“….
Jangan percaya kalau ada yang bilang cewek lebih cantik pas nangis. Karena yang
bener itu … cewek berlipat-lipat lebih cantik daripada biasanya pas mereka
tersenyum.” (Hal. 98)


Penulis: Iffah Ariqoh
Penyunting: Ikhdah
Henny & Dila Maretihaqsari
Perancang &
ilustrasi sampul: N.A. Zundaro
Perancang jaket:
Musthofa Nur Wardoyo
Ilustrasi: N.A Zundaro
Pemeriksa aksara: Mia
Fitri K & Intan Puspa
Penata Aksara: Martin
Buczer
Penerbit: Bentang Belia
Cetakan: Pertama, Juni
2016
Jumlah hal.: viii + 168
halaman
ISBN: 978-602-1383-97-1
Bodoh!
Payah! Keiza mengutuki diri sendiri saat melihat kejadian itu, Davian nembak
cewek lain.
Harusnya
Keiza yang ada di sana. Harusnya senyum Davian hanya untuk Keiza, seperti dulu.
Harusnya Davian tetap berada di sampingnya, andai saja Keiza tidak melakukan
kebodohan di masa lalu.
Sementara
itu, saat Keiza ingin memperbaiki keadaan, ia mulai menerima pesan-pesan
penyemangat pada kertas biru laut. perasaan Keiza terombang-ambing. Persoalan
pelik ini membuatnya kebingungan. Sulit untuk tidak tersentuh oleh pesan-pesan
manis itu, tapi move on dari Davian juga bukan perkara mudah.
***

“Ternyata,
sakit ya, Sha. Nahan air mata jatuh itu sakit. …. Kenapa lo bisa nahan
berkali-kali, sih, kalau sakitnya kayak gitu?” (Hal. 132)

Kisah
cinta masa remaja memang tidak akan ada habisnya untuk di-eksplorasi. Masa
putih abu-abu adalah masa yang banyak diwarnai oleh warna merah jambu. Ya kisah
cinta menjadi salah satu hal yang paling penting di usia remaja, selain
persahabatan tentu saja.
Ini
pula yang dialami oleh Keiza. Awalnya hubungannya dengan Davian memberinya rasa
nyaman. Ia merasa bahwa hubungan persahabatan mereka adalah hubungan yang
paling berarti. Itu sebabnya ketika Davian menyatakan perasaannya pada Keiza,
gadis itu menolaknya. Ia tidak ingin persahabatan mereka berubah. Sayangnya itu
kesalahan. Davian akhirnya menjauh darinya. Dan bahkan menyatakan perasaan pada
cewek lain yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri, Rika.
Di
tengah kekalutannya dan upayanya mengobati hati yang patah, sebab ia sebenarnya
juga menyukai Davian, hadir dua sosok baru dalam hidup Keiza. Ada Herjuno dan
Aji. Mereka muncul memberi warna baru dalam hari-hari Keiza. Terutama Herjuno.
Cowok itu selalu muncul di waktu yang tepat. Entah bagaimana.
Selain
itu, kehadiran surat-surat misterius yang manis dan berwarna biru laut ikut
memberi warna dalam kehidupan Keiza. Masa remaja adala masa yang akan memberi
kenangan tersendiri.
Sayangnya,
warna kehidupan tidak selalu berwarna cerah kan? Kadang kelam datang. Dan saat
kenyataan pahit atas kehilangan orang yang dicintai dihadapkan pada Keiza,
mampukah gadis itu menjalaninya?
***
Membaca
novel remaja, selalu menimbulkan tantangan bagi saya pribadi. Karena bisa jadi
saya akan disuguhi kisah yang biasa saja dengan cara yang juga sangat biasa,
mengingat ide tentang percintaan di usia remaja sudah banyak dituturkan. Tapi
sekali seorang penulis mampu melampaui kesan “biasa” ini, maka itu akan menjadi
pengalaman baca yang menyenangkan.

Sayangnya
novel ini masih melakukan kesalahan yang sama dengan yang dilakukan oleh novel
remaja pada umumnya. Ya, sangat sedikit dibahas dimensi keluarga. Padahal keluarga
memiliki peran membentuk karakter tokoh tersebut. Sayangnya bahkan kehadiran
orang tua Keiza hanya sekadar jadi pendukung, tidak menjadi bagian dari cerita.
Terlalu sedikit dieksplor. Padahal ada peluang untuk lebih banyak dimasukkan ke
dalam cerita karena orang tua Keiza digambarkan sering bepergian keluar kota
dan meninggalkan Keiza kesepian di rumah.
Selain
itu, ada beberapa hal yang saya pertanyakan

di halaman 62 disebutkan tentang bungkus permen yang dibawa ke mana-mana oleh
Keiza. Hm..yakin bungkus permen bisa bertahan lama? Disimpan di saku apa tidak
akan tercuci. Disimpan di luar saku saat mau mencuci apa tidak akan tercecer?

Kemudian di halaman 73 diceritakan bahwa Keiza dan Davian ada di pantai. Padahal
sebelumnya diceritakan bahwa pesta yang dihadiri Keiza ada di jalan Sudirman di
Jakarta. Apa saya yang salah tangkap ya?

kemudian di halaman 99 ada ketidakkonsistenan saat Keiza menyebut dirinya
sebagai Salsha juga Keiza dalam kutipan langsung yang sama.

Kemudian di chapter 27 dibahas
tentang ICU. Dan setahu saya penjenguk di ICU jumlahnya dibatasi. Kenapa di
dalam novel ini bisa mencapai lebih dari 4 orang.
Di
luar semua kekurangan itu, novel ini cukup menyenangkan untuk dibaca karena
cara berceritanya yang kasual dan mengalir. Khas remaja. Novel ini cukup ringan
untuk dibaca dalam sekali duduk.