Cheer Boy yg penuh bookmark krn bnyk quote kerennya

Judul Asli: Cheer Danshi!!
Penulis: Asai Ryo
Penerjemah: Faira Ammadea
Penyunting: Tia Widiana
Proofreader: Dini Novita Sari
Desain Cover: Bambang ‘Bambi’Gunawan
Penerbit: Penerbit Haru
Cetakan: Pertama, November 2013
Jumlah hal.: 428 halaman
Cheerleader…. Biasanya cewek yang melakukannya, kan?”
Haruki cedera. Cowok itu menggunakan cederanya sebagai
alasan untuk berhenti dari Judo
karena menyadari
batas kemampuannya. Padahal Haruki lahir dalam keluarga pejudo dan kakak
perempuannya selalu jadi pemenang dalam setiap kejuaraan Judo.
Kazuma, teman sepermainan Haruki tiba-tiba ikut
berhenti Judo dan menyarankan hal gila. Mereka akan membentuk tim cheerleading
cowok!! Padahal, olah raga itu kan olah raga cewek!
 Tapi, saat anggota berhasil mereka kumpulkan, ternyata
mereka adalah cowok-cowok 
dengan masalah masing-masing.
 Saat
masalah itu saling berbenturan, akankah cheerleading bisa membuat mereka tetap
bersatu? Akankah cheerleading bisa menyelesaikan semua masalah?
***
Cheerboy bercerita
tentang Haruki yang mendirikan grup cheerleader
bersama sahabatnya Kazuma. Sebelumnya Haruki adalah seorang atlet Judo. Ia anak
dari pemilik dojo dan adik seorang judoka handal bernama Haruko. Haruki sangat
menggumi kakak perempuannya itu. Namun akhirnya Haruki menyadari bahwa
kecintaannya pada judo tidak sebesar kecintaan Haruko pada judo. Pada saat ia
mengalami cedera di bahunya, ia pun membulatkan tekad untuk berhenti dari judo.

