Waktu sudah mendekati akhir sore. Jingga mulai mewarnai langit yang kemudian menyebar hingga ke laut. Pemandangan di hadapanku terasa amat berharga. Dua orang anak laki-laki masih asyik bermain di tepian. Nyaring tawa mereka dibawa angin dan mengisi kekosongan. Seorang nelayan dengan sampannya melintasi lautan yang menjingga. Tanganku seketika meraih smartphone. Ingin mengabadikannya. Mengabadikan pemandangan yang nyaris perfect seperti halnya foto-foto indah para fotografer kawakan.

Namun sepenggal ingatan menghentikanku.

Sumber: pixabay.com

●●●

“Jangan. Biarkan,” sebuah suara mencegahku bersama sentuhan lembut di punggung tanganku.

“Kadang kenangan semacam ini lebih baik kita simpan di ingatan. Tidak perlu kita abadikan,” lanjutnya.

Akhirnya kuurungkan niat. Selain karena penasaran dengan tindakan sosok di sebelahku, aku juga ingin menikmati genggamannya. Utuh. Penuh. Hal yang jarang kami miliki dalam 6 bulan terakhir.
Tidak lama kemudian adzan maghrib berkumandang. Ia pun beranjak dari sisiku. Memohon pamit untuk bersujud pada Tuhannya.

“Ada masjid di seberang rumah makan ini. Aku ke sana dulu ya,” pamitnya yang hanya kujawab dengan anggukan. Aku kembali menikmati suasana di rumah makan ini. Rumah makan yang terletak di dalam lingkungan pemukiman nelayan dan persis di pinggir pantai. Suara anak-anak kecil yang lupa waktu karena asyik bermain air masih terdengar. Kulayangkan pandangan ke garis horizon. Menemukan bahwa mentari sudah menghilang. Hanya meninggalkan berkas sinar yang dalam hitungan menit ikut menghilang.

Langit menggelap. Lampu luar di rumah makan ini semakin jelas. Menyinari bagian out door. Sebuah usapan lembut di puncak kepala membuatku mendongak. Kudapati senyum menyejukkan itu. Senyum dengan sebuah lesung di sisi kiri. Mata yang menyipit.

“Kok pisang gorengnya tidak dimakan?” tanya itu hanya kujawab dengan senyum.

“Kak, kok tadi melarangku memotret senja? Kan tidak setiap hari kita menemukan senja yang seindah tadi?” akhirnya kusampaikan rasa penasaranku.

“Sadar nggak, apa yang dipandang lewat layar smartphone akan terasa berbeda saat kita tatap langsung? Kadang setelah memotret kita akan sibuk menggerutu karena hasilnya tidak seindah yang dibayangkan. Hingga moment berharga itu sudah berlalu dan tidak bisa kita nikmati lagi,” jawabannya membuatku terpaku. Tatapannya yang lurus ke mataku ikut membuatku tidak bisa berkata. Ia seolah berkata bahwa ini adalah salah satu moment berharga itu.

“Lagi pula smartphone ciptaan Allah nggak akan bisa mengalahkan kedua ciptaan Allah ini,” pungkasnya sambal menunjuk mata dan kepalanya.

●●●

Ingatan itu adalah kenangan terakhir yang kumiliki bersamanya. Ia adalah Jingga-ku. Jingga Putra Herlambang. Hubungan kami yang dulu dipisahkan oleh lautan hingga hanya dapat bertemu muka beberapa bulan sekali, kini sejak sebulan lalu berakhir. Berakhir bersama berpulangnya ia pada Tuhannya. Hubungan kami yang seolah tak memiliki masa depan karena perbedaan agama kini benar-benar berakhir. Berakhir dengan cara yang tidak pernah kami bayangkan.

“Tidak akan pernah mudah melepasmu dari ingatan, Kak. Tidak semudah menghapus foto-foto dari handphone, Kak,” bisikku pada langit jingga di hadapanku.

Kamu adalah jingga yang akan sesekali menyapa ingatanku di masa depan. Tenanglah di sana.