“Kalau dia memang jenius, dia pasti sanggup menghadapi tekanan.” (hal. 211)
Diterjemahkan dari Andersen’s Fairy Tales
Penulis: H.C. Andersen
Penerjemah: Ambhita Dhyaningrum
Penyunting: Jia Effendie
Pewajah Isi: Hadi Mahfudin
Penerbit: Atria
Cetakan: II, Juli 2011
Jumlah hal.: 267 halaman
ISBN: 978-979-024-462-7
Seorang gadis miskin berjalan
telanjang kaki sambil menjajakan korek
apinya di malam  tahun baru yang beku dan
bersalju.
Dia menyalakan sebatang korek api dan sebuah
perapian muncul di hadapannya. Apinya yang merah
kebiruan menghangatkan kakinya yang kebas. Kemudian
korek itu padam, perapian menghilang …
GADIS KOREK API adalah salah satu dari
sepuluh dongeng
H.C. Andersen dalam buku ini. Penulis asal Denmark
 ini meramu berbagai dongeng yang telah
diceritakan
dalam berbagai versi kepada jutaan anak-anak
di seluruh belahan dunia.
Dongeng-dongengnya begitu akrab,
bahkan bagi orang-orang yang
tidak pernah mengenal
namanya.
***
Sejujurnya saya
mengenal beberapa dongeng-dongeng Andersen. Seperti cerita Gadis Korek Api,
Kisah Cinta Putri Duyung Kecil, Burung Bulbul, dan Thumbelina. Tapi saat itu
saya bahkan tidak mengenal nama besar H.C Andersen. Saya hanya tahu itu adalah
sebuah dongeng. Tapi sumber atau asalnya dari negeri mana saya tidak tahu.
Membaca buku ini
membuat saya mengenal lebih banyak karya H.C Andersen. Ada sebuah dongeng
panjang yang bak cerita dongeng seribu satu malam. Judulnya dalam buku ini
adalah Kisah Rembulan. Dalam judul aslinya adalah “What the Moon Saw”. Dibuku ini
diceritakan 33 kisah pendek yang dilihat oleh Rembulan dan kemudian ia kisahkan
pada seorang seniman. Seniman tersebut kemudian melukis sebuah sketsa dan
mencatat penuturan Sang Rembulan setiap malamnya. Di dalam kisah itu, Sang
Rembulan bercerita tentang berbagai hal yang ia lihat di berbagai dongen. Tema kejadiannya
pun beragam. Sayangnya, saya terkadang diserga bosan saat membacanya. 
Dalam
buku ini, yang benar-benar menarik untuk diikuti adalah cerita tentang Gadis
Korek Api dan cerita lucu dan cukup menyindir berjudul “Baju Baru Kaisar”. Cerita ini mengingatkan kita tentang kebodohan manusia yang demi gengsi
biasa saja berbohong dan akhirnya membuatnya nampak bodoh. Kekonyolan yang
dilakukan oleh Kaisar, dan dua orang mentrinya karena dibodohi oleh dua orang
penipu, akhirnya harus membuat Kaisar menahan malu. 
Buku ini tidak
memiliki ilustrasi kecuali di halaman awal cerita. Sebuah ilustrasi sebesar
setengah halaman buku yang dibawahnya tertulis judul cerita dan kemudian diikuti
oleh paragraf awal cerita. Secara tampilan, buku ini tidak akan begitu menarik
untuk anak-anak. Buku ini seolah diperuntukkan untuk remaja atau orang dewasa
yang ingin bernostalgia dengan kisah-kisah masa kecil.
Oiya, diksi
dalam buku ini pun bagus. Meski ia sebuah dongen tua, namun pilihan kata yang
digunakan benar-benar menarik. Penerjemah sukses membuat buku dongeng ini dari
segi bahasa tetap punya nilai yang menarik.
***
 Review ini saya ikutkan dalam event Baca Bareng BBI 2014