“Cinta
itu nggak bisa milih. Mau sesempurna apa pun orang lain, kalau cintanya sama
kamu, aku bisa apa?” (Hal. 247) 

Penulis: Nima
Penerbit: Elex Media
Komputindo
Cetakan: Kedua, Juni
2016
Jumlah hal: vi + 265
halaman
ISBN: 978-602-02-8856-7
Dalam
kamus Dave, perempuan tak lebih dari koleksi di atas ranjang. Dengan statusnya
sebagai pewaris takhta Arkhan Grup, segala hal semudah menjentikkan jari.
Pertemuan dengan Viona, yang sialnya adalah sepupu dari salah satu gadis
koleksinya, mengubah arti dunia Dave dalam sekejap.
Bagi
Viona, malapetaka, musibah, dan kesialan adalah nama lain dari om-om brengsek,
yang dia benci –Dave. Karena impian, cita-cita, dan masa depannya sudah hancur.
Dan sumber kekacauan itu adalah Dave.
Sayangnya,
takdir kembali mempertamukan mereka setelah Viona jauh berlari.
Apakah
Viona harus terus melarikan diri? Dapatkah Dave menebuh semua kesalahannya?
Bisakah cinta hadir dari masa lalu yang kelabu?
***

“Rumah
adalah rumah, sejauh apa pun pergi, ke sinilah aku kembali.” (Hal. 2)

Bagaimana
jadinya jika masa depan yang sudah kau rencanakan runtuh di depan matamu?
Bagaimana jika kamu sebagai korban dari sesuatu yang terjadi tanpa kau
kehendaki? Kemudian kejadian itu merenggut semua hal darimu, kehormatan, masa
depan, dan kebahagiaanmu?
Itulah
yang dialami oleh Viona saat ia baru saja lulus SMA. Masa depan cerah yang
sudah ia bayangkan, secara mendadak menjadi mimpi yang harus dikubur
hidup-hidup. Ini semua karena kehadiran Dave dalam kehidupan Viona. Dave yang
telah merenggut kehormatan Viona. Membuat Viona harus melahirkan seorang anak
diusia 18 tahun. Membuat Viona menghilang dan bersembunyi di Jogja karena
trauma yang dialaminya.
Dan
kini Dave kembali muncul di hadapan Viona. Kali ini tidak sendirian. Melainkan
bersama Daiva, anak yang dilahirkan Viona tapi tidak pernah ia tatap wajahnya.
Bagaimanakah
kehidupan Viona nantinya? Apakah semua usaha dia selama enam tahun lebih untuk
mengobati trauma yang dialami sambil menata kembali hidupnya akan hancur
berantakan? Kembali menjalani kehidupan bak mayat hidup?

“Masa
lalu biarlah tetap menjadi milik masa lalu, apa pun yang kita perbuat sekarang
nggak akan bisa memengaruhinya. Kita hanya bisa menerima dan mengambil
pelajaran dari semuanya agar bisa menghadapi masa depan dengan lebih baik.”
(Hal. 30)

***

“…
nggak ada dosa yang yang diwarisin dari bapak buat anaknya. Dia bersih, polos,
dan nggak berhak menerima penghakiman dari kelakuan orangtunya.” (Hal. 77)

Novel
Cinta Masa Lalu ini sebelumnya telah saya baca dan saya review di blog ini.
Namun kali ini yang saya baca dan review adalah cetakan keduanya. Saya
benar-benar membaca ulang novel ini dari awal hingga akhir dan menemukan
perbedaan yang berarti. Novel ini telah diedit dan menjadi jauh lebih baik.
Jika
sebelumnya, banyak ditemukan kata yang menggunakan huruf kapital dalam
percakapan untuk menunjukkan kemarahan, maka dalam cetakan baru ini, kekurangan
itu sudah diperbaiki. Penggunaan huruf kapital hanya diberikan saat penulis
berusaha memberikan penekanan-penekanan tertentu.
Selain
itu, penggunaan sudut pandang orang pertama dari tokoh-tokohnya jadi lebih
rapi. Cerita dituturkan dalam sudut pandang orang pertama secara bergantian
antara tokoh Viona dengan tokoh Dave. Ini membuat logika cerita menjadi lebih
baik. Selain itu, jika sebelumnya pergantian penutur cerita ini membuat
beberapa adegan terulang dari sudut pandang yang berbeda, maka di cetakan kedua
ini berbeda. Tidak ada lagi pengulangan adegan. Scene dibuat berlanjut meski dari sudut pandang yang berbeda. Namun
ini tidak membuat cerita jadi sulit dipahami melainkan membuat alur cerita
menjadi pas, tidak lambat juga tidak cepat.
Plot
cerita masih sama. Tapi kali ini pembaca benar-benar dibuat gregetan menahan kesal pada sikap Viona
dalam menghadapi kehadiran Daiva dalam hidupnya. Membuat pembaca pengin
mengomeli pilihan-pilihan Daiva. Pada akhirnya pembaca akan dibuat penasaran
dengan bagaimana kisah ini akan diakhiri.
Mampukah
Dave membuat Viona jatuh cinta padanya? Ataukah Viona tidak bisa melepaskan
trauma yang melandanya dan akhirnya memilih untuk meninggalkan Dave dan Daiva
di belakang. Di masa lalu.
Oiya,
cetakan kedua Cinta Masa Lalu ini dimasukkan ke dalam lini baru Elex Media
Komputindo: CityLite.
Terakhir,
rasanya mengejutkan menemukan nama saya di bagian “Ucapan Terima Kasih” cetakan
kedua ini. Rasanya review yang saya tulis diberi apresiasi yang besar dari Mbak
Nima. Terima kasih banyak, Mbak Nima.

“….
Papi selalu bilang, kalau kamu tidak bisa menjadi orang berguna, jangan pernah
merugikan orang lain. …” (Hal. 121)

***
“Vi,
cinta itu diciptakan, bukan dicari.” (Hal. 218)