“Kami
berdua adalah tipe pria yang sama dalam banyak hal. Menghormati pernikahan dan
akan mempertahankannya sampai akhir.” (Hal. 102)

Penulis: Acariba
Editor: Afrianty P.
Pardede
Desain kover: Agus “Gusiq”
Ferdinand
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 258
halaman
ISBN: 978-602-02-7270-2
Apa
yang sangat kau benci dalam hidupmu?
Meta,
seorang bidan, akan menjawab: kucing jantan –yang mencakar setiap pria– dan seorang
playboy.
Takdir
seakan tak mengerti Meta. Dia pun dipertemukan dengan seorang playboy pemilik
masa lalu yang kelam dengan bantuan seekor kucing yang memiliki kelakuan ajaib.
Playboy
itu bernama Ego, seorang dokter hewan tampan yang sangat mudah mendapatkan
setiap perhatian dari wanita. Playboy yang terluka harga dirinya akibat
penolakan dari “seorang” Meta.
Mungkinkah
Meta –yang pernah mengalami sakit hati karena pengkhianatan seorang pria –
melunturkan ego seorang Ega?
***

“Semua
orang butuh waktu, Met. Ayahku juga begitu. Hanya saja dia butuh waktu selama
sisa umurnya untuk belajar melupakan wanita itu dan mencintai ibu.” (Hal. 104)

Apa
jadinya jika dua orang yang berbeda prinsip bertemu? Saling berseteru? Yes! Itu
yang terjadi antara Meta dan Ega. Lebih tepatnya Meta yang sebal setengah mati
pada Ega. Pertemuan pertama mereka berkesan BURUK sekali bagi Meta.
Menjadi
obat nyamuk..hmm…lebih tepatnya disebut jadi pihak ketiga di dalam lift saat
Ega dan entah siapa nama perempuan itu, asyik bercumbu. Meta adalah
satu-satunya penghuni lain di lift itu selain Ega dan kekasihnya. Itu jika
kucing jantan nan galak yang dibawa Meta tidak dihitung.
Dijebak
oleh sahabat sendiri, membuat Meta mau tidak mau harus rela mengurusi kucing
jantan bernama Martin. Ternyata selain terjebak bersama kucing, takdir pun
menjebak Meta untuk saling terhubung dengan Ega yang playboy cap kadal aneh. Padahal Meta sangat membenci playboy.
Setelah
itu, hari-hari meta tidak tenang sama sekali. Belum lagi kehadiran sosok dokter
Ari yang sempat membuat Meta patah hati membuat semuanya semakin runyam. Bisakah
hidup Meta kembali tenang? Bagaimana hubungan Meta dan Ega berikutnya?

***
Hubungan
Meta dan Ega di dalam novel ini dituturkan dengan manis sekaligus cukup lucu.
Ega adalah laki-laki dengan kesadaran penuh memilih menjadi playboy yang perjaka (?!). Di sisi lain,
Meta adalah perempuan yang membenci playboy dan terbiasa hidup sendiri karena
kepergian orang tuanya yang cukup cepat.
Keduanya
pun digambarkan punya pendapat berbeda tentang urusan percintaan. Bagi Ega rasa
cinta dalam sebuah hubungan sangat penting, “Untuk apa sebuah hubungan tanpa
ada rasa cinta? Simpati itu bullshit. Sebuah hubungan yang berdasarkan karena
simpati saja mirip sebuah bangunan dengan fondasi beton tanpa besi. Rapuh!”
(Hal. 82)
Sedangkan
bagi Meta, cinta bisa ditumbuhkan. “Tapi cinta itu bisa muncul dari simpati.”
(Hal. 82)
Itu menurut Meta.
Dalam
hal penokohan Mbak Acariba berhasil membangun karakter yang mudah disukai. Ega
yang meski playboy namun punya sikap
yang manis dan perhatian. Wajah tampan dan kehidupan ekonomi yang mapan. Hm..
tipe yang akan membuat saya pun tertarik untuk menjadikannya imam. Eh, maaf
lupa kalo saya udah nikah. 😀
Di
sisi lain Meta digambarkan sebagai perempuan mandiri yang kuat dan irit. Kehidupan
ekonomi pas-pasan. Wajah tidak jelek tapi juga tidak cantik pakai banget.
Sangat manusiawi. Mudah untuk disubsitusi dengan sosok pembaca perempuan
manapun.
Penggunaan
sudut pandang orang pertama, membuat narasi dalam novel ini terkesan santai. Enak
dibaca. Sayangnya, sesekali, saat cerita dituturkan dari sisi Ega, gaya
berbicara Ega masih terkesan kurang maskulin.
Di
sisi lain, saya juga sedikit heran dengan Meta. Kok dia selalu bisa menyadari
saat kenjantanan Ega mulai beraksi ya? Berarti dia merhatiin donk? Aku soalnya
kalau berinteraksi dengan lawan jenis hanya memperhatikan wajahnya. Hm.. itu
berarti Meta….. (silakan isi sendiri..he..he..)
Tapi
di luar itu, novel ini menyenangkan untuk mengisi waktu luang karena narasinya
yang kocak. Meskipun ada cukup banyak kesalahan penulisan. Tapi tidak
benar-benar mengganggu alur cerita.

Oiya, novel ini sebaiknya diberi label dewasa deh. Karena menurutku, ini sebaiknya gak dikonsumsi remaja 😀

“…,
betapa sesuatu yang menyebalkan bisa jadi sangat dirindukan saat orangnya sudah
tiada.” (Hal. 106)