Tepat setelah memilih
berhenti dari judo, sahabat Haruki yang bernama Kazuma mengajaknya untuk
mendirikan grup cheerleader. Haruki
dan Kazumi adalah mahasiswa tingkat pertama di Universitas Meishi’in. Mereka
sudah bersahabat selama 10 tahun sejak mereka duduk di bangku kelas 3 SD.
Banyak hal yang mereka lewati bersama. Dan setelah itu pun semakin banyak hal
yang menempa persahabatan mereka.
Setelah berhenti dari
judo, hubungan Haruki dan Haruko menjadi renggang. Haruko menganggap Haruki
sebagai orang yang mudah menyerah karena hanya memperoleh cedera bahu saja dia
sudah menyerah. Haruki sendiri sibuk menjelaskan perasaan dan pikirannya pada
sang kakak. Akhirnya Haruki pun mencoba abai pada masalah yang terjadi pada
hubungannya dengan Haruko. Haruki menyibukkan diri dengan grup cheerleader yang dibangunnya bersama
Kazuma.
Anggota pertama yang
berhasil mereka rekrut adalah Mizoguchi, menyusul kemudian Ton (nama aslinya
sih Toono Kooji. FYI, “Ton” dalam bahasa jepang dapat berarti babi), Ichiro,
dan Gen. Mereka berenam kemudian membujuk Sho yang memiliki kelenturan dan ilmu
yang cukup banyak tentang cheerleader
untuk bergabung ke tim mereka. Akhirnya, mereka bertujuh membentuk sebuah tim cheerleader cowok. Saat itu, di Jepang
masih sangat aneh sebuah tim cheerleader
terdiri oleh anggota cowok seluruhnya. Biasanya yang ada adalah tim cheerleader putri atau campuran
(putra-putri). Mereka bertujuh kemudian sepakat menamai kelompok mereka “BREAKERS”.
Setelah itu dimulailah
perjuangan mereka hingga akhirnya bisa tampil pertama kali di Festival
Universitas Meishi’in. Setelah tampil di festival itu muncullah anggota-anggota
baru. Mereka adalah Kin, Gin, dan Dou, semua nama ini adalah nama karangan
Mizoguchi seperti dia seenaknya memberi panggilan “Ton” pada Toono Kooji.
Selain itu ada pula Takeru, Takuya, Takumi, Saku, dan Hisashi. Plus satu lagi
anggota baru yang mengejutkan, dia adalah Takagi pelatih tim DREAMS, grup cheerleader putri Universitas Meishi’in,
yang menjadikan dirinya pelatih BREAKERS. Yup dia menunjuk dirinya sendiri
sebagai pelatih BREAKERS. Ha..ha..
Target BREAKERS
selanjutnya adalah tampil dalam Turnamen Cheerleading
Nasional. Ini membuat mereka harus berlatih ekstra keras. Di tengah semua
kepadatan latihan, satu persatu masalah yang muncul dari masing-masing tokoh
pun timbul. Semua anggota BREAKERS punya masalah pribadi dan mempengaruhi
kekompakan tim.
Bukankah yang
terpenting dalam cheerleader adalah
rasa percaya antara sesama anggota. Rasa percaya antara base dan top? Rasa percaya
bahwa mereka dapat saling mendukung? Cheerleader
tidak dapat dilakukan sendirian, ia adalah olahraga kelompok. Kekompakan tim
menjadi salah satu kunci penting untuk menciptakan penampilan yang terbaik
selama 2 menit 20-30 detik.
Sanggupkah BREAKERS
memenangkan turnamen tersebut? Sanggupkah BREAKERS menghancurkan stigma bahwa
tim cheerleader cowok tidak pantas
ada dalam dunia cheerleader?
***
Membaca novel Cheer
Boy!! memberi banyak hal baru untuk saya. Novel ini dibuka dengan ilustrasi
ketujuh anggota awal BREAKERS. Setelah itu dilanjutkan dengan informasi tentang
peraturan dalam cheerleading
(pertandingan cheerleader), kamus cheerleader, dan ilustrasi serta
keterangan tentang motion (gerakan) dalam cheerleader.
Dunia cheerleader adalah dunia yang
sejujuranya sangat asing bagi saya. Saat saya SMP dan SMA dulu *gak usah sebut
tahun yah 😉 *, cheerleader selalu
identik dengan group cewek-cewek populer. Hal ini dibenarkan dengan banyaknya
film dan novel remaja yang menggambarkan bahwa anggota cheerleader adalah cewek-cewek cantik, populer, dan punya power di sekolah.
Membaca novel ini  membuat saya tergugah dan berfikir, “Iya, ya.
Kan tidak ada peraturan bahwa tidak boleh ada tim cheerleader cowok”. Selain itu, ini juga mengubah pendapat saya
tentang anggota cheerleader pasti
hanya berisi cewek-cewek yang sok kuasa (karena cantik) dan tidak kenal kerja
keras. *maaf yah. Nggak ada maksud tertentu kok*
Membaca novel ini saya
jadi tahu bagaimana beratnya menjadi cheerleader
bagaimana mereka harus berlatih dengan keras dan harus berhadapan dengan
konsekuensi cedera saat melakukan berbagai motion.  Salut deh sama para cheerleader.
Novel ini juga mengangkat tentang
persahabatan. Porsi romance-nya
sangat sedikit. Dan mengingat tokoh-tokohnya adalah cowok, maka pembicaraan
mereka selalu kocak. Saya tertawa sendiri membaca tingkah mereka terutama saat
pertama kali Mizoguchi bergabung dengan mereka. Buku ini penuh dengan quote-quote keren berkat Mizoguchi.
Ha..ha.. 
Hm..tapi sejujurnya alur cerita yang maju dan
kemudian mendadak mundur sedikit mengganggu saya. Penulis berusaha menyimpan
kejadian tertentu untuk menjelaskan perasaan tokohnya di waktu tertentu. Tapi ini
terkadang membuat saya harus berfikir sebentar sebelum muncul pemahaman “Ah,
ini pembicaraan saat di situ, toh”. Selain itu penjelasan-penjelasan tentang
kondisi dan masalah masing-masing anggota yang muncul di benak Haruki saat
mereka tampil terasa agak berat bagi saya. Ini karena penjelasan tersebut
diselingi dengan keterangan-keterangan gerakan Haruki saat tampil.
Hm..itu pendapat saya tentang buku ini.
Sejujurnya, ekspektasi saya terhadap buku ini tidak begitu tinggi karena dari cover
dan tema membuat saya mengira ini akan jadi novel dengan genre komedi. Tapi
ternyata, penulis mampu menampilkan sisi hubungan yang dinamis dan kompleks
dalam sebuah kelompok yang berisi 7 (kemudian jadi 15) orang anggota. Hubungan
di antara mereka mampu dijelaskan dengan baik oleh penulis. Dan benar-benar
dinamis, ada yang renggang kemudian mengerat, ada yang jauh kemudian menjadi
semakin akrab. Saya suka dimensi cerita persahabatannya.
Jadi, jika saya harus memberi nilai untuk
novel ini dalam skala 1 – 10, maka saya memberinya nilai 8,5 (^_^). Ini karena
buku ini benar-benar berhasil melampaui ekspektasi saya dan juga punya cover
yang eye-catching.
cover edisi jepang (sumber: www.google.co.id)

