“Memang
benar apa yang dikatakan pada politisi dan menteri-menteri perminyakan bahwa minyak
bumi telah mengentaskan banyak orang dari kemiskinan. Namun , banyak juga
orang-orang terentaskan dan lantas masuk ke dalam kemewahan yang sia-sia,
sebuah penghamburan yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah.” (hal.73)

Judul
Asli: Anna. En fabel om klodens klima og miljo
Penulis:
Jostein Gaarder
Penerjemah:
Irwan Syahrir
Penerbit:
Mizan Pustaka
Cetakan:
I, Oktober 2014
Jumlah
halaman: 245 halaman
“Aku
cuma bilang kalau aku mau dunia tempat hidupku ini seindah dunia yang Nenek
nikmati waktu seumurku. Tahu, kan kenapa? Karena itu utang kalian pada generasi
kami!”
(Hal. 50)
Kalimat
itu adalah luapan kemarahan cicit Anna yang bernama Nova. Ia tengah menggugat
generasi sebelumnya atas haknya yang hilang. Yakni hak untuk menikmati keanekaragaman
hayati serta hak untuk menikmati bumi yang nyaman untuk ditinggali. Akankah
gugatan seperti itu akan kita dengarkan kelak? Gugatan yang datang dari
generasi penerus kita. Apa yang mampu kita jawab pada mereka?
Dalam
novel karya Jostein Gaarder ini, dikisahkan tentang Anna, seorang gadis yang
tengah menanti peringatan ulang tahunnya yang ke-16. Dua hari sebelum ulang
tahunnya, Anna mengalami mimpi yang aneh. Dalam mimpinya ia hidup sebagai Nova,
cucu buyutnya, yang hidup di tahun 2028. Saat itu, ia sebagai Nova menemukan
bahwa hanya sedikit flora dan fauna yang eksis di bumi. Ini jelas berbeda jauh
dengan bumi yang dikenal oleh Anna pada tahun 2012.
Selanjutnya,
dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, Jostein Gaarder mengisahkan
tentang kondisi bumi di dua kurun waktu tersebut secara bergantian. Ia menampilkannya
sebagai dunia Anna dan dunia Nova. Dunia saat “bibit kepunahan” berbagai jenis
keanekaragaman hayati mulai muncul dan dunia saat kepunuhan itu nyata adanya.
Selain
itu, dalam novel ini Jostein Gaarder menampilkan tentang perkembangan teknologi
informasi dan transportasi. Tentang kualitas gambar dan suara yang mampu
dihasilkan oleh teknologi informasi yang persis seperti aslinya. Sayangnya, di
masa yang sama semua keindahan yang layak diabadikan telah menghilang. Sehingga
gambar-gambar tersebut kelak disebut sebagai “fosil foto”.  Istilah ini digunakan untuk menggambarkan
bahwa spesies-spesies yang punah di alam berhasil “diselamatkan” secara
optikal. Ini jelas sebuah ironi.

