“Orang
sering menyalahkan cinta atau kecocokan. Pada kenyataannya, manusia memang
tidak akan pernah cocok satu sama lain dengan sempurna, kok! Pasti ada saja
perbedaan di sana-sini yang harus diatasi. Tapi, dengan cinta semua perbedaan
itu mudah dijembatani. Namun, saat cinta sudah hilang, perbedaan kecil pun bisa
menjadi perang dahsyat.” (hal. 8)

Penulis: Aimee Karenina
Editor: Donna Widjajanto
Desain Sampul: Suprianto
Tata Letak Isi: Shinzy & Fajarianto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: 211 halaman
ISBN: 978-602-03-0924-8
Mengimamimu adalah mimpi
terbesarku.
Bagi Nino, Selma adalah pelabuhan
terakhirnya. Dia bahkan bersedia melanggar sumpahnya untuk tidak berpacaran
sebelum menikah, ketika bertemu Selma. Sayangnya, walau didesak bagaimanapun,
Selma tidak mau buru-buru menikah.
Dia
mengajakku menikah sebulan sekali.
Aku bahkan sulit percaya kalau dia serius!
Bagi
Selma, Nino adalah pria sempurna – blasteran Spanyol, aktivis lingkungan yang
cerdas, dan gentleman yang alim. Tapi, yang diinginkan Selma bukanlah
pernikahan, melainkan karier yang cemerlang.
AKU
BISA MENGORBANKAN SEGALANYA DEMI DIA.
AKU TAHU BAGAIMANA CARA MENCINTAI.

Saat bermain tarik-ulur dalam hubungan mereka, Nino dan Selma tidak menyadari
ada pihak lain yang menyelinap datang dengan obsesi siap menghancurkan tali
kasih yang rapuh ini. akankah Nino dan Selma teguh bersatu, atau malah mengalah
pada permainan takdir?
***
Berbicara tentang
komitmen, biasanya yang takut untuk cepat terikat dalam pernikahan adalah pihak
laki-laki. Namun kali ini berbeda. Dalam novel Cinta Sehangat Pagi, sejak kalimat
pertama, yang terlihat adalah tokoh perempuan yang belum ingin menikah.
Meskipun usianya sudah sangat cukup matang, 26 tahun.
Selma, perempuan
yang melihat bahwa dalam lingkungan keluarganya penuh dengan perempuan-perempuan
hebat. Perempuan yang sukses dalam berkarier tanpa mengabaikan keluarganya. Selma
merasa bahwa kariernya belum sehebat ibunya atau tantenya, sehingga ia pun
masih ingin fokus mengembangkan karier dan menampik ajakan menikah dari Nino,
kekasihnya selama 8 bulan terakhir.
Sebaliknya, Nino
menganggap bahwa pacaran selama 8 bulan sudah lebih dari cukup. Ia sudah sangat
yakin dengan pilihannya. Itu sebabnya ia berkali-kali melamar Selma. Bahkan
sejak sebulan usia pacaran mereka.
Setipa kali Nino
melamar Selma yang terjadi adalah penolakan. Uniknya Nino bahkan tidak mundur.
Begitupun Selma. Ia hanya merasa kesal namun enggan melepaskan Nino.
Di tengah
situasi itu, muncul pihak-pihak lain yang mengancam keutuhan hubungan Selma dan
Nino. Bahkan perlahan muncul sebuah teror yang membuat salah satu dari mereka
harus memilih. Melanjutkan ataukah meninggalkan hubungan tersebut demi kebaikan
semua pihak.

***
Blurb buku ini
cukup menggugah. Begitu pun dengan sampulnya.
Namun
menariknya, saat selesai membaca buku ini saya merasa bahwa novel ini cukup
berbeda. Memang tidak sesuai dengan label MetroPop dan Amore. Lebih menarik
menyebutnya dengan “punya warna Islami”.
Dalam karya
Aimee ini, diceritakan tentang Nino yang karena pemahamannya yang cukup baik
tentang Islam, membuatnya berprinsip untuk tidak pacaran. Namun sayangnya
karena tidak ingin Selma diraih oleh lelaki lain sedangkan Selma belum ingin
menikah, akhirnya ia pun melonggarkan prinsipnya. Ia mengajak Selma pacaran
namun menekankan tentang tidak adanya interaksi fisik di antara mereka.
Konflik yang
ditawarkan pun jadi menarik. Tidak hanya tentang hubungan yang unik antara Nino
dan Selma. Namun ada juga ketegangan yang ditawarkan dengan hadirnya pihak luar
yang meneror Selma. Bahkan cenderung mengincar nyawa perempuan itu. Sosok ini
membuat pembaca sibuk menebak-nebak siapa gerangan pelakunya? Karena dibeberapa
bagian penulis menuangkan cerita dalam sudut pandang sang pelaku. 
Dari segi
penokohan. Karakter Selma benar-benar tampil dinamis. Ia berkembang bersama
konflik dalam cerita. Bahkan proses dari Selma yang tanpa hijab hingga
keputusannya untuk berhijab pun menarik diikuti. Tokoh Dija, adik Selma, yang
juga mendapat porsi cukup besar dalam cerita rasanya menarik dan jadi punya
peran yang cukup penting. Memperkaya karakter cerita.
Sayangnya, tokoh
Nino yang ditampilkan terlalu sempurna. Penampilan yang terlalu menarik,
karakter pria idaman dan masa depan yang mapan membuat sosok ini jadi to good to be true
Salah satu nilai
plus novel ini adalah adanya ilmu baru yang saya temukan. Yakni tentang pseudocysis. Kalau bukan dari novel ini,
butuh pemicu lain yang entah kapan yang membuat saya tahu tentang hal ini.
Secara
keseluruhan saya suka dengan ceritanya. Ada nilai Islami di sana namun tanpa
kesan menggurui. Sangat jarang saya temukan dalam novel yang tidak dilabeli
Islami tokohnya digambarkan melaksanakan shalat.
Cerita yang
manis Mbak Aimee Karenina meskipun juga menawarkan sensasi rasa tegang dan
penasaran.  Tetap saja manisnya hubungan Selma dan Nino tetap terasa (^_^)v

“Aku
memang bukan cermin perempuan yang taat beragama. Aku masih mengabaikan
perintah untuk menutup aurat. Tapi, apakah itu berarti kamu lebih baik
dibanding aku? Aku menjadi sungguh-sungguh ingin tahu, apakah jika seorang
berhijab lantas boleh seenaknya melontarkan perkataan yang bisa menyakiti hati
orang lain? Apakah hijab itu lantas menjadikanmu kebal dari segala dosa?” (hal.
52)
puisi yang terinspirasi novel Cinta Sehangat Pagi