Penulis: Rochiati Wiriaatmadja
Penerbit:  Depdikbud Proyek
Pembinaan Sekolah Dasar
Cetakan: 1985
Jumlah hal.:  vi + 128 halaman
ISBN: —
Jangan tanya
bagaimana saya bisa menemukan buku ini. Perlu sedikit perjuangan yang keras. Saya
bahkan baru menemukan 3 buku yang membahas tentang Dewi Sartika. Buku ini salah
satunya dan setahu say buku ini sudah tidak dicetak ulang lagi. Dan sekedar
info, sebenarnya di halaman depan buku ini tertera tulisan “Tidak Untuk
Diperdagangkan”.
Menurut saya
seharusnya buku ini dicetak kembali saja agar bisa memberi banyak manfaat bagi
generasi muda. Mereka perlu banyak tokoh idola yang bisa mereka jadikan teladan
selain para entertainer yang berseliweran di layar kaca. *mendakak terpikir,
kenapa tidak ada film atau mini seri untuk mengangkat kisah hidup para
pahlawan-pahlawan Indonesia. Jangan yang epic. Tapi yang nyata dan memang punya
peran penting untuk kemerdekaan Indonesia*
Buku ini adalah
buku biografi tentang tentang Raden Dewi Sartika. Siapa yang familiar dengan
nama ini? Ya, di saat kita SD dan belajar tentang pahlawan, maka nama beliau
akan ikut disebut secara sambil lalu oleh guru sebelum atau setelah menjelaskan
tentang kepahlawan Kartini. Ini karena Dewi Sartika pun memperjuangkan hak-hak
kaum perempuan.

Buku ini dibuka
dengan prolog kejadian pemboman pacuan kuda Tegallega. Bagi yang tidak paham,
mereka akan bingung dengan hal ini. Apa hubungannya dengan Dewi Sartika.
Kejadiannya kan terjadi pada tahun 1893. Saat itu Dewi sartika baru berusia 9
tahun. Kemudian penulis menjelaskan tentang kehidupan kaum menak priangan. Sejujurnya
saya menangkap kehalusan penuturan penulis dalam menampilkan kaum Menak. Sejujurnya
Kaum Menak adalah perpanjangan tangan pemerintah kolonial dalam mengatur rakyat
jajahannya. Maka saya secara langsung menyatakan bahwa pribumi kita sendirilah
yang menjajah pribumi lain. Keberadaan kelas-kelas dalam masyarakatlah yang
menyebabkan hal ini. Dan selain itu, kondisi inilah yang kian menghambat
berkembangnya bangsa Indonesia melawan penjajahnya.
Diceritakan
mengenai skandal politik keluarga Dewi Sartika. Dewi Sartika merupakan
keturunan menak atau priyayi. Dari garis keturunan ibunya, ia adalah cucu dari
Dalem Bintang, yakni Bupati Bandung pada tahun 1846-1874. Namun ayahnya, Raden
Somaganara, yang sempat menjabat menjadi Patih Bandung bersama dengan kakek
Dewi Sartika, R.Demang Soeriadiprdja menyusun sebuah penentangan terhadap
terpilihnya RA Martanegara sebagai Bupati Bandung menggantikan Raden Adipati
Kusumadilaga. Kejadian ini dikenal dengan Peristiwa Dinamit Bandung. Peristiwa
ini terjadi pada 17 dan 20 Juli 1893. Akhirnya karena hal ini, Somanagara
diasingkan ke Ternate dan kakek Dewi Sartika diasingkan ke Pontianak.
Saat ayahnya
diasingkan, ibu Dewi Sartika turut serta ke Ternate. Dewi Sartika dan saudara-saudaranya
dititipkan terpisah-pisah ke kerabat mereka. Dewi Sartika dititipkan pada
pamannya, Raden Demang Suriakarta Adiningrat, kakak dari ibu Dewi Sartika.