 ***

Kisah-kisah
yang diceritakan oleh Jostein Gaarder tentang bumi yang dihuni oleh Nova  mungkin saja terjadi. Sebab sesungguhnya,
keadaan bumi tempat kita berpijak memang tengah “kritis”. Kondisi yang kita
kenal sebagai pemanasan global semakin menampakkan efeknya. Berbagai fenomena alam
yang tidak wajar semakin banyak terjadi. Contoh termudah adalah perubahan iklim
yang terjadi.
Tulisan
Dr. Edvin Aldrian
yang diunggah di website resmi Badan Meteorologi
Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengemukakan data peningkatan suhu muka bumi
di beberapa kota besar Indonesia antara lain di Jakarta, antara 1,04 – 1,4°C/100
tahun, Cilacap antara 3,38 – 3,41°C/100 tahun, Medan antara 1,55 –1,98°C/100
tahun, Surabaya antara 1,46 – 3,29°C/100 tahun, Bau Bau hingga 3,63°C/100 tahun
dan Makassar antara 1,84 – 2,83°C/100 tahun. 
Serta data peningkatan paras muka laut tercatat diantaranya di Cilacap
1,3 mm/tahun, Belawan 7,8 mm/tahun, Jakarta 4,38 – 7,00 mm/tahun, Semarang 5,00
– 9,37 mm/tahun, Surabaya 1,00 mm/tahun, timur Sumatera 5,47 mm/tahun dan
Lampung 4,15 mm/tahun. 
Perubahan
ini jelas tidak dapat dianggap remeh sebab peningkatan suhu ini akan
mempengaruhi laju penguapan yang kemudian menyebabkan perubahan pola curah
hujan serta perubahan pola musim. Selain itu kondisi ini akan meningkatkan
potensi kekeringan di saat musim kemarau datang dan potensi banjir saat musim
penghujan.
Dalam
karya ini juga, Jostein Gaarder mengemukakan sejumlah fakta dan data serta
penjelasan ilmiah tentang hal yang tengah terjadi di muka bumi ini akibat ulah
manusia. Dengan gayanya yang khas yang juga muncul di karya-karyanya yang lain
-Dunia Sophie, Misteri Soliter, Gadis Jeruk- Jostein Gaarder mengajak
pembacanya untuk melakukan berbagai perenungan tentang makna kehadirannya di
muka bumi. Salah satunya tentang kewajiban kosmik. Kesadaran bahwa manusia
sebagai satu-satunya makhluk hidup yang memiliki kesadaran universal punya
kewajiban untuk menjaga kelestarian sumber kehidupan di planet ini. Alasannya
berusaha ia kemukakan dalam penjelasan panjang yang diakhirinya dengan sebuah
simpulan menarik yakni, “… akar asal
dan kekeluargaan kita dengan tanah jagat raya ini begitu substansial dan
mendalam”
(hal. 102)
Dealektika
yang dihadirkan oleh Jostein Gaarder tentang kesempurnaan manusia sebagai
makhluk yang hidup di muka bumi dibandingkan makhluk lain dengan kondisi
manusia yang tidak bisa hidup tanpa kehadiran makhluk lain pun menarik untuk
ditelaah. Kita mengenal rantai makanan sebagai penjelasan paling simple dari hal tesebut. Namun penulis
memilih menyebutkan tentang bakteri. Adanya kebutuhan manusia pada jenis
bakteri tertentu menjadikan bakteri memiliki arti kosmik.
Ada
hal menarik lain yang ditampilkan dalam novel ini. Ada sebuah ironi di
dalamnya. Jostein Gaarder malah melakukan hal yang dikritisi oleh tokoh
rekaannya, Jonas, dalam sebuah makalah yang ditulisnya tentang bagaimana
keikutsertaan masyarakat dalam melestarikan keanekaragaman hayati. Tokoh Jonas
menyebutkan bahwa, “tidaklah berguna
mengusik rasa bersalah tiap-tiap individu karena dia mengemban sepersemiliar
bagian dari kewajiban untuk masa depan Bumi”
.
Sedangkan buku ini dengan
sangat jelas diisi dengan sarkasme-sarkasme akan sikap tidak peduli yang telah
tumbuh dan berkembang di masyarakat. Ketidakpeduliaan atas alam dan atas
hal-hal yang tengah terjadi di sekitar kita akibat bumi yang semakin “sakit”.
Dalam pandangan kita sekarang,
tentu saja gila kalau percaya bahwa Bumi adalah pusat dari alam semesta dan
seluruh benda langit lainnya berputar mengelilingi planet kita. Namun, apakah
tidak sama gilanya hidup dengan cara seakan-akan kita memiliki beberapa bumi
untuk dihamburkan dan bukan yang satu-satunya ini yang harus kita bagi
bersama?” (hal. 159)
***
Dalam
novel Dunia Anna ini, banyak ditampilkan kutipan-kutipan berita dan koran yang
seolah-olah dibaca oleh Anna. Sayangnya sumber data-data tersebut tidak
ditampilkan dalam catatan kaki. Bahkan di akhir buku ini tidak ada daftar
pustaka yang dapat digunakan sebagai penguat gagasan atau data-data yang
disampaikan oleh Jostein Gaarder.
Namun
di luar kekurangan tersebut, sekali lagi Jostein Gaarder menampilkan kekuatan
berceritanya. Dengan menampilkan tokoh utama yang berusia masih muda, ia
menampilkan filsafat sebagai hal yang tidak sulit dipahami sebab tokoh rekaannya
tersebut mampu menampilkan pertanyaan-pertanyaan lugu yang acapkali diabaikan
oleh orang-orang dewasa. Sosok muda ini memiliki ketakutan yang tidak dimiliki
orang dewasa. Tokoh muda ini juga memiliki imajinasi yang sudah mulai memudar
dalam diri orang dewasa.
Melalui
novel Dunia Anna ini Jostein Gaarder berhasil menyajikan sebuah karya yang
sangat mendalam. Mengetengahkan fakta-fakta dan pertanyaan-pertanyaan yang
berusaha menggugah kesadaran manusia untuk mengenali dirinya sendiri dan makna
kehadirannya di muka bumi.
***
 Puisi yang terinspirasi dari buku ini kali ini agak panjang dan saya tuliskan di blog pribadi saya. Sila baca Sampaikan Maafku Pada Generasi Masa Depan