di sekitarnya yang dikategorikan normal? Apa yang membuat mereka
pantas dikatakan normal?
“Apa
seseorang dianggap tak normal dikarenakan dia mengekspresikan sesuatu dengan
cara yang berbeda? Apa manusia menganggap seseorang waras hanya karena dia
seperti orang kebanyakan?” (hal. 32)
Cerita
yang dituangkan dalam Bulan Nararya ini bisa menjadi pengingat bahwa setiap
manusia bisa jadi punya potensi untuk mengalami skizophrenia. Tapi kekuatan
mental masing-masing oranglah yang menjadi penentu.
“Ibarat
imunitas, manusia perlu disuntik virus tertentu. Tubuhnya akan membentuk
antibodi. Jika suatu saat terpapar lagi, tubuhnya lebih kuat mengantisipasi.
Begitupun kepribadian kita. Coba nikmati setiap rasa sakit agar
perasaan-ingatan-pengetahuan kita belajar dari apa yang terjadi. Kepribadian
menjadi kuat, dan kita siap dalam priode yang akan datang.” (hal. 225)
Sayangnya,
bahasan tentang metode transpersonal
yang jadi pembuka dan penutup di dalam novel ini tidak tereksplorasi dengan
baik di dalam cerita. Metode ini hanya menjadi semacam tempelan yang dipaparkan
secara naratif dan edukatif saja. Tidak tersentuh dalam konflik yang dibangun
dalam cerita. Yang hadir malah pemahaman betapa pelukan dan pengertian
orang-orang di sekitar penderita skizophrenia punya peran penting dalam proses
terapi penderita tersebut.
Selain itu
ada beberapa kesalah penulisan di dalam buku ini, yang memang sulit dihindari
dan cukup mampu diminimalisir. Contohnya ada kesalahan penulisan yang cukup
jelas di halaman 208 saat menyebutkan bahwa Yudhis mengajar kelas menulis. Yang
tepat adalah kelas melukis seperti yang tergambar di halaman 141.
Sedikit
yang kurang diketengahkan oleh penulis malah kehidupan pribadi Nararya.
Pergulatan batinnya lebih banyak disajikan namun gambaran kehidupannya lebih
sering menggunakan metode telling
bukang showing.
Tapi
secara keseluruhan buku ini sangat menarik. Terutama karena diksinya sangat
manis dan tidak klise. Tidak membuat bosan dan penuturannya mengalir dan mudah
dipahami.
“Waktu
yang merangkak, nikmat bila bersama buku. Kawan terbaik yang tak pernah
menyanggah. Kalimat – kalimat bermakna yang muncul dari halaman – halaman,
penulis yang berusaha merangkum perenungannya akan perjalanan hidup, mengolah
fantasi dan kebijakan, juga mencari ilmu pengetahuan. Aku tenggelam, turut
menangis dan tertawa bersama penulisnya yang mencoba bertutur betapa sarat
makna tiap detika yang dilalui.” (hal. 42)