Pamannya adalah Patih Afdeling Cicalengka. Dewi Sartika tnggal disana sampai ia
berusia 18 tahun. Kehidupannya di Cicalengka cukup berat. Ia adalah anak
seorang buangan politik. Keluarganya sangat berhati-hati saat berinteraksi
dengannya karena takut dicap sebagai pemberontak. Ia juga tidak bisa
diperlakukan dengan seenaknya seperti rakyat biasa karena Dewi Sartika dari
garis keturanannya adalah seorang menak. Ini menjadi dilema tersendiri. Kondisi
ini yang kemudian menempa karakter Dewi Sartika. Bahkan diceritakan bahwa ia
dengan kepandaiannya karena sempat bersekolah di Europeesche Lagere School
(ELS) meski hanya sampai kelas 2, mengajarkan baca-tulis dan sedikit bahasa
Belanda kepada anak-anak abdi dalam yang ada di lingkungan keluarga pamannya. Dan
akhirnya setelah ibunya kembali dari Ternate ke Bandung karena kematian ayahnya
di pengasingan, Dewi Sartika pun membuka sebuah sekolah di halaman belakang
rumah ibunya.
Di Bab III buku
ini sempat disinggung kondisi pendidikan anak perempuan di Indonesia yakni
dimana pelajaran baca-tulis tidak dianggap cuku penting. Perempuan Indonesia
diajar dan diharapkan untuk tahu tugas-tugasnya dalam mengelola rumah tangga,
menerapkan tata krama, dan cara melakukan perjamuan. Akhirnya Dewi Sartika
berinisiatif membuat sekolah yang mengajarkan baca-tulis dan keterampilan agar
perempuan pribumi bisa lebih mandiri dan tidak benar-benar tergantung pada kaum
laki-laki seperti ayah, suami atau kakak laki-lakinya.
Dalam bab IV
diceritakan tentang perjuangan Dewi Sartika merintis Sakola Istri yang kemudian
berubah nama menjadi Sakola Keutamaan Istri 
dan kemudian menjadi Sekolah Raden Dewi. Banyak tantangan yang dihadapi
Dewi Sartika. Mulai dari kecurigaan orang atas apa yang sedang ia lakukan,
mengingat latar belakang keluarganya yang memiliki skandal sebagai orang-orang
yang menentang kepemimpinan Martanegara yang saat itu masih menjabat sebagai
Bupati; ada pula sikap antipati yang diterimanya dari kaum Menak yang
menganggap Dewi Sartika tidak menghormati adat karena bersedia mengajari
anak-anak perempuan dari berbagai kalangan, tidak dari kaum menak saja; hingga
dia harus menelan harga diri dan menemui RA Martanegara untuk memperoleh
dukungan agar sekolahnya bisa tetap berdiri. Perjuangan ini juga menunjukkan
keteguhan hati seorang Dewi Sartika. Ia tidak hanya berbicara tentang
pendidikan kaum perempuan, tapi melakukan perlawanan atas keberadaan
kasta-kasta dalam masyarakat tempatnya hidup. Ia menentang feodalisme tidak
hanya oleh penjajah mereka yang berbeda bangsa namun jaga kolonialisme yang
dilakukan olah orang-orang sebangsanya sendiri terhadap yang lain.
Selain itu
diceritakan tentang pilihan Dewi Sartika untuk menikah dengan R Agah
Soeriawinata yang kerap disapa Raden Agah. Raden Agah adalah seorang duda. Dan
tidak lazim saat itu perempuan menikah yang masih gadis menikah dengan lelaki
seorang duda. Selain itu, Dewi Sartika juga sangat prihatin dengan masalah
pelacuran, dan baginya untuk menghentikan pelacuran maka ia harus mendidik
perempuan pribum untuk bisa mandiri. Caranya? Dengan mengajarkan mereka keterampilan
yang bisa menghasilkan produk sehingga bisa menjadi sarana untuk memperoleh
penghidupan. Inilah yang membuat ia semakin yakin untuk melanjutkan
perjuangannya.
Dalam bab VI
kita akan menemukan bahwa banyak juga cerita sedih yang mewarnai kehidupan Dewi
Sartika. Saat 25 Juli 1939, Raden Agah meninggal secara mendadak. Kemudian pada
saat kedatangan Jepang yang menggantikan Belanda menjajah Indonesia, Sekolah
Raden Dewi diubah menjadi Sekolah Gadis No.29. Dewi Sartika menolak mengajar di
sekolah itu. Setelah itu pada tahun 1946, Dewi Sartika mengungsi ke Garut saat
terjadinya Bandung Lautan Api. Dan sejak saat itu ia tidak lagi kembali ke
Bandung. Dewi Sartika menghembuskan nafas terakhir di kota Cineam pada 11
September 1947 karena sakit yang dideritanya.
Itu sedikit yang
bisa saya bagi tentang Dewi Sartika berdasarkan buku ini.
ingin tahu lebih banyak silahkan lihat di sini