Penulis: Stephen King
Penerjemah: Gita Yuliani K
Desain dan ilustrasi sampul: Steven Andersen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Oktober 2013
Jumlah hal.: 256 halaman
ISBN: 978-979-22-9951-9
Carrie
White adalah gadis yang tidak populer, tapi dia memiliki kemampuan tersembunyi.
Carrie bisa membuat benda-benda bergerak jika dia memusatkan perhatiannya pada
benda itu. Kemampuan ini membuatnya berkuasa dan menjadi sumber dosanya.

Carrie hanya ingin menjadi gadis normal di sekolah, tidak diejek sebagai gadis
aneh, dan… bisa pergi ke pesta dansa sekolah. Hingga seorang gadis berusaha
menebus kesalahannya pada Carrie dengan memberikan semua keinginan Carrie
tersebut. Kebaikan itu berubah menjadi malapetaka yang takkan pernah dilupakan
teman-teman sekolahnya dan seisi kota.

“Mengerikan dan menakutkan… Kau tidak bisa berhenti membacanya.” ––
Chicago Tribune

“Dijamin akan membuatmu bergidik.”––The New York Times

***
Novel ini dibuka
oleh bagian pertama dengan judul “Olahraga Berdarah”. Kutipan dari sebuah
berita mingguan menjadi pembuka cerita. Judul berita tersebut adalah “Laporan
Adanya Hujan Batu”. Cerita tentang hujan batu ini tidak menjelaskan apapun. Hal
ini akan tetap seperti itu sampai dipertengahan cerita.
Setelah itu
cerita langsung dilanjutkan ke kejadian di sebuah kamar mandi sekolah.
Sekelompok anak-anak yang mencemoh seorang anak perempuan karena ternyata untuk
pertama kalinya ia mengalami menstruasi. Anak perempuan yang dicemoh itu
bernama Carrie White. Ia adalah seorang anak perempuan yang sejak kecil selalu
menjadi korban penyiksaan dan ejekan oleh teman-temannya.
Semua ini ada
hubungannya dengan didikan ibunya dan kepercayaan ibunya sebagai seorang yang
cenderung fanatik dan berpandangan berbeda tentang apa itu religius dan
sikap-sikap manusia di dunia. Ibunya bahkan menggangga persetubuhan yang
dilakukan suami istri itu adalah dosa. Ini membuat Carrie tumbuh menjadi anak
yang berbeda. Awalnya dia diejek karena hal ini. Karena ia berdoa di mana pun.
Dan meyakini ajaran ibunya sebagai hal yang paling benar. Sejak saat itu ia pun
selalu menjadi korban kekerasan baik secara verbal maupun fisik.
Hingga akhirnya
haid pertamanya membawanya pada kesadaran tentang kekuatan yang dia miliki. Ia
memiliki kekuatan telekenesis yang
memungkinkan ia untuk menggerakkan berbagai benda sesuai dengan keinginannya
tanpa perlu menyentuh benda tersebut.