Tentang Penulis:
Asai
Ryo lahir di perfektur Gifu pada bulan Mei 1989. Saat ia duduk di bangku
Universitas Waseda Fakultas School od Culture, Media and Society, ia
memenangkan Shousetsu-Subaru Newcomers Award yang ke-22 dengan karya debutnya
yang berjudul Kirishima, Bukatsu Yamerutteyo. Tahun 2011 Cheer Danshi!! Memperoleh penghargaan Tenryu Literary Award dan
dipilih oleh para siswa SMU. Pada Januari 2013, novelnya yang berjudul Nanimono
memenangkan Naoki Literary Award yang ke-148.
Karyanya
yang lain adalah: Hoshi Yodari no Koe, Mou Ichido Umareru, Shojo wa Satsugyo
Shinai
, Gakusei Jidai ni Yaranakute
mo li 20 no Koto
, dan Sekaichizu no Shitagaki.
 
Naoki Prize winners Ryutaro Abe
(left) and Ryo Asai (center), along with Akutagawa Prize winner Natsuko Kuroda,
attend a news conference after being named recipients of the literary awards
Wednesday evening. (sumber: http://www.japantimes.co.jp)
Qoute:
“…Seperti campuran warna dasar yang baru
diketahui menjadi warna apa setelah ditorehkan di atas kertas, manusia harus
banyak berinteraksi dengan orang lain.Dengan begitu, barulan kita tahu kita
berubah menjadi apa”
(hal.46)
“Kesempatan takkan datang mengetuk pintumu dua
kali.”
–Chamfort, filsuf asal Prancis
(hal.53)
“Hal paling esensial dalam kehidupan manusia
adalah kebahagiaan yang datang dari persahabatan.”
(hal.59)
“Segila apa pun sebuah ide, dunia takkan
berubah bila kita tidak mewujudkannya
. –Michael Moore, penulis buku dan
sutradara amerika. (hal.71)
“Awal yang sekecil biji sesawi pun, kalau
sudah berakar dan mengeluarkan daun bisa menjadi besar sebesar-besarya
. Itu kata Nightingale” (hal.92)
“Karena manusia akan memperoleh kebahagiaan
setelah berhasil melalui penderitaan.”

Bethoven (hal. 114)
“Kegagalan adalah saat kita berhenti berusaha
saat gagal. Keberhasilan adalah saat kita terus berusaha sampai berhasil
” Matsushita Konosuke, pendiri Panasonic (hal.
151)
“Yang terpenting adalah bukan sebanyak apa
yang kita berikan, melainkan selapang apa hati kita saat memberikannya”
Mother Theresa (hal. 201)