“Cinta? Sini kubilang, cinta itu seperti mangkuk yang bisa digunakan untuk apa saja dan diletakkan di mana saja.” (hal. 175)
Penulis: Fadhila Rahma
Penyunting: Nurjannah Melynda
Perancang Sampul: Fahmi Ilmansyah
Pemeriksa Aksara: Intan Dyah P & Tiasty
Penata Aksara: Arya Zendi
Foto Sampul: Satrio & Yudi
Penerbit: Bunyan (PT Bentang Pustaka)
Cetakan: Pertama, Februari 2014
Jumlah hal.: x + 370 halaman
ISBN: 978-602-291-008-4
***

“Aku mencintai siapa pun yang mengikatku dengan pernikahan” (hal. 148)

Setelah sekian
lama tidak membaca novel Islami, akhirnya saya tertarik membaca novel Diorama
Rasa ini. Awalnya karena sempat iseng membaca bagian awal novel ini di toko
buku. Saat itu saya melihat ada buku yang segelnya sudah dilepas entah oleh
siapa. Melihat covernya yang ternyata dibuat dua side dengan gambar seorang
perempuan berjilbab di satu sisi, dan gambar seorang pria di cover yang
lainnya.
Saya pun memulai
bacaan dari sisi laki-lakinya. Penuturan awal di buku ini menarik. Saya
kemudian kembali mengecek penulisnya, ternyata kedua sisi ini ditulis oleh
orang yang sama. Bagi saya, sebuah pencapain jika seorang perempuan berhasil
menulis dengan sudut pandang karakter tokoh laki-laki. Dengan menggunakan sudut
pandang orang pertama, saya berhasil digugah untuk penasaran pada kelanjutan
kisahnya. Akhirnya setelah sempat menyesal karena tidak segera membawa buku
tersebut ke kasir dan kepikiran oleh buku ini selama beberapa hari, akhirnya
saya berhasil memilikinya.
Saya memulai
membaca novel ini dari sisi tokoh Adrian, seorang laki-laki yang berusia 30-an
dan mapan, yang mulai memiliki keinginan untuk menikah. Ia belum menemukan sosok
yang ingin ia peristri. Namun pikiran bahwa hidupnya tidak terasa lengkap
karena belum ada seorang istri mulai sering mengganggunya. Ia pun melakukan
sebuah hal impulsif yang berujung pada perkenalannya dengan Kara. Sejak pertama
melihat Kara entah mengapa ia terdorong untuk memperhatikan perempuan itu.
Hingga akhirnya terbuka jalan baginya untuk mengenal Kara. Dari sini perjuangan Adrian
untuk mendapatkan Kara sebagai istri bisa kita ikuti.

