“Sebuah
perjalanan adalah tamasya untuk jiwa yang kehausan.” (Hal. 23)

Penulis: Novellina A.
Editor: Ruth Priscilia
Angelina
Cover: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 192
halaman
ISBN: 978-602-03-1810-3
Sejak
kecil Oliver sudah jatuh cinta pada Nefertiti yang aneh. Namun, tetangga depan
rumah sekaligus teman sekelasnya itu tiba-tiba menghilang. Oliver ditinggalkan
sebelum sempat membuat gadis itu mengingat namanya.
Sampai
ke Jerman, Oliver mencari cinta pertamanya. Hingga akhirnya mereka bertemu.
Tetapi, keadaan telah berubah. Nefertiti bukan lagi gadis yang dulu. Penari
balet itu terluka sangat dalam dan menganggap cinta sebagai rasa asing yang
terlalu mewah untuk ia miliki.
Akankah
cinta menemukan jalannya, atau Nefertiti tidak akan dapat meloloskan diri dari
masa lalunya yang begitu dingin … Sedingin kisah boneka Coppélia yang begitu
dicintai ibunya.
***

“Keharuman
dan kesunyian hujan akan menyapu sepi dan membawa pikiran ke alam rindu. Rinduk
akan rumah, tawa, pelukan dan orangtua. Rindu akan tanah air.” (Hal. 174)

Novel
ini bercerita tentang seorang gadis yang mengejar cinta ibunya. Dan seorang
laki-laki yang mengejar cinta pertamanya. Mereka melakukan pengejaran
masing-masing dan bertemu di Jerman.
Nefertiti
adalah perempuan yang sejak kecil tidak memahami bagaimana itu cinta dan kasih
sayang. Ini karena perlakuan dingin yang diterimanya dari sang ibu dan ayah.
Ibu Nefertiti adalah seorang pelukis kenamaan yang mewarisi nama besar dan
bakat ayahnya, kakek Nefertiti. Sedangkan ayah Nefertiti adalah seorang arsitek
ternama. Rumah mereka unik dan indah, namun tidak menyimpan kehangatan.
Nefertiti lebih suka menemui Mia, gadis bisu yang sepertinya mengalami
keterbelakangan mental karena secara psikologi tidak bertumbuh normal. Maka
ketika Mia meninggal, runtuhlah dunia Nefertiti. Ia tidak lagi merasa bahwa ada
orang yang akan memahaminya.
Di
sisi lain ada Oliver yang diam-diam mencintai Nefertiti. Ia pun tidak memahami
mengapa ia mencintai gadis itu. Dan bahkan tidak pernah bisa melupakan
Nefertiti yang menghilang saat mereka masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Kini
saat ia tengah menyelesaikan program doktoralnya, Oliver tetap saja tidak bisa
melupakan Nefertiti. Ia bahkan menjadi akrab dengan ibu Nefertiti yang secara
fisik memang mirip dengan gadis itu. Apakah ini obsesi? Ataukah hanya cinta
yang belum mampu dilabuhkan ataupun dilepaskan?
Sebuah
kejadian membawa Nefertiti ke rumah ibunya. Mempertemukannya dengan Oliver.
Adakah harapan atas hubungan mereka? Apakah Nefertiti yang pendiam dan
cenderung pesimis dan memilih menutup diri bisa menemukan dunia yang lebih
berwarna dan bercahaya?

“Bandara
adalah tempat di mana perpisahan lebih sering terjadi daripada pertemuan.
Tempat yang menjadi saksi berapa banyak komitmen terpatahkan, janji tak
terpenuhi, dan hati yang terluka. Di sini kesepian menjamur, terisap ke sumsum
tulang manusia.” (Hal. 49)

***

 “Memori bekerja dengan sangat unik, kan? Ada
sesuatu yang tak pernah kita lupakan meski sudah terjadi puluhan tahun lalu.
Tapi ada juga yang tidak bisa kita ingat meski baru saja terjadi.” (Hal. 86)

Bagi
yang membeli Coppélia karena penasaran dengan blurb-nya, pasti akan merasa gemas. Di blurb yang ada di sampul belakang ditulis dengan sudut pandang
orang ketiga dari sisi Oliver.  Namun
ternyata awal cerita malah dipenuhi oleh sudut pandang orang pertama dari sisi
Nefertiti. Sudut pandang yang cenderung kelam.
Hampir
sepertiga awal novel Coppélia ini menggunakan sudut pandang Nefertiti yang
sendu. Setelah itu barulah cerita berpindah ke sudut pandang orang pertama dari
sisi Oliver. Perpindahan ini dimulai dengan menarik. Tapi bisa jadi sebelum
perpindahan ini terjadi, pembaca sudah menutup buku karena bosan dengan alur
cerita dari sisi Nefertiti yang lambat dan muram.
Tapi
sebenarnya keseluruhan cerita ini menarik. Premis yang menjadi dasar cerita
yang terkait dengan kisah Coppélia sang boneka penari. Sayangnya karena alur
awalnya cukup lambat dan terlalu banyak mengangkat sisi suram Nefertiti, malah
membuat pembaca merasa gemas. Sebab lama kelamaan yang tergambarkan malah Nefertiti
yang sepertinya terlalu mengasihani diri sini. Mendramatisir keadaan.
Dalam
hal penokohan sudah sangat baik. Meskipun saat cerita dituturkan dari sisi
Oliver dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, kesan maskulin tidak
terasa. Oliver terlalu serius dan kalem. Cara bertuturnya pun sangat sopan.
Jadi, kesan maskulinnya sangat kabur. Ia terlalu “netral”.
Oiya, hanya sedikit
kesalahan penulisan yang saya temukan. Salah satunya, di halaman 121, di
paragraf ketiga, ada kesalahan penulis. Kata terakhir seharusnya ditulis,
“beliau” menjadi “belaiu”.
Secara
keseluruhan novel ini sudah sangat enak dibaca. Tokohnya sedikit sehingga mudah
dipahami dan unsur traveling dan pengetahuan tentang musik klasik dan balet
juga menjadi nilai plus bagi novel ini.
“Tidak
pernah ada saat yang tepat untuk mengabarkan berita buruk. Dan tidak ada cara
paling mudah untuk memberitahunya. Berita buruk seperti penyakit. Manusia tidak
memintanya, dia datang begitu saja.” (Hal. 125)
***

“Wanita
wajib memiliki bakat, sedang pria tidak.” (Hal. 187)
“Wanita
selalu dituntut untuk lebih rajin, lebih pintar, lebih bijaksana. Laki-laki
lebih menyukai wanita pintar, cantik, berbakat, dan perhatian. Tekanan yang
berubah menjadi seleksi alam.” (Hal. 187)