Pernahkah kau berada di saat kehilangan yang terkasih?
Bukan..bukan..kekasih hati yang sering disebut pacar. Namun
yang lebih dalam dari itu yakni sahabat. Pernahkah kau merasakan kekosongan
yang dalam karena kepergian dia yang kau sebut sahabat?
Malam ini aku menjadi korbannya. Malam ini tepat setahun
Cintia pergi. Pergi ke tempat yang teknologi sehebat apa pun tak kan bisa
menjangkaunya. Ia pergi bersama ceria-ku.
“Lusi, kamu ngapain disini sendiri, nak?” mendadak Bunda
datang menyapaku. Meluruhkan hening yang tercipta di balkon rumah.
“Lusi kangen Cintia, Bunda. Lusi sedang menikmati benda
langit favorit Tia,” jelasku sambil berusaha meredam tangis yang nyaris tak
terbendung.
“Maaf ya Sayang, Bunda nggak bisa bantu apa-apa. Hanya kamu
yang bisa menghadapinya. Rasa sedih dan kehilangan itu harus kamu hadapi
sendiri,” tutur Bunda sambil mengelus lembut rambutku. “Kamu Bunda bawakan teh
manis hangat yah. Biar gak kedinginan,” tawar Bunda yang kujawab dengan
anggukan.
Aku kembali menatap langit yang saat itu tengah cerah.
Tumben. Padahal akhir-akhir ini Bandung selalu dirundung mendung dan hujan.
“Tia, kamu pernah bilang saat aku sedih cukup menatap
langit, maka aku nggak akan merasa sendirian. Tapi tetap saja, bintang paling
terang pun tak bisa mengganti hadirmu”