“Beberapa
orang berhenti menyapa bukan karena perasaannya berhenti;
melainkan
karena telah mencapai titik kesadaran untuk berhenti disakiti.” (Hal. 155)


Penulis: Fiersa Besari
Penyunting: Juliagar
R.N
Penyunting akhir: Agus
Wahadyo
Foto: Fiersa Besari
Penata letak: Didit
Sasono
Desain cover: Budi
Setiawan
Penerbit: Mediakita
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.:  iv + 212 halaman
ISBN: 978-979-794-525-1
Pada
sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan
satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya.
Pada
sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan
kehilangan pegangan
Pada
sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat
mundur pada titik-titik kenangan tertentu.
Maka,
ikhlaskan saja kalau begitu.
Karena
sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan
pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan.
***

“Hatimu
bukan untuk kucuri, melainkan untuk kuminta baik-baik.” (Hal. 16)

Garis
Waktu, adalah sebuah surat yang ditulis oleh tokoh “aku” untuk sosok “kamu”.
Kisah dimulai dengan perkenalan “aku” dan “kamu” dan ditutup dengan akhir kisah
“aku” dan “kamu”.
Dalam
buku ini, pembaca akan disuguhi sebuah kontemplasi panjang dari sosok “aku”. Ia
dengan semua pemikiran mendalamnya. Semua luapan isi kepala dan hatinya
tentang banyak hal, terutama tentang “kamu” yang ada di hidupnya.
Jangan
berharap menemukan dialog panjang seperti dalam cerpen atau novel. Sebab buku
ini diisi oleh narasi dari sosok “aku”. Tapi bukan berarti tidak ada cerita
yang disampaikan. Kisah percintaan “aku” dan “kamu” di dalam buku ini manis
untuk diikuti. Meski pada akhirnya akan ada hati yang luka dan patah. Namun bukankah
itu risiko jatuh cinta?
Nah,
selamat menemukan sepenggal kisahmu dalam buku Garis Waktu ini. Sebab meski
buku ini bercerita tentang kehidupan sosok “aku” namun ia menuturkan banyak hal
yang mungkin saja serupa dengan salah satu cerita dalam hidupmu.

“Jangan
memikat jika kau tak berniat mengikat.” (Hal. 19)

***

“Kata
mereka, hidup ini harus seperti membaca buku. Kita takkan bisa lanjut ke bab
berikutnya jika terus terpaku di bab sebelumnya. (Hal. 23)

Melihat
sampul depan “Garis Waktu” karya Fiersa Besari ini, saya dibuat jatuh suka
karena konsepnya yang simple dan clean. Belum lagi tagline yang tertera
di sampul, “sebuah perjalanan menghapus luka”. Ini karena saya selalu
percaya bahwa luka, kesedihan, patah hati dan emosi semacam itu selalu mampu
memberi “rasa” dalam sebuah karya.
Saya
lebih suka menyebut buku ini sebagai prosa. Ia layaknya sebuah novel, namun
tidak benar-benar menuturkan kisah secara utuh. Penulis mampu menampilkan
kekuatan diksi dalam karyanya. Bahwa cerita yang minim dialog ternyata mampu
padat makna dan mengajak pembaca untuk membangun sendiri adegan demi adegan
berdasarkan apa yang dituangkan penulis.
Belum
lagi adanya gambar hitam putih yang mengawali setiap chapter dalam buku ini. Kadang gambarnya terlalu gelap, kadang
terlalu blur, namun bisa jadi itu untuk memperkuat pesan tentang emosi yang
ingin disampaikan penulis kepada pembacanya.
Saya
sudah mengikuti tulisan-tulisan Fiersa Besari di media sosial sejak lama. Dan
ternyata salah satu tulisan yang paling saya sukai ikut di dalam buku ini. Saat
membaca halaman 64 di buku ini, saya merasakan kesenangan tersendiri. Seperti menyapa
kawan lama. Dan ternyata saya tetap menyukai tulisan ini seperti dulu saat saya
membacanya untuk pertama kali.
Secara
keseluruhan, Garis Waktu adalah tulisan yang rapi dengan diksi yang pas dan
sarat makna. Hanya saja secara emosi, saya belum memiliki ikatan apapun dengan
sosok “aku” sebagai narator dalam tulisan ini. Saya tahu dia patah hati, tapi
saya tidak ikut merasakan sakitnya dan tidak cukup peduli untuk memaksa diri
merasakan sakitnya. Rasanya lebih mirip seperti mendengar seorang teman curhat
tentang hatinya yang luka dan patah. Hal ini juga yang membuat saya lebih suka
menyebut karya ini sebagai prosa. Bukan novel apalagi roman meski ia tetap
menyampaikan cerita.
Selain
itu di chapter “Dan Kau Pun Porak Poranda” pada
halaman 147, saya merasakan kejanggalan. Bukankah kisah ini tentang tokoh “aku”
yang bercerita tentang “kamu” dan hubungannya dengan “kamu”. Lantas kenapa
setelah mereka diceritakan berpisah, “aku” bisa bercerita tentang “kamu”? Apa
karena men-stalking akun atau
kehidupan “kamu”, makanya “aku” tahu? Tapi ini agak berbeda dengan tipe tulisan
sebelumnya yang lebih detail. Jika memang ia melakukan sesuatu dan menjadi stalker, biasanya “aku” akan menarasikan
tindakannya. Kenapa kali ini tidak?
Baiklah,
itu saja review singkat dari saya untuk Garis Batas ini. Melalui karya ini
Fiersa Besari kembali membuktikan kemampuannya dalam merangkai kata. Tidak semata
merangkai kalimat singkat. Namun ia mampu menulis sebuah karya utuh setebal 212
halaman.
Pssst.. buku ini quoteable sekali. Di tangah jalan saya menyerah menempelkan post it
untuk menandai kalimat-kalimat yang “kena di hati”. Sebab hampir setiap halaman
punya kalimat yang bermakna.
“Rasa
yang tidak terbatas takkan mempermasalahkan ketika tidak berbalas.” (Hal. 37)
***
Kumpulan Quote dalam Garis Waktu
“Lambat
laun kusadari, beberapa rindu memang harus sembunyi-sembunyi. Bukan untuk
disampaikan, hanya untuk dikirim lewat doa. Beberapa rasa memang harus
dibiarkan menjadi rahasia. Bukan untuk diutarakan, hanya untuk disyukuri
keberadannya” (Hal. 40)
“Ketahuilah,
beberapa tangan melepaskan genggamannya saat hidupmu bertambah sulit agar
tanganmu kosong dan bisa digenggam oleh seseorang yang takkan pernah
melepaskanmu.” (Hal. 53)
“Setelah
dikhianati, kita tidak mungkin bisa seperti dulu. Walau perasaan tak berubah,
tapi peranan harus berubah.” (Hal. 154)