(ditulis pada 10 Januari 2013)
Hari ini cuaca Bandung sedang menjadi remaja ababil. Bagaimana tidak? Hujan deras tiba-tiba turun, namun lima menit kemudian berhenti. Hal ini membuat keputusan saya untuk keluar kost dan pergi memastikan beberapa hal untuk kegiatan Klub Buku Bandung menjadi pasang surut. Namun karena telah berjanji dengan Teh Dian yang akan menemani saya sore itu mencari sebuah alamat, akhirnya tekad pun membulat.
Jam setengah 4 sore saya keluar dari kost dan berangkat menuju simpang Dago, tempat saya dan Teh Dian berjanji bertemu. Diangkot saya bertemu salah seorang teman kuliah saya yang berasal dari Madagskar yang bernama Mia.
Kami berbincang mengenai thesis kami. Thesis saya yang mandeg dan dia yang belum kunjung bisa menyelesaikan Usulan Penelitiannya. S
esampainya di Simpang Dago, kami berpisah karena saya harus turun lebih dulu.

Tidak lama, saya dapati Teh Dian dan motornya. Segera setelah saya duduk di belakangnya, kami berbincang tentang jalur  menuju Taman Pramuka karena alamat yang akan kami cari dekat dari taman tersebut. Akhirnya setelah bertanya beberapa kali akhirnya sampailah kami di  rumah milik Pak Sudarsono Katam.
Ada yang perlu saya ceritakan dari kunjungan saya dan Teh Dian ke rumah beliau. Beliau adalah penulis buku Album Bandung Tempo Doeloe. Saya langsung jatuh suka pada buku itu. Memang daripada tulisan, buku itu jauh lebih banyak memuat gambar-gambar atau foto-foto beberapa titik di Bandung dari era awal 1900-an hingga tahun 2004 (tahun buku itu diterbitkan).
Kedatangan kami ke rumah beliau untuk menjajaki peluang menjadikan beliau nara sumber untuk bincang-bincang Klub Buku. Beliau menyanggupi dan bahkan beliau menawarkan kediaman beliau sebagai tempat berbincangnya jika jumlah pesertanya tidak lebih dari 15 orang. Ah, persetujuan beliau menerbitkan ceria di hati saya. Setelah itu kami
kemudian mengobrol tentang kota Bandung. Beliau bahkan bercerita pada Teh Dian tentang kota Cimahi karena mengetahui Teh Dian berasal dari sana. Kata beliau kota itu sangat menarik karena sejak dulu merupakan kota militer. Namun karena hingga kini kota tersebut tetap menjadi basis militer, maka upaya pengungkapan sejarah terkait bangunan-bangunan tua di kota itu menjadi sulit dilakukan. Hal ini karena pihak militer menolak dilakukan pemotretan digedung-gedung tua itu, bahkan di Rumah Sakit yang merupakan fasilitas umum.
Kemudian obrolan terus berlanjut hingga ke masalah penjajahan. Beliau kemudian berkata, kita dijajan oleh pemerintah hindia belanda itu hanya sekitar 150 tahun, 200 tahun sebelumnya itu kita dijajah oleh perusahaan swasta Belanda. VOC bukanlah bagian dari pemerintahan Belanda. VOC adalah sebuah perusahaan dagang yang berasal
dari Belanda. Kemudian akhirnya VOC bangkrut dan akhirnya oleh pemerintah Belanda pengelolaan Indonesia diambil alih. Saat itu barulah kita mulai di jajah oleh pemerintah Belanda.
 
Hm..ilmu itu menjadi membuat saya dan Teh Dian manggut-manggut. Setelah itu pembicaraan terus berlanjut ke arah pemilihan umum Presiden RI. Tentang bakal calon yang punya kans untuk menang. Kami kemudian mendapat bocoran tentang kekurangan para calon-calon tersebut. Dan akhirnya kami membahas tentang siapa Presiden yang bisa disebut paling baik kinerjanya, tentang Suharto yang pasti jadi pahlawan jika bersedia berhenti menjadi presiden setelah menjabat selama 20 tahun. Itu hanya pemikiran kami saja. Benar tidaknya kami hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi kemudian.
Catatan tambahan yang ditulis pada 21 April 2020 di tengah Covid 19
Banyak yang terjadi setelah kunjungan tersebut. Tentang kegiatan yang batal, Klub Buku Bandung yang hilang tanpa pengurus. Saya yang kemudian mengenal Komunitas Aleut dari cerita Pak Sudarsono Katam dan kemudian sempat menjadi penggiatnya selama kurang lebih 2 tahun. Saya yang kemudian pindah dari Bandung untuk tinggal di Sulawesi Barat. Dan kini saya yang rindu Bandung