Akhirnya dengan
kekuatan ini ia pun menuntut balas. Semua dilakukan di Malam Prom sekolah, yang
awalnya diharapkan menjadi salah satu moment terbaik dalam hidupnya. Namun
ternyata berbalik menjadi mimpi buruk bagi seluruh orang yang ada di kota
Chamberlain. Malam itu, Carrie adalah teror bagi semua orang. Teror yang muncul
dari pembalasan dendam penuh darah. Menuntut keadilan dan menjadi pedang Tuhan.
***
Ini adalah
pertama kalinya saya membaca novel Stehphen King. Novel dengan genre Thriller
ataupun horor jarang menjadi pilihan saya. Saya memang membaca novel detektif
tapi jelas ini berbeda dengan novel thriller yang memiliki detektif. Jika novel
detekttif berkutat pada pencarian fakta melalui sudut pandang sang detektif,
maka novel thriller akan berkutata pada dimensi psikologi dan perilaku pelaku
kejahatan.
Novel Carrie ini
membawa saya pada sebuah kejadian yang nyaris saya yakini benar-benar terjadi.
Namun saya sampai sekarang berhasil menahan diri agar tidak menuliskan kata
kunci, “Chamberlain, Maine, Mei 1979”. Saya meyakini ini fiktif, namun saya
tetap berfikir bahwa itu adalah sebuah kejadian fiktif yang berhasil disetting
oleh Stephen King. Namun tentang telekenesis
saya paham tentang perdebatan ini. Saya sudah lama mendengarnya dan menolak
percaya sampai saya benar-benar melihat sendiri buktinya dan punya hubungan
personal dengan orang yang memiliki kemampuan itu.
Namun, dengan
membaca buku ini saya harus mengakui kepiawaian Stephen King. Kemampuannya
mempengaruhi membaca untuk mempercayai kejadian ini seolah benar-benar terjadi
memang hebat. Bagaimana ia menjelasakan telekenesis sebagai penyakit yang turun
melalui gen dan keturunan mirip dengan hemofilia membuat kemampuan ini seolah
benar-benar bisa mendapat penjelasan ilmiah.
Tokoh Carrie
sendiri pun berhasil digambarkan sebagai sosok yang kejam namun sebenarnya
hanya menyerap kekejaman ibu dan lingkungannya. Berarti benarlah keyakinan
bahwa karakter seorang anak tergantung dari lingkungannya. Tapi cara mereka
menanggapi lingkungan ini berdasarkan pengetahuan si anak sendiri. Jika dua
orang anak mendapat perlakuan yang sama namun keyakinan dan pendidikan berbeda
bahkan bertolak belakang, maka ini akan menimbulkan reaksi yang berbeda. Reaksi
yang berbeda ini akan menyebabkan perilaku yang berbeda.
Keyakinan
beragama ibunda Carrie yang ekstrim mempengaruhi cara Carrie memandang dunia.
Semua yang dialami sejak kecil membentuk sisi gelap dirinya dan membuat dia
meutuskan melakukan pembalasan. Teror itu mungkin dipicu oleh kejadian di Malam
Prom. Namun niat itu sudah lama muncul. Jika tidak, Carrie tidak mungkin
melatih kemampuan telekenesis-nya secara sadar.
Hm..tampaknya
saya sudah menulis banyak spoiler. Namun saya rasa, spoiler apapun yang
terdapat di dalam tulisan ini tidak akan membantu seseorang menyusun perasaan
yang digerakkan oleh tulisan Stephen King. Kengerian yang datang bersama rasa
penasaran itu hanya akan muncul dari pengalaman membaca langsung buku Carrie
ini.
Hm..Jika saya
harus menyematkan bintang-bintang untuk karya Stephen King ini, maka saya
memberinya nilai 4 bintang. Cover yang menarik, cerita yang nyaris real, plot
yang tidak umum, dan penokohan yang detail dan kuat memang layak membuahkan 4
bintang tersebut.
***
Tentang Penulis
Stephen Edwin King (lahir di
Portland, Maine, Amerika Serikat, 21 September 1947; umur 66 tahun) adalah
seorang penulis asal Amerika Serikat. Ia populer lewat novel-novel horor
tulisannya. Kisah-kisah yang ia tulis sering melibatkan protagonis yang
“biasa”, misalnya keluarga kelas menengah, seorang anak-anak, atau
penulis. Selain kisah-kisah horor, King juga menulis cerita dalam genre
lain, termasuk The Body dan Rita Hayworth and Shawshank Redemption
(masing-masing diadaptasikan menjadi film layar lebar berjudul Stand By Me
dan The Shawshank Redemption), serta The Green Mile dan Hearts
in Atlantis
. (sumber: di-copy
langsung dari wikipedia)
***
 review ini saya ikutkan dalam Reading Challenge
untuk kategori Not My Cup of Tea