“Breastfeeding
is a gift that lasts a lifetima.”  – Author
Unknown (Hal. 6)


Penulis:
Syafrina Siregar
Cover:
Orkha Creative
Penerbit:
Gramedia Pustaka Utama
Cetakan:
Pertama, 2014
Jumlah
hal.: 208 halaman
ISBN:
978-602-03-1078-7
Bagi
Mia Ramsy, menyusui adalah salah satu ekspresi cinta terbesar seorang ibu bagi
anaknya. Tapi bagi Ryan Subagyo, setiap mendengar kata “menyusui”, yang muncul
di benaknya hanyalah bayangan payudara wanita.

Namun, kegigihan Mia memperjuangkan hak setiap bayi untuk mendapatkan ASI
eksklusif lewat Indonesian Breastfeeding Mothers—organisasi nirlaba tempat
gadis itu mengabdi—justru semakin membuat Ryan jatuh cinta padanya.

Ryan semakin yakin Mia berbeda dari gadis-gadis yang selama ini ia temui.
Kekayaan, kesuksesan, dan ketampanannya memang membuat Ryan dikejar banyak
gadis, tetapi belum ada yang mampu menggetarkan hatinya. Hanya Mia yang mampu
membuat Ryan untuk pertama kalinya memikirkan pernikahan.

Namun, apakah lamaran Ryan akan diterima jika gadis itu mengetahui siapa Ryan
Subagyo sebenarnya?

***
Friends
Don’t Kiss adalah novel Metropop Gramedia yang agak berbeda dengan novel
Metropop lainnnya. Ini karena kali ini, cerita tetap dikemas dengan gaya ala
Metropop namun dengan muatan cerita yang sangat informatif. Di novel
ini,Syafrina Siregar mencoba memberikan informasi tentang ASI. Yup, ASI?!
Gimana caranya? Sedangkan biasanya novel-novel Metropop bercerita tentang kehidupan
metropolitan dengan tokoh (biasanya perempuan) yang single & mandiri, gaya
hidup urban dan (lagi-lagi biasanya) didera masalah percintaan.
Lantas
bagaimana menghubungkan dengan ASI? Di sinilah menariknya. Tokoh utama, Mia,
memang digambarkan sebagai perempuan single yang sangat concern  tentang ASI. Oiya,
dengan satu kebiasaan unik yakni suka menabrak mobil orang di tempat parkir.

Cerita
dibuka dengan gambaran kegiatan Mia sebagai seorang konselor laktasi. Setelah
itu setting berubah. Mia harus bergegas menemani adiknya, Lia, yang akan segera
melahirkan. Sayangnya, karena tidak sengaja menabrak sebuah mobil di tempat
parkir, Mia tidak bisa mendampingi Lia pasca
melahirkan untuk melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Ini membuat Lia marah
kepada Mia.
Konflik
ini kemudian menjadi bagian penting dalam menceritakan suka duka dan dinamika
kehidupan Mia sebagai seorang konselor laktasi yang juga aktivis yang
memperjuangkan pemberian ASI eksklusif. Selain itu kecelakaan yang terjadi di
parkiran saat itu ternyata juga menjadi bagian dari kisah penting dalam hidup
Mia. Mobil yang ditabrak oleh Mia adalah milik Ryan yang belakangan diketahui sebagai
Direktur PT Prima Gold, salah satu merek susu formula terkemuka.
Hubungan
percintaan Mia dan Ryan pun terancam oleh idealisme Mia. Mia menganggap susu
formula sebagai musuh ASI. Ini 
membuatnya merasa bahwa SEHARUSNYA ia menempatkan Ryan sebagai musuh.
Tapi sanggupkah Mia? Sebab ia telah jatuh hati pada pria itu jauh sebelum ia
tahu pekerjaan Ryan.
***
Setelah
lama tidak membaca buku Metropop saya tidak menyangka bahwa ide-ide yang
disampaikan melalui sebuah novel dengan genre ini bisa sangat luas. Apa
hubungannya kehidupan urban dengan ASI? Apa novel ini benar-benar bisa membawa
“warna” yang selama ini selalu melekat dengan brand Metropop yang dihadirkan
Gramedia?
Namun
ternyata saya jadi sadar bahwa kesadaran tentang pentingnya ASI kian meluas di tanah
air. Di sejumlah kota besar di Indonesia muncul asosiasi-asosiasi yang
bertujuan untuk menjadi sebuah bentuk dukungan bagi ibu-ibu yang tengah
menyusui bayi mereka. Dalam novel ini, asosiasi tersebut diwakilkan oleh IBM
(Indonesian Breastfeeding Mothers) tempat Mia berkecimpung.
Mendapati
bahwa buku ini sarat dengan informasi tentang ASI namun tetap bisa menikmati
cerita yang ditawarkan dalam novel ini. Cerita tentang perasaan Mia yang
menjadi konselor laktasi namun masih berstatus single serta cerita tentang
hubungan percintaannya dengan Ryan tetap menarik diikuti. Penggambaran emosi
dan perasaan Mia dibuat sangat baik. Ketertarikan Mia pada Ryan pun diceritakan
dengan smooth, perlahan tapi pasti.
Sayangnya,
dalam menampilkan informasi tentang ASI dan hal-hal terkait lainnya, masih
kurang manis. Kesan mengguruinya masih terasa dan lebih mirip tempelan. Pembaca
bisa jadi tergoda untuk meng-skip bacaanya.
Syukurlah ini berhasil disiasati dengan menampilkan bahwa Mia sebagai konselor
sempat khilaf dengan bersikap menggurui bukannya mendampingi kliennya. Padahal
ia sendiri belum pernah merasakan secara langsung beratnya menjadi seorang ibu.
Namun
secara keseluruhan karya ini tetap menyenangkan untuk diikuti tanpa kehilangan
jati dirinya sebagai sebuah novel dengan genre Metropop.
***
 Puisi yang terinspirasi oleh cerita di Friends Don’t Kiss
(posted at my Instagram)

Jika hati & logika tengah berseteru,
adakah jalan tengah untuk menyatu?
Mungkin itu waktunya bagimu untuk membuktikan cintamu
Ataukah waktunya bagiku untuk membunuh logika & memenangkan hatiku?
Bekasi, 16-01-2015