Selama membaca
dari sisi Adrian, saya menyimpan rasa 
penasaran tentang status janda yang disandang Kara tanpa ada penjelasan
lebih jauh tentang alasan ia bercerai. Kenyataan tentang dia pernah menikah
diutarakan oleh beberapa orang serta bagaimana perceraian itu sempat membuat
Kara depresi pun diketahui oleh Adrian dari orang-orang dekat Kara. Namun saat
membaca dari sisi Adrian, tidak ada penjelasan jelas tentang hal ini.
Saat akhirnya
membaca buku ini dari sisi Kara saya pun mulai paham tentang missing piece tersebut. Tentang
alasan-alasan Kara yang tetap menjaga jarak dengan Adrian setelah Adrian
menyampaikan keinginannya untuk menikahi Kara. Serta tentang sikap Kara yang
seolah membiarkan Adrian berjuang sendirian atas hubungan mereka.
Saya bersyukur
membaca buku ini dengan memulainya dari sisi Adrian karena dari sisi ini, kita
akan tetap tertarik untuk membaca dari sisi Kara. Sedangkan saya pikir, jika
kita mulai membacanya dari sisi Kara, maka bagian Adrian akan cenderung terasa
membosankan karena ada beberapa pengulangan dan dari sisi Kara bagian tersebut
jauh dituturkan dengan lebih lengkap. Jadi saya sarankan untuk memulai membaca
buku dari sisi Adrian dulu agar kenikmatan membaca dari kedua sisi bisa terasa.
***
Membaca tentang
cinta dan tema percintaan memang terasa lebih menarik. Bahkan dalam novel
dengan lebel Islami sekalipun. Bedanya, yang diangkat bukan lagi kisah
percintaan dan kegalauan dari masa pendekatan, pacaran, dan proses menuju
pernikahan. Dalam novel Islami cerita cinta antara pria dan wanita diangkat
dari sudut pandang yang lebih serius. Tentang keputusan untuk menikah tanpa
menjalani proses pacaran demi menjaga kesucian cinta itu. Tentang keyakinan
akan jodoh. Tentang penyerahan diri pada Tuhan dengan keyakinan bahwa Dia lebih
tahu yang terbaik bagi hamba-Nya.
Kisah di dalam
novel ini pun kurang lebih seperti itu. Bagaimana ikhtiar dan akhirnya proses
tawakkal dan ikhlas yang berupaya dilakukan oleh Adrian dan Kara saat keingan
menikah itu mendapatkan tantangan. Keduanya berikhtiar, bertawakkal, dan
akhirnya berusaha ikhlas dengan cara masing-masing yang didasarkan pada pengalaman
hidup masing-masing.
Yang agak
berbeda dari novel ini adalah penggambaran sosok Kara sebagai janda di usia muda. Di
Indonesia, terutama yang hidup agak jauh dari kota, kata “janda” masih memiliki
stigma negatif. Perempuan lebih sering diposisikan sebagai pihak yang salah
karena kata itu seolah menjadi cap bahwa ia gagal mempertahankan suaminya.
Seolah itu adalah kesalahan perempuan sepenuhnya. Melalui novel ini penulis
berusaha membagi opininya bahwa persepsi masyarakat tentang hal ini perlu dibenahi.
Perempuan sebaiknya tidak lagi menjadi “tersangka utama” atas retaknya rumah tangga,
atau dianggap sebagai “ancaman” karena berstatus “janda”, Bisa jadi
perempuanlah yang menjadi korban. Karena sebenarnya jika seorang suami keukeuh ingin bercerai, maka perempuan
tidak akan bisa punya pilihan lain. Sebab yang berhak menjatuhkan talak adalah
suami dan perempuan hanya bisa menerimanya >_<
***
Nah, setelah
membaca novel ini, saya pun harus mengakui bahwa saya menikmati membaca novel
Islami. Dan saat membaca novel ini tidak muncul sedikit perasaan bahwa saya
tengah digurui, yang sejujurnya sering saya rasakan saat membaca novel Islami.
Oiya, saya pun baru menyadari bahwa novel ini tidak mengangkat Ayat atau Hadist
tertentu. Mungkin itu yang membuat kesan digurui jadi tidak terasa. Namun
ketiadaan Ayat dan Hadist bukan berarti membuat nilai-nilai Islami dalam novel
ini hilang begitu saja. Nilai-nilai Islaminya bisa kita tangkap dari perilaku
tokoh-tokohnya. Seperti sikap Kara yang berusah menjaga kehormatannya, sikap
Adrian yang berusaha berbakti pada orang tuanya, sikap Adrian sebagai suami
yang baik, serta sikap Kara yang berusaha menjadi istri yang baik. 
So, good job Mbak Fadhila Rahma atas
keberhasilannya menulis buku ini. Plot yang menarik, penuturan cerita yang
runtun dan enak dibaca, serta nilai-nilai yang berusaha dibagi dalam buku ini
berhasil membuat saya suka. Pantas jika naskah ini menjadi Pemenang Kedua Lomba Menulis “1000 Wajah Muslimah”. Ah, jadi
penasaran mencari buku yang jadi pemenang pertamanya (^_^)v4