Penulis: Nikma TS
Penyunting: Dyah Utami
Pendesain Sampul: Fahmi Fauzi
Penyelaras akhir: J. Fisca
Penata letak: Tri Indah Marty
Ilustrator: @medzkreatif
Penerbit: Moka Media
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: iv + 176 halaman
ISBN: 979-795-826-4
Kuberi tahu kamu soal Febri, cowok yang
gantengnya bisa bikin artis Korea langsung ingin operasi plastik lagi. Aku
tergila-gila padanya. Peduli setan soal sohibku yang naksir dia. Aku nggak
peduli status gebetanku di sekolah, nggak peduli mamaku mencak-mencak, nggak
peduli brownis buatanku hangus demi cinta. Bahkan ketika gebetanku diam-diam
punya rahasia, aku juga nggak peduli.
Kamu pikir cintaku bego? Emang!
Kamu baru tahu?
***
Pertama kali
menatap sampul buku ini saya langsung merasakan gelagat aneh. Hm…ini tampaknya
genre komedi. Salah satu genre yang jarang saya lahap. Sorry, saya memang
manusia serius *yang diamini oleh teman-teman saya* sehingga genre komedi jarang saya sentuh. Paling banter dalam bentuk komik.
Saat membaca
novel ini saya langsung menangkap ide ceritanya. Hm, seorang anak perempuan
yang bernama Lintang yang jatuh cinta pada satpam sekolahnya,
Febri. Sosok Febri ini digambarkan sangat ganteng seperti artis-artis Korea. Sedangkan
Lintang? Ya cukuplah. Cukup jelek? Ups..bukan..bukan..cukup konyol menurut
saya.
Jiwa preman yang
ditunjukkan Lintang pada sahabat dan orang-orang yang dekat dengannya mendadak
hilang saat berhadapan dengan Febri. Ha..ha.. memang cinta bisa mengubah
seseorang termasuk bikin es krim mencair *eh, bukannya wajar kalo es krim
mencair? Ya intinya gitulah*.

Novel ini
bercerita perjuangan Lintang mendapatkan hati Febri. Mulai dari saingan dengan
sahabatnya sendiri, Virna, demi mendapatkan Febri; hingga datang ke Sandra
untuk berkonsultasi tentang cara mendapatkan hati cowok. Demi bisa dekat dengan
Febri, Lintang membujuk ibunya agar Febri bisa ngekost di paviliun rumah
mereka; menjamah dapur, tempat yang tidak pernah ia masuki sebelumnya.
Semua perjuangan
ini berujung dengan akhir yang menyedihkan. Ditolak? Hm..lebih parah dari
itu. *emang ada yang lebih parah? Ya adalah* Serius nasib cinta Lintang ini
jauh lebih menyedihkan daripada ditolak tujuh turunan oleh Febri.
Dari segi
bahasa, novel ini memang remaja banget. Sayangnya, kelucuannya masih terasa
garing. Belum berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak. Hanya bisa
geleng-geleng kepala membaca percakapan konyol di antara tokoh-tokohnya.
Konflik cerita
sudah menarik, tinggal disajikan dengan lebih apik. Penjelasan tentang
hubungan Virna dan Lintang yang merenggang dari sahabat menjadi rival
berkali-kali disebutkan dan membuat bosan. Konflik juga berjalan terlalu
lamban. Tokoh Faundra juga belum dimaksimalkan perannya, seperti cara-cara dia
menjauhkan Lintang dari Febri karena cemburu seharusnya bisa lebih diangkat
untuk mewarnai cerita di novel ini.
Oiya, kesalahan penulis di dalam novel ini masih cukup banyak.Ada 10 kesalah penulisan yang saya lihat. seperi di halaman 5 ada kalimat, “Ayo, kita ruang  Bu Mutia”, harusnya ada kata “ke” di dalam kalimat tersebut. Pada halaman 11 ada typo, tertulis kata “gondong” yang seharusnya ditulis “gondrong”. Ada lagi beberapa kesalahan penulisan lainnya.
Sampul bukunya
sudah cukup menarik dan sudah sesuai dengan cerita. Layout dalam buku juga
sudah bagus dan nyaman untuk dibaca. (^_^). Oiya, pembatas bukunya juga lucu. Bisa digantung di gagang pintu kamar 😉
Saya menyematkan
2 bintang untuk novel ini.  Bisa untuk
remaja unyu-unyu yang suka dengan cerita gokil. (^_^)v