“Nak, jadi
perempuan itu tidak mudah,” ucapan itu terlontar dari bibir Mama saat kami sedang
berdua di dapur. Tangannya dengan cekatan menggoreng potongan-potongan tempe
yang kuserahkan padanya.
“Maksud Mama?”
tidak biasanya Mama berbicara seperti itu.

“Begini, kan
Mama itu ibu rumah tangga yang juga bekerja. Padahal di keluarga kita
perempuan-perempuannya sebagian besar jadi ibu rumah tangga full time. Nah, banyak yang berpikir
Mama pasti menelantarkan keluarga. Padahal Mama juga selalu berusaha mengurusi
semua keperluan kamu dan papamu dengan tangan mama sendiri. Mana mereka tahu
bahwa setiap pagi mama harus bangun pagi-pagi sekali. Memasak dan menyiapkan
bekal kalian. Menyetrika pakaian papamu dan siapkan kopinya. Hanya perkara
membersihkan rumah saja yang Mama serahkan ke Bibi. Masakan untuk makan siang
kalian sudah tinggal dihangatkan. Sepulang kerja Mama langsung siapkan makan
malam untuk kalian” lanjut Mama sambil tangannya sibuk mengaduk-aduk tempe di
wajan.
“Tapi seperti
itu pun belum cukup. Mama tidak boleh terlihat kelelahan di depan papamu.
Karena Mama tetap harus meladeni papamu dengan baik. Belum lagi kalau papamu
ada masalah di kantor atau papamu sakit. Ndak ada kompromi,” aku masih terus
terdiam mendengar penuturan Mama.
“Kita sebagai
perempuan dituntut untuk bisa jadi istri, ibu, teman, dan kekasih bagi suami. Belum
lagi kalau sudah punya anak, ada masanya kita harus jadi ibu, teman, guru,
perawat hingga penjaga bagi anak. Jadi perempuan itu ndak mudah, Nak.”
Tanya berkelebat
dibenakku. Adakah sesuatu? Adakah yang tengah merisaukan Mama? Tidak biasanya
Mama berkeluh kesah seperti ini.
“Ndak ada, apa-apa
nak. Cuma Mama pikir, kamu sudah dewasa. Jadi sebaiknya mulai mengerti dinamika
berumah tangga. Ndak mudah nak,” Mama seolah bisa membaca pikiranku.
***
Ingatan itu
kembali berkelebat di benakku. Duduk di salah satu kafe di bilangan jalan
Hertasning di kota Daeng seraya menunggu hujan reda membuat pikiranku melayang.
Kenangan dengan Mama sudah 2 tahun berlalu. Tidak lama setelah kejadian itu
Mama meninggal. Kalah oleh penyakit ginjal yang memang telah lama dideritanya.
Kini, rindu pada
Mama kian membuncah. Sebab 3 bulan lagi aku akan menyandang status sebagai
istri. Sungguh hadir Mama sangat kubutuhkan. Aku tidak mungkin mengharapkan
papa dan Rian, kakak lelakiku untuk mengajariku tentang tanggung jawab seorang
istri. Ah, mataku memburam. Bergegas kutengadahkan kepala. Mencegah bulir air
mata jatuh. 
Ku lanjutkan
kembali membaca buku bertema pernikahan yang kubeli beberapa hari lalu. Tak
kusadari hujan mereda dan mentari kembali mengintip. Di ujung langit sana
sebuah pita cantik melengkung. Mengajak senyumku terkembang dan haru kembali
menyeruak.
“Mama selalu suka
dengan pelangi. Seperti kado indah setelah kesedihan datang,”  bisik Mama saat aku menyupirinya menuju
praktek dokter November tahun lalu.
Pelangi, titip
rindu untuk Mama. Sampaikan, kenangannya akan selalu ada meski ingatanku kian
memudar. Mama, mohon restumu diijabku nanti.
Prompt #73: Pelangi. Terinspirasi oleh
Puisi Mbak Carolina dalam Senin Berpuisi.
Puisinya sebagai berikut:
Carolina Ratri
Hei Pelangi, mau ke manakah siang begini?
Mengapa kau tak tanya kabarku hari ini?
Apakah aku sebegitu tak menarik untukmu?
Meski hanya untuk sebuah sapamu.
Jangan keburu pergi, temani dulu aku di sini.
Aku ingin lihat ibuku menurunimu sebagai bidadari.